• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Trauma akibat Demonstrasi,...

Trauma akibat Demonstrasi, Ini Saran Psikiater untuk Mengatasinya

Senin, 01 Sep 2025, 16:35 WIB

DENPASAR - Psikiater dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Bali dr Made Wedastra Sp.KJ menganjurkan lima teknik untuk mengatasi trauma yang disebabkan oleh demonstrasi yang berujung kericuhan. Teknik itu diharapkan bisa tetap meningkatkan kualitas hidup anda.

“Demonstrasi bisa menyebabkan gangguan atau perubahan psikologis pada orang yang terlibat di dalamnya misal melihat kekerasan, pemukulan, pembunuhan, pembakaran,” kata dia di Denpasar, Bali, Senin (1/9).

Ket. Foto: Aksi unjuk rasa yang merebak di Tanah Air dalam sepekan terakhir. — Sumber: antara foto

Dia menyebut lima teknik itu, pertama, teknik grounding cepat yakni mengalihkan perhatian dengan merangsang panca indra ketika merasa tidak enak atau sesak saat melihat unjuk rasa.

Caranya, dengan teknik 5-4-3-2-1, yaitu menyebutkan lima benda yang terlihat, menyebutkan empat benda yang bisa disentuh di sekitar, kemudian tiga suara yang bisa didengar, dua aroma yang bisa tercium, dan satu aroma yang bisa dirasakan mulut seperti rasa air minum atau makanan.

Teknik kedua, dengan relaksasi pernafasan dalam, dengan teknik 4-7-8, yaitu menarik nafas empat detik, menahannya tujuh detik, dan mengembuskan nafas perlahan delapan detik dan kegiatan itu diulangi tiga hingga lima kali.

“Tujuannya untuk mengurangi ketegangan otak dan relaksasi saraf sehingga tidak tegang dan rasa khawatir dan cemas berkurang,” katanya.

Teknik ketiga, yaitu dengan mengurangi paparan informasi kemudian alihkan kepada kegiatan yang menyenangkan dan menenangkan.

Teknik keempat adalah fokus pada hal yang bisa dikendalikan, misalnya mengendalikan pikiran, sikap dan perilaku.

Caranya, kata dia, dengan mengatakan kalimat positif kepada diri seperti “Saya mampu melewati kondisi ini dengan baik”, “Saya orang kuat” dan kalimat positif lainnya.

Apabila trauma sering berubah menjadi mimpi karena perasaan tidak nyaman dan terbawa sampai tidur, ia menganjurkan, perlu dilakukan teknik terakhir agar stres atau trauma yang dialami tidak terbawa sampai tidur.

Teknik kelima itu, yakni dengan melakukan peregangan sederhana sebelum tidur, mandi air hangat atau bisa menambahkan aromaterapi di ruang tidur, dapat juga melakukan relaksasi nafas sebelum tidur, membuat jurnal atau buku harian sehingga masalah personal yang tidak bisa diceritakan pun, dapat dituangkan dalam jurnal.

"Doa sebelum tidur juga merupakan cara atau ritual untuk menenangkan diri sebelum tidur. Teknik itu bisa dipilih salah satu sesuai kondisi dan keadaan saat itu, kalau dikombinasi juga bisa. Alangkah bagusnya jika semua teknik bisa diterapkan,” ucapnya.

Wedastra juga menambahkan orang yang menjadi korban seperti korban penjarahan, rumahnya yang terkena dampak, atau orang yang kehilangan orang terdekat akibat demonstrasi bisa membuat masalah berkembang menjadi depresi.

Ia menjelaskan kehilangan yang berat dan tidak mampu ditoleransi, menimbulkan gejala seperti perasaan sedih berkepanjangan minimal dua minggu berturut-turut disertai perasaan pesimis, harga diri yang berkurang.

Selain itu, tidak minat melakukan sesuatu, mudah lelah, gangguan makan bisa berkurang atau meningkat, adanya gangguan tidur, dan paling parah adalah adanya pikiran bunuh diri.

“Jika sudah memiliki gejala yang disebutkan itu lebih baik konsultasi ke profesional terkait seperti psikolog atau psikiater,” ucapnya.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.