Terancam Dibunuh, Presiden Madagaskar Berlindung di 'Tempat Aman'

Selasa, 14 Okt 2025, 12:22 WIB

ANTANANARIVO - Presiden Madagaskar yang tengah berjuang, Andry Rajoelina, mengatakan pada hari Senin (13/10), ia berlindung di "tempat aman" setelah adanya upaya pembunuhan terhadap dirinya. Ia menyerukan agar konstitusi dihormati setelah didesak untuk mengundurkan diri.

Pidato yang tertunda dua kali itu menandai pidato publik pertamanya sejak unit tentara pemberontak mendukung aksi protes antipemerintah yang diikuti oleh berita bahwa ia telah meninggalkan negara itu di lepas pantai timur Afrika. 

Ket. Foto: Presiden Andry Rajoelina berpidato pada upacara kenegaraan, 2 September 2025, di Antananarivo, Madagaskar. — Sumber: AP

"Sejak 25 September, telah terjadi upaya pembunuhan dan kudeta terhadap saya. Sekelompok personel militer dan politisi berencana membunuh saya," kata pemimpin berusia 51 tahun itu dalam pidato langsung. 

"Saya terpaksa mencari tempat aman untuk melindungi hidup saya," katanya, tanpa mengungkapkan lokasinya.

Rajoelina, mantan wali kota yang berkuasa melalui kudeta, pada hari Senin menyerukan agar konstitusi dihormati guna menyelesaikan krisis politik yang semakin dalam.  

"Hanya ada satu cara untuk menyelesaikan masalah ini, yaitu menghormati konstitusi yang berlaku di negara ini," katanya. 

Radio France Internationale mengatakan Rajoelina meninggalkan Madagaskar dengan pesawat militer Prancis pada akhir pekan tetapi pejabat Prancis tidak segera menanggapi permintaan konfirmasi AFP.

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menolak mengonfirmasi hal ini.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pada hari Senin di Mesir menyatakan keprihatinan serius atas situasi di Madagaskar, namun ia menolak untuk mengonfirmasi spekulasi bahwa pemimpin pulau di Samudra Hindia itu telah dievakuasi oleh mantan penguasa kolonial Prancis.

"Saya tidak akan mengonfirmasi apa pun hari ini," kata Macron kepada wartawan di Mesir. "Saya hanya ingin menyampaikan kekhawatiran kami yang mendalam."

Madagaskar diguncang oleh aksi protes mematikan yang awalnya difokuskan pada pemadaman listrik dan krisis air, yang kemudian membesar menjadi gerakan antipemerintah yang lebih luas yang menyerukan agar Presiden Andry Rajoelina mengundurkan diri.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.