Awas Bahaya Obesitas! Pahami Apa Itu Indeks Massa Tubuh dan Lemak Jahat yang Menjadi Ciri-cirinya
Minggu, 24 Agu 2025, 10:40 WIBJAKARTA - Wakil Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia dr. Maya Surjadjaja mengatakan kurangnya pemahaman masyarakat mengenai makna obesitas menjadi tantangan tersendiri dalam implementasi Panduan Nasional Pelayanan Kesehatan (PNPK) untuk obesitas.
âKita sendiri mungkin nggak yakin bahwa kita ini obesitas. Kita sendiri nggak ngerti, sebetulnya obesitas itu yang (berat badan) seperti apa, sih?" kata Maya dalam diskusi media mengenai obesitas di Jakarta, Sabtu.
PDGKI menerbitkan PNPK untuk obesitas yang disahkan oleh Menteri Kesehatan pada 30 Mei 2025.
Maya, yang praktik sebagai dokter spesialis gizi klinik di Rumah Sakit TNI AL Dr. Mintohardjo, mengatakan orang Asia memiliki ciri tubuh yang berbeda sehingga masyarakat yang tinggal di Indonesia harus mengetahui indeks massa tubuh (IMT) yang sesuai dengan kriteria ideal.
Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) adalah ukuran status gizi seseorang dihitung dengan embagi berat badan dalam kilogram (kg) dengan kuadrat tinggi badan dalam meter IMT membantu mengidentifikasi apakah seseorang memiliki berat badan kurang, normal, berlebih, atau obesitas, yang dapat menunjukkan risiko kesehatan tertentu.
- Kurang dari 18,5: Berat badan kurang
- 18,5 â 24,9: Berat badan normal
- 25 â 29,9: Kelebihan berat badan
- 30 atau lebih: Obesitas
Sementara lemak yang ada di perut ke bawah merupakan lemak jahat yang merupakan ciri obesitas, kata Maya. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 prevalensi obesitas sentral (lingkar perut melebihi batas normal) secara nasional 36,8 persen pada penduduk berusia 15 tahun ke atas.
Hal itu dapat berdampak pada munculnya penyakit bawaan seperti penyakit jantung, gula darah tinggi atau ginjal.
Selain itu, mitos tentang anak yang gemuk adalah lucu juga menjadi tantangan tersendiri bagi profesi kedokteran untuk berupaya menurunkan angka obesitas pada anak dan di atas 15 tahun.
Maya mengatakan Indonesia bisa mencontoh negara yang disiplin terhadap kesehatan seperti Jepang atau Singapura, yang menerapkan prinsip bahwa makan tidak harus sampai kenyang, tapi, ketika porsinya cukup.
Maya juga menyinggung tentang masih banyak peredaran obat yang diklaim bisa menurunkan berat badan, namun, sebenarnya tidak jelas kandungannya, yang juga menjadi pertanda bahwa orang ingin menjadi langsing secara instan.
Dia berharap penerapan PNPK bisa menjadi acuan dan makna obesitas bisa tersampaikan, serta bisa diterapkan di berbagai wilayah Indonesia yang memiliki angka obesitas yang tinggi.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara, Lili Lestari
Berita Terkait:
-
Detik-detik Bus Tim Persib Kecelakaan di Thailand, Ini Kronologinya!
-
Awali 2026, Bridgestone Indonesia Resmikan TOMO Signature Pertama dengan Layanan Premium
-
Harapan Warga Terjawab, Embung Cakung Siap Dipercepat
-
Grab Indonesia dan Mitra Pengemudi Bagikan 20.000 Takjil di 40 Kota
-
Pola Tidur Konsisten, Langkah Mudah Lindungi Metabolisme
-
Imbas Masalah Naturalisasi, FIFA Cabut 3 Kemenangan Timnas Malaysia
-
Kopdes Merah Putih Harus Serap Seluruh Produk Lokal
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.