Modernisasi Pangan Dimulai! BRIN Percepat Penerapan Iradiasi untuk Perkuat Ekspor dan Ketahanan Nasional
Selasa, 14 Okt 2025, 20:20 WIBYOGYAKARTA â Implementasi teknologi iradiasi menjadi salah satu terobosan penting dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
Melalui proses penyinaran dengan dosis tertentu, teknologi ini mampu memperpanjang masa simpan produk pertanian, membunuh mikroorganisme penyebab pembusukan, serta menjaga kualitas nutrisi tanpa menggunakan bahan kimia tambahan.
Penerapan iradiasi tidak hanya meningkatkan keamanan pangan, tetapi juga membantu pelaku usaha agribisnis dalam memperluas jangkauan ekspor karena memenuhi standar sanitasi internasional.
Namun, tantangannya terletak pada aspek biaya investasi, infrastruktur fasilitas iradiasi yang masih terbatas, dan perlunya edukasi publik agar tidak muncul persepsi keliru tentang keamanan produk hasil iradiasi.
Jika dikelola dengan strategi yang tepat, teknologi ini berpotensi menjadi kunci modernisasi rantai pasok pangan dan memperkuat daya saing komoditas lokal di pasar global.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat implementasi teknologi iradiasi untuk mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia.
"Iradiasi pangan telah terbukti aman dan efektif dalam menjaga mutu serta memperpanjang masa simpan produk," ujar Kepala Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi BRIN Prof. Irawan Sugoro dalam keterangannya di Yogyakarta, Selasa (14/10).
Irawan menjelaskan teknologi iradiasi pangan merupakan proses penyinaran bahan pangan menggunakan radiasi pengion seperti sinar gamma, elektron, atau sinar X untuk menonaktifkan mikroba dan hama tanpa menjadikan produk bersifat radioaktif.
Proses itu bersifat 'non-termal', sehingga kualitas, rasa dan kandungan gizi pangan tetap terjaga.
Berbeda dengan metode pengawetan berbasis bahan kimia atau panas, menurut Irawan, iradiasi bekerja dengan memutus DNA mikroorganisme dan serangga hama pada tingkat seluler.
âTeknologi nuklir sering kali dipersepsikan negatif, padahal manfaatnya sangat luas, mulai dari kesehatan, pertanian, hingga pangan," ujar Irawan.
Untuk mendukung percepatan penerapan teknologi itu, Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN menggelar diskusi kelompok terpumpun (FGD) sekaligus melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) bersama sejumlah mitra strategis di Yogyakarta, Senin (13/10).
Mitra yang terlibat antara lain Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan CV Mitra Turindo.
BRIN juga memperkenalkan inisiatif Platform Kolaborasi Riset-Industri Iradiasi Pangan Nasional yang akan menjadi wadah sinergi lintas lembaga riset, universitas, industri dan regulator.
Peneliti BRIN Murni Indarwatmi memastikan teknologi iradiasi telah diakui oleh World Health Organization (WHO), Food and Agriculture Organization (FAO), dan International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai cara yang aman, efektif, dan ramah lingkungan untuk menjaga mutu serta memperpanjang masa simpan pangan.
"Iradiasi pangan terbukti efektif, aman, dan aplikatif. Melalui kolaborasi lintas sektor, teknologi ini menjadi solusi strategis untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia," ujar Murni.
- BRIN
- iradiasi
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Sektor Pertanian Sumbang 14,35 Persen PDB Nasional, Tetap Jadi Penggerak Utama Ekonomi
-
Peneliti BRIN Ungkap Tantangan Implementasi AI pada Sektor Kesehatan
-
Langit Depok Bikin Heboh, Benda Bercahaya Biru Diduga UFO, BRIN Buka Fakta Mengejutkan
-
Pelaku Seni Difasilitasi Pemkab Bantul untuk Berekspresi Melalui Festival Budaya
-
Sabalenka Perpanjang Rekor Tie-Break, Tundukkan Fernandez
-
ASN di Aceh Diduga Terafiliasi NII, Wamenag Minta Hati-hati Menyikapi, Tak Boleh Gegabah Menyebut Teroris
-
Kereta Ekonomi Kerakyatan Jadi Primadona Mudik 2026, Okupansi Tembus 58 Persen
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.