Asean Tak akan Kirim Pemantau ke Pemilu Junta

Selasa, 28 Okt 2025, 02:30 WIB

KUALA LUMPUR – Blok Asean tidak akan mengirimkan pengamat ke pemilu Myanmar pada bulan Desember. Hal itu diutarakan narasumber diplomatik pada Senin (27/10) yang merupakan sebuah kemunduran bagi upaya junta untuk mendapatkan legitimasi internasional.

Pimpinan junta Min Aung Hlaing menganggap pemilu 28 Desember sebagai langkah menuju rekonsiliasi dalam perang saudara yang dipicu oleh kudeta tahun 2021.

Ket. Foto: Sekretaris Tetap Kementerian Luar Negeri Myanmar, Hau Khan Sum, saat menghadiri KTT Asean-PBB di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Senin (27/10). Narasumber diplomat menyatakan bahwa blok Asean tidak akan mengirimkan pengamat ke pemilu Myanmar pada bulan Desember mendatang. — Sumber: AFP/Chalinee Thirasupa

Ketua Asean, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, pada Senin pun mengulangi seruannya untuk gencatan senjata segera di Myanmar.

Para pemimpin 11 negara anggota Asean pada pertemuan di Malaysia menyuarakan kekhawatiran mendalam atas konflik tersebut dan memperingatkan kurangnya kemajuan substantif menuju perdamaian, dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Minggu (26/10) malam.

“Penghentian kekerasan dan dialog politik yang inklusif harus mendahului pemilu,” ungkap pernyataan.

“Artinya, tidak ada pengamat Asean, tetapi negara-negara Asean bebas mengirimkan pengamat secara bilateral,” ungkap seorang diplomat kepada AFP yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Narasumber diplomat kedua pun mengkonfirmasi tidak ada konsensus di antara para anggota untuk mengerahkan misi di bawah bendera Asean.

“Tidak mengirimkan pengamat Asean tentu akan menjadi pukulan bagi aspirasi legitimasi Myanmar karena Tidak akan ada bukti kredibel yang menunjukkan bahwa pemilu yang bebas dan adil telah diselenggarakan,” kata Mustafa Izzuddin, analis hubungan internasional di konsultan Solaris Strategies Singapura.

Human Rights Watch mengecam pemungutan suara tersebut sebagai sandiwara, sementara Amnesty International menuduh junta militer melakukan taktik represif dan menangkap siapa pun yang mengkritik pemungutan suara tersebut.

Pemungutan suara pun tidak akan dilakukan di sebagian besar wilayah negara yang dikuasai oleh gerilyawan prodemokrasi dan tentara etnis minoritas yang memerangi rezim militer.

Komisioner Uni Eropa, Kajsa Ollongren, juga mengesampingkan pengiriman pengamat, menyebut pemilu yang direncanakan itu tidak bebas dan tidak adil. “Berdasarkan kriteria ini, kami tidak akan mengirim pemantau ke sesuatu yang tidak kami akui sebagai pemilu,” ujar Ollongren kepada AFP.

Pelapor khusus PBB, Tom Andrews, sebelumnya mendesak Asean untuk tidak melegitimasi sandiwara junta dengan mengirimkan pemantau dan memperingatkan bahwa mengakui pemilu yang curang akan membuat Myanmar mundur dan membela hal yang tidak dapat dipertahankan.

Seruan PBB

Sementara itu Sekjen PBB, Antonio Guterres, pada Senin mengatakan bahwa para penguasa militer Myanmar harus mengakhiri aksi kekerasan keji yang menimpa rakyat sejak 2021 dan menemukan jalan yang kredibel untuk kembali ke pemerintahan sipil.

Berbicara dalam konferensi pers di sela-sela KTT Asean di Kuala Lumpur, Guterres mengatakan pengambilalihan kekuasaan oleh militer tidak hanya menimbulkan bencana demi bencana di Myanmar, tetapi juga mengancam stabilitas regional.

"Saya tegaskan kembali seruan saya untuk segera mengakhiri kekerasan, komitmen sejati untuk dialog inklusif, dan jalur kredibel untuk kembali ke pemerintahan sipil," ujar Guterres. “Jalan ke depan harus mengarah pada pemulihan lembaga-lembaga demokrasi yang berlandaskan pada supremasi hukum dan hak asasi manusia,” imbuh dia.

Ketika ditanya tentang pemilu, ia berkata: “Saya rasa tidak ada seorangpun yang percaya bahwa pemilu itu akan bebas dan adil.”

Ia juga memberikan dukungannya terhadap rencana perdamaian yang disusun pada tahun 2021 oleh Asean untuk mengakhiri permusuhan dan memulai dialog, yang sebagian besar diabaikan oleh pemerintahan militer.  

“Sudah saatnya membuka jalur kemanusiaan, mengakhiri kekerasan, dan memfasilitasi solusi politik yang komprehensif apalagi rakyat Myanmar mengandalkan dukungan kolektif kita,” ucap dia.  AFP/ST/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Tragedi Shalat Jumat di Nigeria: Masjid Diserbu Geng Motor, 60 Jemaah Raib Diculik

Modus Baru, Penipu di Kamboja Jual Jasa 'Anti-Banned' untuk Kuras Data Medsos

Bangladesh Punya Presiden Baru Setelah Pemilu Sengit 35 Tahun Terakhir

Simbol Hubungan Akrab, Sultan Brunei-Anwar Ibrahim Gelar Pertemuan di Istana Nurul Iman

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.