Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tak Begitu Saja Merestui, Purbaya ke Luhut: Oke Suntik INA, Tapi Dana Harus Mengalir ke Sektor Produktif!

📅 Jumat, 17 Okt 2025, 19:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tak Begitu Saja Merestui, Purbaya ke Luhut: Oke Suntik INA, Tapi Dana Harus Mengalir ke Sektor Produktif! Doc: Istimewa.
Ket. Ilustrasi - Indonesia Investment Authority (INA).

JAKARTA – Sikap Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa yang tak langsung menyetujui usulan Ketua Dewan Energi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan untuk menginjeksi likuiditas ke Indonesia Investment Authority (INA) menunjukkan kehati-hatian yang wajar dalam pengelolaan dana publik.

Ini bukan sekadar urusan ‘setuju atau tidak setuju,’ tapi tentang memastikan uang negara benar-benar bekerja di tempat yang tepat — bukan sekadar parkir di aset finansial.

Pandangan Menkeu yang hanya bersedia menyuntikkan dana ke INA jika diarahkan ke sektor produktif menggambarkan fokus pemerintah pada pertumbuhan ekonomi riil.

Dana yang masuk ke INA diharapkan mendorong investasi langsung — misalnya di infrastruktur, energi hijau, atau industri strategis — yang dapat menciptakan lapangan kerja dan memperkuat fondasi ekonomi, bukan sekadar memberi keuntungan jangka pendek dari instrumen obligasi.

Langkah ini juga mencerminkan upaya menjaga kredibilitas fiskal dan tata kelola investasi negara agar tetap transparan dan berdampak.

Dengan kata lain, Purbaya ingin memastikan setiap rupiah yang digelontorkan bukan hanya berputar di meja keuangan, tapi betul-betul menetes ke ekonomi riil.

Purbaya menyambut baik usulan Luhut agar pemerintah menempatkan dana ke Indonesia Investment Authority (INA). Namun, dengan catatan bahwa dana tersebut benar-benar diarahkan ke sektor riil yang produktif, bukan ke obligasi.

“Saya enggak mau ngasih uang ke sana (INA), uangnya dibelikan bond lagi. Buat apa? Mending saya kurangin bond saya," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Jumat (17/10).

Bendahara Negara itu mengaku, sebelumnya juga pernah mengkritik Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) karena terlalu menggantungkan investasi pada instrumen obligasi yang dinilai kurang produktif.

Menurutnya, dengan kapasitas kelembagaan INA dan Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF), seharusnya kedua lembaga tersebut bisa menyerap dana investasi dari luar negeri dan menyalurkannya ke sektor yang lebih produktif.

"INA kan harusnya mengundang investor asing, kan sovereign wealth fund bukan domestik saja," ujarnya.

"Kalau dia butuh duit beneran ekspansi kebetulan ya udah kita dukung, tapi kalau masih banyak uangnya di bond, di obligasi, ngapain kita dukung?" tambahnya.

Sebelumnya, Luhut menyarankan pemerintah mengucurkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp50 triliun setiap tahun ke INA. Dana tersebut dinilai berpotensi besar menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional bersama BPI Danantara.

"Sovereign wealth fund kita ini, kalau kita tarik investasi Rp50 triliun ke situ tiap tahun, dari dana yang masih sisa di Bank Indonesia (BI), kita bisa leverage Rp1.000 triliun dalam lima tahun ke depan,” ujar Luhut dalam kegiatan '1 Tahun Prabowo–Gibran: Optimism 8 Persen Economic Growth'

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Memahami Kaum Furry, Orang-orang yang Mengidentifikasi Dirinya sebagai Binatang
    Nah thats right thank you ~
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Mesir Coba Redam Titik Didih Konflik di Afrika

49 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Mesir Coba Redam Titik Didi...

Gila, 350 Rekor Lahir di Asian Games Jepang

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Gila, 350 Rekor Lahir di As...
Advertisement
Gila, 350 Rekor Lahir di Asian Games Jepang

Gila, 350 Rekor Lahir di Asian Games Jepang

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.