Pemkab Demak Galakkan Gropyokan Tikus Serempak, Warga Diimbau Hindari Jebakan Listrik

Kamis, 25 Sep 2025, 13:00 WIB

Pemerintah Kabupaten Demak, Jawa Tengah kembali menggalakkan gropoyokan (penangkapan) tikus secara serempak untuk mencegah terjadinya serangan hama pengerat batang setiap musim tanam, menyusul adanya warga yang meninggal akibat tersengat listrik pada jebakan tikus.

"Kami sudah berkoordinasi dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL) untuk melarang petani menggunakan perangkap tikus dengan dialiri listrik sejak Desember 2024. Sebagai gantinya banyak alternatif, salah satunya gropyokan tikus," kata Bupati Demak Eisti'anah didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Agus Herawan saat menyaksikan gropyokan tikus para petani di Desa Mulyorejo, Kecamatan Demak, Kamis.

Ket. Foto: Gropyokan (penangkapan) tikus para petani di Desa Mulyorejo, Kecamatan Demak, Jawa Tengah, Kamis (25/9/2025). — Sumber: Antara Foto

Melalui gropyokan bersama, dia berharap, bisa mengamankan seluruh sawah petani dari serangan tikus, karena menggunakan perangkap yang dialiri listrik membahayakan jiwa dan bisa berdampak hukum.

Untuk itu, kata dia, pihaknya melarang keras menggunakan perangkap tikus yang dialiri listrik, karena berbahaya dan sudah beberapa kali menimbulkan kecelakaan.

"Sebagai gantinya, pembasmian dilakukan dengan cara tradisional, seperti gropyokan atau pembongkaran sarang tikus bersama-sama. Cara ini dianggap lebih efektif, karena dalam satu sarang bisa langsung ditangkap banyak tikus sekaligus," ujarnya.

Sementara penggunaan racun tikus, kata dia, kurang dianjurkan, sebab hasilnya terbatas dan berisiko menimbulkan dampak lain bagi lingkungan. Melalui kegiatan ini, diharapkan populasi tikus dapat ditekan, sehingga tidak lagi merugikan hasil panen petani.

"Program pembasmian hama tikus secara alami ini juga akan terus disosialisasikan kepada kelompok tani maupun desa agar menjadi upaya bersama dalam menjaga ketahanan pangan dan hasil pertanian masyarakat," ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak Agus Herawan menambahkan kasus meninggalnya dua orang karena tersengat listrik yang dijadikan perangkap tikus tidak terulang, karena bisa diganti dengan gropyokan.

Untuk menggalakkan kembali gropyokan, kata dia, membutuhkan dukungan para petani, karena tidak bisa dilaksanakan sendiri, melainkan harus bersamaan dengan petani lainnya.

Selain itu, kata dia, upaya lain juga bisa dilakukan dengan menggunakan rumah burung hantu (rubuha) sebagai musuh alami.

Menurut dia, pemanfaatan rubuha juga cukup efektif dalam membasmi hama, sehingga petani bisa mengombinasikan dengan berbagai upaya.

Dalam rangka memperbanyak rubuha, kata dia, Bank Indonesia (BI) juga memberikan bantuan lewat program tanggung jawab sosial atau Corporate Sosial Responsibility (CSR) sebanyak 90 buah rubuha.

"Kami juga akan mengajukan bantuan kepada PT Pupuk Indonesia, sehingga solusi menghadapi hama tikus tidak lagi menggunakan perangkap tikus dialiri listrik," ujarnya.

Dengan adanya berbagai upaya tersebut, diharapkan hasil panen padi setiap musim tanam lebih baik.

Nur Hadi, salah seorang petani mengakui lebih menyukai gropyokan yang dilakukan sebelum masa tanam dibandingkan dengan perangkap tikus yang dialiri listrik.

"Saat bibit tanaman padi ditanam, ada yang memakai racun tikus ketika masih ada serangan."

  • Gropyokan Tikus

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Tim Koran Jakarta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.