Resiliensi Ekonomi Tidak Bisa Dicapai dengan Sekedar Intervensi Jangka pendek
Rabu, 20 Agu 2025, 01:05 WIBJAKARTA - Pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah salah satunya dipengaruhi oleh antisipasi pelaku pasar terhadap pidato Ketua The Fed Jerome Powell yang dapat mengarah ke hawkish terkait kebijakan suku bunga acuannya.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong kepada Antara mengatakan
rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) karena rebound oleh antisipasi pidato hawkish Powell dalam beberapa kesempatan pekan ini, diantaranya risalah FOMC dan Jackson Hole.
Dari eksternal, pidato Jerome Powell akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam pertemuan para pejabat bank sentral dunia pada Simposium Jackson Hole di AS tanggal 21-23 Agustus 2025.
Selanjutnya, pelaku pasar juga akan memperhatikan pidato Jerome Powell pada pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) Minutes pada Kamis (21/08) pekan ini.
Berdasarkan laporan FedWatch CME, ada kemungkinan sebesar 83 persen The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan September 2025, namun sikap hawkish bank sentral AS menjadi langkah antisipasif pelaku pasar saat ini.
Para analis mengatakan pembatasan yang lebih ketat terhadap ekspor energi dari Moskow dapat memperburuk kendala pasokan yang ada, terutama di Eropa, dan sebagian Asia yang masih sangat bergantung pada minyak mentah dan produk olahan Russia.
Dari kawasan Asia, perekonomian Tiongkok melambat di hampir semua sektor pada Juli 2025, yang mana aktivitas pabrik, investasi, dan penjualan ritel mengecewakan.
Fundamental Domestik
Secara terpisah, pengamat ekonomi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan (STIE YKP) Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang dipicu antisipasi pasar terhadap pidato hawkish Ketua The Federal Reserve Jerome Powell harus dijadikan momentum untuk memperkuat fundamental domestik.
Menurut Aditya, tekanan eksternal dari kebijakan moneter The Fed merupakan faktor yang sulit dikendalikan oleh pemerintah Indonesia. Namun, langkah mitigasi tetap bisa dilakukan dengan menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik.
âRupiah melemah memang karena faktor eksternal, tapi penguatannya hanya bisa dijaga jika fundamental domestik solid. Itu mencakup konsistensi kebijakan fiskal, inflasi yang terkendali, serta upaya pemerintah memastikan defisit transaksi berjalan tetap terkelola,â kata Aditya.
Ia menambahkan, Bank Indonesia (BI) perlu cermat dalam menentukan respons kebijakan suku bunga agar tidak menekan konsumsi dan investasi. âKebijakan moneter harus sinkron dengan langkah fiskal. Jika respons terlalu agresif, dampaknya bisa negatif bagi pertumbuhan,â jelasnya.
Aditya menegaskan bahwa pemerintah juga perlu mempercepat agenda hilirisasi dan memperkuat kinerja ekspor, sehingga tekanan dari volatilitas global bisa diredam melalui cadangan devisa yang lebih kuat.
âDalam jangka menengah, resiliensi ekonomi hanya bisa dicapai lewat transformasi struktural, bukan sekadar intervensi jangka pendek,â ujarnya.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
ITD Summit 2026: TelkomGroup Buktikan AI Bukan Tren, Tapi Alat Kerja Nyata
-
Tak Terkejar, Bayern Muenchen Juara Liga Jerman
-
Indo Livestock 2026 Expo dan Forum Perkenalkan Grand Championship, Tingkatkan Standar Kompetisi Ternak Nasional.
-
IMO Imbau Kapal Harus Ekstra Hati-hati di Dekat Selat Hormuz
-
Serunya Main Bareng Tanpa Gawai di Surabaya
-
Bank Indonesia Pastikan “All Out” 24 Jam Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
-
RI Dorong Kemandirian Plastik
Satlap Tri Cakti dan Satgas Gabungan Gagalkan Penyelundupan Bijih Timah Ilegal Senilai Rp1,8 Miliar.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.