Wali Kota: Bandung Harus Taat Tata Ruang Demi Kota Berkelanjutan
Senin, 29 Sep 2025, 14:25 WIBBANDUNG - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan pentingnya kepatuhan pada tata kelola (compliance) untuk memastikan pembangunan Kota Bandung selaras dengan konsep ruang yang telah ditetapkan.
Hal itu diungkapkan Farhan saat menjadi pembicara utama dalam forum Architecture Without Walls (AWW) 2025 yang digelar Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat di Laswi Heritage, Minggu (28/9) malam.
Dalam paparannya yang bertajuk âPengelolaan Penataan Ruang yang Berkelanjutanâ, Farhan menyampaikan, Bandung telah memiliki delapan Sub Wilayah Kota (SWK) sebagai panduan pengembangan ruang. Namun, menurut dia, implementasi di lapangan kerap belum sepenuhnya konsisten.
âKita punya konsep yang bagus di atas kertas, tapi apakah kita sudah setia menerapkannya di lapangan? Jangan sampai semua wilayah berubah jadi kawasan ruko tanpa arah,â kata Wali Kota Farhan.
Ia mencontohkan beberapa SWK, seperti Tegallega yang seharusnya menjadi simpul perdagangan dan jasa, namun justru muncul pembangunan taman bertema dinosaurus yang tidak sesuai rencana ruang.
âSebagai warga asli Tegallega, saya pun tidak tahu mengapa harus ada dinosaurus di sana. Kita kehilangan cerita besar kawasan itu,â ujar dia.
Ia juga menyinggung Transit Oriented Development (TOD) untuk menghidupkan kembali simpul-simpul pergerakan kota, serta menyayangkan hilangnya sejumlah bangunan ikonik Gedung Premier di Cihampelas.
âKita sering terjebak dalam glory of the past. Bandung dikenal sebagai galeri arsitektur, tapi kita harus berani membangun ikon baru yang visioner dan berkualitas,â kata dia.
Wali Kota Farhan juga mengajak para arsitek untuk turut serta menjaga bangunan heritage kota, seperti Gedung Indonesia Menggugat, Rumah Inggit Garnasih, hingga Aula Barat ITB.
Di hadapan para arsitek, Wali Kota Farhan menyebut, pembangunan kota hijau dan ramah lingkungan bukan sekadar jargon. Ia menegaskan bahwa kunci keberhasilan terletak pada kepatuhan tata kelola.
âVisi apa pun tak akan berhasil tanpa kepatuhan. Saya belajar dari Lee Kuan Yew: kunci sukses Singapura adalah compliance, dimulai dari pemimpinnya sendiri,â ungkap dia.
Ia juga memaparkan kelanjutan dua program unggulan kota, yaitu Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) untuk pengelolaan sampah dan Buruan Sae (Urban Farming) yang terbukti membantu kestabilan harga cabai dan bawang merah sebagai komoditas inflasi psikologis.
Sebagai penutup, Wali Kota Farhan menuturkan, Bandung harus menjadi âlaboratorium desain kotaâ yang memadukan kreativitas, sejarah, dan tata kelola yang konsisten.
âSaya berharap Bandung bisa melahirkan benchmark arsitektur baru yang membuat orang berkata: âInilah galeri arsitektur Indonesiaâ, bukan hanya 50 tahun yang lalu, tapi juga untuk 50 tahun ke depan,â ungkap dia.
Acara AWW 2025 dihadiri ratusan arsitek, akademisi, dan pegiat tata kota yang berlangsung 25-28 September 2025. ils/I-1
- Tata Ruang
- Wali Kota Bandung Muhammad Farhan
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
BMKG Imbau Petani di Indramayu untuk Bersiap Antisipasi Dampak Kemarau Kering
-
Kepri Raih Penghargaan Nasional, Dapat Insentif Rp3 Miliar untuk Penanganan Kemiskinan dan Stunting
-
Menhub Dudy Purwagandhi Turun Tangan, Evakuasi Maut Bekasi Timur Dipercepat, KNKT Mulai Investigasi
-
E-Katalog Lewat, Pemkab Kudus Dorong OPD Belanja di Toko Daring, UMKM Siap Banjir Order?
-
KRL vs Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur: 4 Tewas, 5 Penumpang Masih Terjepit
-
Luis Enrique Tabuh Genderang Perang: Akui Bayern Konsisten, Tapi Tegaskan Skuad PSG Tak Terkalahkan
-
Sultan Instruksikan Penutupan Daycare Ilegal demi Perlindungan Anak di DIY
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.