53 Negara Raih Medali Kejuaraan Dunia Atletik Tokyo

Rabu, 24 Sep 2025, 01:03 WIB

TOKYO — Kejuaraan Dunia Atletik edisi ke-20 di Tokyo mencatatkan sejarah baru. Sebanyak 53 negara berhasil masuk ke tabel perolehan medali. Ini jumlah terbanyak sepanjang sejarah ajang yang resmi berakhir pada hari Minggu (21/9).

Catatan tersebut melampaui rekor sebelumnya, yakni 46 negara, yang tercipta di Osaka 2007 dan disamai di Budapest pada tahun 2023. Lebih istimewa, tiga negara kecil, Samoa, Saint Lucia, dan Uruguay, untuk pertama kalinya dalam sejarah berhasil meraih medali di panggung dunia.

Ket. Foto: kejuaraan dunia atletik — Sumber: ist

Kejuaraan tahun ini juga melahirkan satu rekor dunia baru. Bintang lompat galah asal Swedia, Mondo Duplantis, kembali memecahkan rekornya sendiri dengan lompatan 6,30 meter. Itu menjadi ke-14 kali atlet 24 tahun tersebut mencatatkan rekor dunia. Ini semakin mengukuhkan statusnya sebagai raja lompat galah.

Dari nomor lari, sprinter Amerika Serikat Melissa Jefferson-Wooden menorehkan sensasi dengan meraih “treble sprint”, emas di nomor 100 meter, 200 meter, dan estafet 4x100 meter. Sedangkan dua atlet lain, pelari jarak jauh Kenya Beatrice Chebet serta pejalan cepat asal Spanyol Maria Perez, masing-masing menyabet dua medali emas dari nomor individu.

Ketua World Athletics, Sebastian Coe, memuji atmosfer kejuaraan yang disebutnya sebagai pesta olahraga tak terlupakan. “Apa yang kita saksikan selama sembilan hari di Tokyo adalah perayaan luar biasa dari semangat manusia dalam olahraga. Tokyo telah menjadi panggung bagi penampilan-penampilan paling istimewa dalam sejarah atletik,” ujar Coe.

Antusias publik Jepang juga tercermin dari jumlah penonton. Tercatat 619.288 orang hadir di Stadion Nasional Tokyo sepanjang sembilan hari kejuaraan. Angka ini terasa spesial karena empat tahun sebelumnya, Olimpiade Tokyo 2020 di venue yang sama berlangsung tanpa penonton akibat pandemi Covid-19.

Ketua Panitia Lokal, Mitsugi Ogata, menyebut atmosfer stadion tak pernah sepi. “Selama sembilan hari ini, begitu banyak momen tak terlupakan tercipta. Stadion benar-benar hidup tanpa henti,” ujarnya. Ini menjadi tantangan Indonesia. Mestinya ke depan Indonesia juga mendorong atlet atletik agar mampu berbicara juga di panggung sebesar ini. Namun tentu saja tantangannya amatlah berat. Harus ada persiapan panjang. Mampukah?

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.