KontraS: 20 Orang Hilang Setelah Gelombang Aksi Demontrasi di Sejumlah Daerah

Selasa, 02 Sep 2025, 13:54 WIB

JAKARTA - Setidaknya 20 orang hilang setelah gelombang aksi demonstrasi di sejumlah daerah di Indonesia yang dipicu kenaikan tunjangan DPR, menurut pernyataan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Selasa (2/9).

Setidaknya enam orang tewas sejak aksi demonstrasi mengguncang Indonesia minggu lalu, diperparah dengan tersebarnya rekaman tewasnya seorang pengemudi ojek online yang tertabrak kendaraan Brimob.

Ket. Foto: Seorang pengunjuk rasa berjalan sambil membawa bendera Merah Putih di depan markas polisi yang dibakar dan dijarah. — Sumber: AFP

"Hingga 1 September, terdapat 23 laporan orang hilang. Setelah proses pencarian dan verifikasi, 20 orang hilang masih belum ditemukan," demikian pernyataan KontraS.

Organisasi non-pemerintah itu mengatakan ke-20 orang tersebut dilaporkan hilang di Bandung, Depok, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara.

Satu insiden terjadi di "lokasi yang tidak diketahui", katanya.

Polisi telah menangkap 1.240 orang di Jakarta sejak 25 Agustus, kata Kapoda Metro Jaya Asep Edi Suheri kepada wartawan pada hari Senin (1/9) yang dikutip Antara.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Ade Ary Syam Indradi pada Selasa membenarkan penangkapan aktivis Delpedro Marhaen, direktur LSM Lokataru Foundation.

Dia ditahan "atas dugaan melakukan hasutan provokatif untuk melakukan tindakan anarkis", kata Ade dalam komentar yang disiarkan Kompas TV.

Kerusuhan terjadi di sejumlah kota minggu lalu, memaksa Presiden Prabowo Subianto untuk mengubah haluan terkait tunjangan anggota parlemen.

Aksi protes diperkirakan akan terjadi pada hari Selasa (2/9) di luar Gedung DPR di Jakarta oleh koalisi kelompok perempuan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Senin menyerukan penyelidikan terhadap dugaan penggunaan kekuatan yang tidak proporsional dalam menanggapi unjuk rasa.

"Kami memantau dengan saksama serangkaian kekerasan di Indonesia dalam konteks protes nasional atas tunjangan parlemen, langkah-langkah penghematan, dan dugaan penggunaan kekuatan yang tidak perlu atau tidak proporsional oleh pasukan keamanan," kata juru bicara Kantor Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia PBB, Ravina Shamdasani.

Bentrokan di Dekat Kampus

Militer dikerahkan di seluruh ibu kota Jakarta pada hari Senin ketika ratusan orang berkumpul lagi di luar parlemen dan bentrokan dilaporkan terjadi di beberapa kota lain.

Di Bandung, para pengunjuk rasa melemparkan bom molotov ke gedung DPRD, sebelum polisi menembakkan gas air mata semalaman ke arah "tersangka... anarkis" yang memblokir jalan.

Petugas bentrok dengan pengunjuk rasa yang mereka tuduh mencoba menarik mereka ke kampus mahasiswa di Universitas Islam Bandung (Unisba) dan "memicu konflik", kata Hendra Rochman, Kabid Humas Polda Jawa Barat dalam sebuah pernyataan Selasa. 

Di media sosial, beberapa warganet menuduh polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet ke kampus dan menyerbunya.

"Petugas menjaga jarak sekitar 200 meter dari kampus dan tidak ada tembakan yang diarahkan ke kampus," kata Hendra.

Pihak universitas dalam konferensi pers membantah mahasiswanya memicu kerusuhan.

Ribuan mahasiswa lainnya berunjuk rasa di Palembang dan ratusan lainnya secara terpisah berdemo di Banjarmasin, Yogyakarta, dan Makassar.

Di Gorontalo, pengunjuk rasa bentrok dengan polisi yang merespons dengan gas air mata dan meriam air.

Wakil Direktur Human Rights Watch Asia, Meenakshi Ganguly, mengatakan pasukan keamanan "bertindak tidak bertanggung jawab dengan memperlakukan protes tersebut sebagai tindakan pengkhianatan atau terorisme" dan menyerukan penyelidikan terhadap petugas yang terlibat dalam kekerasan.

Untuk mengantisipasi kerusuhan lebih lanjut, TikTok pada hari Sabtu menangguhkan fitur siaran langsungnya selama "beberapa hari" di Indonesia.

  • Aksi Demonstrasi

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.