Rupiah Melemah 1,28% Sepekan Ini, Pekan Berat Mata Uang Garuda: Tak Kuasa Lawan Arus Global

Jumat, 26 Sep 2025, 18:48 WIB

JAKARTA – Sepanjang periode 22–26 September 2025, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 211 poin atau sekitar 1,28 persen.

Pelemahan ini menandakan tekanan eksternal masih kuat, terutama dari ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed yang berpotensi tetap tinggi lebih lama (higher for longer), sehingga mendorong penguatan dolar secara global.

Ket. Foto: Ilustrasi - Petugas bank menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar AS. — Sumber: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja

Selain itu, ketidakpastian ekonomi Tiongkok dan ketegangan geopolitik turut menekan sentimen di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari dalam negeri, rupiah terimbas oleh kekhawatiran defisit transaksi berjalan serta kebutuhan impor energi yang meningkat menjelang akhir kuartal.

Kombinasi faktor tersebut membuat permintaan dolar AS lebih dominan dibanding suplai.

Sebagai catatan, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Jumat (26/9) sore, menguat sebesar 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp16.738 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.749 per dolar AS.

Sementara itu, pada akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 0,55% secara harian alias 90 basis poinke level Rp16.527.

Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva mengatakan, penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipicu aksi teknikal pasar.

“Belum ada info publik mengonfirmasi apa faktor spesifik mendorong rupiah menguat penutupan hari ini. Meskipun demikian, penguatan tipis ini bisa dipicu aksi teknikal pasar (ambil untung atas dolar yang sebelumnya menguat), serta sinyal kesiapan BI untuk intervensi yang mungkin meredam pelemahan lebih lanjut,” ujarnya di Jakarta.

Menurut Taufan, kurs rupiah cenderung masih tertekan seiring penguatan dolar AS di pasar global.

Dolar sendiri menguat sejak rilis data ekonomi AS yang relatif solid, yakni indikator sektor perumahan AS melampaui ekspektasi pada Agustus 2025.

Penjualan rumah baru naik menjadi 800 ribu dari 664 ribu dan izin mendirikan bangunan meningkat menjadi 1,33 juta dari 1,31 juta, yang berarti menunjukkan permintaan konsumen yang kuat.

Hal tersebut dianggap memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga The Fed akan bertahan tinggi lebih lama.

Hari ini, pasar disebut juga menantikan rilis data inflasi AS, yaitu Personal Consumption Expenditures (PCE) Index, yang menjadi acuan penting bagi kebijakan The Fed.

Antisipasi terhadap data itu membuat permintaan terhadap dolar tetap kuat, sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah yang masih rentan melemah.

“Dalam kondisi ini, rupiah berpotensi menguji level psikologis Rp17 ribu per dolar AS dalam waktu dekat,” ucap Taufan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.