September Jadi Musim Emas, Purwakarta Panen Raya Padi

Senin, 01 Sep 2025, 11:15 WIB

PURWAKARTA - Menghadapi musim panen padi, terdapat sejumlah langkah strategis yang perlu dilakukan agar hasil panen tidak hanya melimpah, tetapi juga memberikan manfaat optimal bagi petani dan stabilitas pangan nasional.

Pertama, pemerintah dan stakeholder terkait perlu memastikan ketersediaan sarana pascapanen seperti gudang, pengering, dan alat panen mekanis untuk meminimalkan kehilangan hasil (losses) akibat keterbatasan fasilitas.

Ket. Foto: Ilustrasi - Panen padi. — Sumber: ANTARA/Ali Khumaini.

Tanpa penanganan yang baik, surplus panen justru bisa menimbulkan kerugian bagi petani karena penurunan kualitas dan harga jual.

Kedua, strategi pengelolaan distribusi menjadi krusial.

Perlu ada integrasi antara Bulog, pemerintah daerah, dan pelaku usaha agar hasil panen dapat terserap dengan harga yang wajar. 

Stabilisasi harga di tingkat petani akan menjaga pendapatan mereka sekaligus melindungi konsumen dari lonjakan harga di masa paceklik.

Ketiga, akses pembiayaan dan perlindungan harga, misalnya melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau penjaminan harga pembelian pemerintah (HPP), harus diperkuat agar petani tidak terjebak dalam praktik tengkulak.

Kebijakan ini bisa diimbangi dengan pemberdayaan koperasi tani dan BUMDes untuk memperkuat posisi tawar petani.

Keempat, aspek logistik dan rantai pasok perlu diperhatikan, termasuk perbaikan jalan desa, transportasi, serta digitalisasi pemasaran hasil panen.

Dengan demikian, produk padi tidak hanya berputar di pasar lokal tetapi juga bisa menjangkau pasar lebih luas.

Dengan langkah terpadu antara peningkatan sarana pascapanen, penguatan distribusi, stabilisasi harga, dan pemberdayaan petani, musim panen padi dapat menjadi momentum penting untuk memperkokoh ketahanan pangan sekaligus menyejahterakan petani.

Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat memprediksi puncak panen raya padi musim tanam kemarau di wilayah Purwakarta akan berlangsung pada pekan kedua September 2025.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Purwakarta, Hadianto Purnama, di Purwakarta, Senin (1/9), mengatakan meski produksi padi sudah mengalami surplus, tapi panen padi masih berlangsung. Bahkan pada pekan kedua September ini diprediksi puncak panen raya.

Ia menyampaikan, sesuai dengan data yang diperoleh, hingga Agustus 2025 produksi padi di Purwakarta sudah mencapai 170 ribu ton.

Menurut dia, pencapaian produksi padi itu cukup bagus, sehingga bisa dipastikan bahwa pada tahun ini produksi padi di Purwakarta mengalami surplus.

Disebutkan, realisasi capaian produksi padi di Purwakarta yang telah mencapai sekitar 170 ribu ton juga sudah jauh melebihi target yang telah ditetapkan.

Pada 2025 produksi padi di Purwakarta sebelumnya ditargetkan mencapai 142.110 ton padi atau gabah kering giling. Sementara realisasinya hingga kini sudah menembus angka 170 ribu ton.

Produksi padi tersebut dihasilkan dari luas areal persawahan seluas 1.970 hektare, yang tersebar di sejumlah kecamatan sekitar Purwakarta.

"Produksi padi surplus karena areal tanam yang meningkat. Kami juga bersama Kementerian Pertanian terus memantau agar produksi padi terus optimal. Selain itu juga karena dilakukan pemanfaatan teknologi pertanian terkini," katanya.

Terkait dengan pemanfaatan teknologi pertanian terkini, Pemerintah Kabupaten Purwakarta menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari hulu hingga hilir ke para petani.

Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein mengatakan, sekitar sepekan lalu pihaknya telah menyalurkan alat panen modern jenis combine harvester kepada para petani di daerahnya.

Ia menyebutkan, penggunaan alat panen tersebut cukup bagus, karena mampu memangkas biaya panen hingga 40 persen, sekaligus menghapus peluh petani dengan meringankan beban kerja secara signifikan. 

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.