Padi Perennial Padi Abadi, Prospeknya di Indonesia
Rabu, 20 Agu 2025, 16:23 WIBKoran-jakarta.com - Padi perennial, atau yang dikenal sebagai padi abadi (Lihat berita sebelumnya tentang Ilmuwan Berhasil Temukan Padi Abadi), merupakan varietas padi inovatif yang mampu dipanen berulang kali hanya dari satu kali masa tanam. Karakteristik ini menjadi pembeda utama jika dibandingkan dengan padi biasa (annual) yang memerlukan penanaman ulang pada setiap musim. Pengembangan padi jenis ini bertujuan untuk menekan biaya produksi, menghemat waktu, serta meminimalkan dampak negatif pertanian terhadap lingkungan.
Beberapa varietas telah berhasil dikembangkan, terutama di China. Dua yang terkenal adalah:
1. PR23: Merupakan hasil persilangan antara padi Asia (Oryza sativa) dengan kerabat liar padi Afrika (Oryza longistaminata).
2. PR32: Varietas yang telah diadopsi secara luas, dengan luas tanam dilaporkan mencapai lebih dari 38.000 hektar sejak tahun 2021.
Padi Abadi hasil rekayasa ilmuwan memang belum masuk Indonesia, namun konsep padi perennial sejalan dengan praktik tradisional "padi singgang" atau "ratoon", di mana sisa batang padi dibiarkan tumbuh untuk dipanen kedua kalinya.
Apa saja Keunggulan Padi Perennial / Padi Abadi?
- Panen Multi-Siklus:Â Rumpun padi perennial memiliki kemampuan regenerasi yang kuat, sehingga dapat tumbuh kembali setelah dipanen, memungkinkan beberapa kali panen dari investasi tanam sekali.
- Efisiensi Biaya dan Tenaga:Â Petani tidak perlu lagi melakukan pengolahan lahan, penyemaian, dan penanaman ulang setiap musim, sehingga menghemat biaya untuk benih, tenaga kerja, dan waktu.
- Kelebihan Ekologis:Â Sistem perakaran yang permanen dan kuat pada padi perennial sangat efektif dalam mencegah erosi tanah, meningkatkan kesehatan tanah, serta mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari pengolahan lahan berulang. Selain itu, sistem ini juga berpotensi menekan penggunaan pupuk dan pestisida.
Beberapa varietas telah berhasil dikembangkan, terutama di China. Dua yang terkenal adalah:
1. PR23: Merupakan hasil persilangan antara padi Asia (Oryza sativa) dengan kerabat liar padi Afrika (Oryza longistaminata).
2. PR32: Varietas yang telah diadopsi secara luas, dengan luas tanam dilaporkan mencapai lebih dari 38.000 hektar sejak tahun 2021.
- Tantangan dan Kendala:
- Meski menjanjikan, pengembangan padi perennial masih menghadapi sejumlah tantangan:
- Kerentanan terhadap Organisme Pengganggu:Â Siklus hidup yang panjang berpotensi meningkatkan kerentanan tanaman terhadap akumulasi hama dan penyakit.
- Penurunan Produktivitas:Â Hasil panen cenderung mengalami penurunan setelah beberapa kali panen, yang pada akhirnya tetap memerlukan peremajaan atau penanaman ulang.
- Riset Lanjutan:Â Diperlukan lebih banyak penelitian untuk menyempurnakan teknik budidaya, pemuliaan varietas yang lebih unggul, dan mengatasi keterbatasan yang ada.
Padi Abadi hasil rekayasa ilmuwan memang belum masuk Indonesia, namun konsep padi perennial sejalan dengan praktik tradisional "padi singgang" atau "ratoon", di mana sisa batang padi dibiarkan tumbuh untuk dipanen kedua kalinya.
Meski masih dalam tahap penelitian dan pengembangan, minat terhadap padi abadi ini mulai tumbuh di Indonesia sebagai bagian dari strategi menuju pertanian yang lebih berkelanjutan.
- Padi Abadi
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Winoto Wahyu
Berita Terbaru
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.