Modernisasi Pangan Dimulai! BRIN Percepat Penerapan Iradiasi untuk Perkuat Ekspor dan Ketahanan Nasional

Selasa, 14 Okt 2025, 20:20 WIB

YOGYAKARTA – Implementasi teknologi iradiasi menjadi salah satu terobosan penting dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

Melalui proses penyinaran dengan dosis tertentu, teknologi ini mampu memperpanjang masa simpan produk pertanian, membunuh mikroorganisme penyebab pembusukan, serta menjaga kualitas nutrisi tanpa menggunakan bahan kimia tambahan.

Ket. Foto: Kelompok Riset Radiasi dan Dekontaminasi Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi BRIN di Jakarta, Rabu (25/10/2023), menyatakan teknologi iradiasi gamma bisa mengawetkan makanan hingga dua tahun. — Sumber: ANTARA/ Muzdaffar Fauzan.

Penerapan iradiasi tidak hanya meningkatkan keamanan pangan, tetapi juga membantu pelaku usaha agribisnis dalam memperluas jangkauan ekspor karena memenuhi standar sanitasi internasional.

Namun, tantangannya terletak pada aspek biaya investasi, infrastruktur fasilitas iradiasi yang masih terbatas, dan perlunya edukasi publik agar tidak muncul persepsi keliru tentang keamanan produk hasil iradiasi.

Jika dikelola dengan strategi yang tepat, teknologi ini berpotensi menjadi kunci modernisasi rantai pasok pangan dan memperkuat daya saing komoditas lokal di pasar global.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat implementasi teknologi iradiasi untuk mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia.

"Iradiasi pangan telah terbukti aman dan efektif dalam menjaga mutu serta memperpanjang masa simpan produk," ujar Kepala Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi BRIN Prof. Irawan Sugoro dalam keterangannya di Yogyakarta, Selasa (14/10).

Irawan menjelaskan teknologi iradiasi pangan merupakan proses penyinaran bahan pangan menggunakan radiasi pengion seperti sinar gamma, elektron, atau sinar X untuk menonaktifkan mikroba dan hama tanpa menjadikan produk bersifat radioaktif.

Proses itu bersifat 'non-termal', sehingga kualitas, rasa dan kandungan gizi pangan tetap terjaga.

Berbeda dengan metode pengawetan berbasis bahan kimia atau panas, menurut Irawan, iradiasi bekerja dengan memutus DNA mikroorganisme dan serangga hama pada tingkat seluler.

“Teknologi nuklir sering kali dipersepsikan negatif, padahal manfaatnya sangat luas, mulai dari kesehatan, pertanian, hingga pangan," ujar Irawan.

Untuk mendukung percepatan penerapan teknologi itu, Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN menggelar diskusi kelompok terpumpun (FGD) sekaligus melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) bersama sejumlah mitra strategis di Yogyakarta, Senin (13/10).

Mitra yang terlibat antara lain Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan CV Mitra Turindo.

BRIN juga memperkenalkan inisiatif Platform Kolaborasi Riset-Industri Iradiasi Pangan Nasional yang akan menjadi wadah sinergi lintas lembaga riset, universitas, industri dan regulator.

Peneliti BRIN Murni Indarwatmi memastikan teknologi iradiasi telah diakui oleh World Health Organization (WHO), Food and Agriculture Organization (FAO), dan International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai cara yang aman, efektif, dan ramah lingkungan untuk menjaga mutu serta memperpanjang masa simpan pangan.

"Iradiasi pangan terbukti efektif, aman, dan aplikatif. Melalui kolaborasi lintas sektor, teknologi ini menjadi solusi strategis untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia," ujar Murni.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.