Terbongkar Profesor R Dalang Tutorial Bom Molotov di Grup WhatsApp Demo Ricuh Jakarta, Anak Jadi Korban Hasutan!

Rabu, 03 Sep 2025, 12:05 WIB

JAKARTA - Jakarta kembali diguncang dengan fakta mengejutkan. Polda Metro Jaya berhasil membongkar keberadaan sebuah grup WhatsApp yang menjadi pusat provokasi demo ricuh sejak 25 hingga 29 Agustus 2025. 

Lebih mencengangkan lagi, di dalam grup tersebut beredar tutorial lengkap cara membuat bom molotov, lengkap dengan bahan-bahan dan komposisinya!

Ket. Foto: Ilustrasi demo — Sumber: Antara

Kanit 2 Subdit Kamneg Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Kompol Gilang Prasetya, mengungkapkan bahwa grup tersebut bukan sekadar tempat diskusi biasa. 

“Di dalamnya dibagikan cara merakit bom molotov, dari bahan, komposisi, hingga jenis-jenis barang yang bisa digunakan. Saat ini, semua masih dalam pendalaman kami,” tegasnya pada Rabu, 3 September 2025.

Lebih mengerikan lagi, grup tersebut ternyata juga menyebarkan video provokatif yang mendorong anak-anak untuk ikut serta dalam aksi anarkis melawan aparat. 

Ada akun-akun yang menjanjikan perlindungan bagi mereka yang berani turun ke lapangan, seolah-olah anak-anak bisa menjadi prajurit kecil di garis depan kerusuhan.

Dari penyelidikan lebih jauh, muncullah sosok misterius yang dijuluki Profesor R. 

Tersangka berinisial RAP ini diduga sebagai otak intelektual yang mengajarkan cara membuat bom molotov sekaligus mengatur logistik titik distribusinya. 

“Profesor R bertugas mengoordinasikan bahan dan lokasi penyimpanan molotov. Dialah yang menjadi dalang teknis dalam aksi tersebut,” ungkap Gilang.

Tak berhenti sampai di situ, Polda Metro Jaya juga mengungkap adanya keterkaitan dengan jaringan akun media sosial tertentu. 

Direktur Lokataru Foundation, Delpedro Marhaen Rizmansyah (DMR), bersama lima orang lainnya resmi ditetapkan sebagai tersangka. 

Polisi menduga akun Lokataru Foundation berkolaborasi dengan Blok Politik Pelajar (BPP), sebuah akun yang disebut-sebut aktif menyebarkan ajakan rusuh serta panduan merakit bom molotov.

Hasil penyidikan menunjukkan bahwa BPP memiliki koneksi dengan akun-akun ekstrem yang gencar menghasut masyarakat untuk melakukan perusakan dan serangan terhadap aparat.

Hingga kini, lebih dari 1.000 orang telah diamankan dalam rentetan aksi anarkis tersebut, termasuk 202 anak-anak yang terjerumus ke dalam propaganda berbahaya di Instagram dan TikTok. 

Fakta ini membuka mata bahwa aksi ricuh bukanlah spontanitas massa, melainkan hasil provokasi terstruktur dan sistematis.

Kasus ini menjadi bukti nyata betapa bahayanya media sosial yang dijadikan senjata untuk menyebarkan kebencian dan hasutan. 

Jadi, siapa lagi sosok di balik layar selain Profesor R? Dan seberapa luas jaringan provokator ini sebenarnya?

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.