Catat! 30% Stunting dari Keluarga Miskin
Selasa, 12 Agu 2025, 17:00 WIBJAKARTA-Deputi Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN, Sukaryo Teguh Santoso, menegaskan bahwa hampir 30 persen kasus stunting berasal dari keluarga miskin.
Hal itu disampaikannya dalam pertemuan antara Pemprov Gorontalo dan Komisi IX DPR-RI bersama Kemendukbangga di Gorontalo Senin (11/8). Salah satu pokok bahasan ialah persoalan stunting.
Nuroji, anggota Komisi IX DPR RI, menyoroti pentingnya keterpaduan program. "Kami minta pemerintah untuk mendorong pemberdayaan ekonomi bagi keluarga KRS yang tinggal di tempat tidak layak huni sebagai solusi jangka panjang,"ucapnya dari Gorontalo, Senin (11/8).
Komisi IX DPR RI menyatakan komitmennya untuk mengawal kebijakan, memastikan dukungan anggaran, dan memperkuat sinergi lintas sektor. Sehingga program dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.
Dalam kunjungan kerja reses masa persidangan IV tahun 2024â2025 ini, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Putih Sari, menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah strategis dalam percepatan perbaikan gizi keluarga berisiko stunting (KRS). Terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (3B).
Putih Sari menekankan bahwa penanganan stunting dan pelaksanaan MBG harus dilaksanakan dengan langkah nyata, terukur, dan tepat sasaran. Ia juga menegaskan perlunya sinergi lintas kementerian/lembaga agar program MBG dan sanitasi yang sangat sensitif terhadap stunting dapat berjalan efektif di Gorontalo.
Pemerintah Provinsi Gorontalo menargetkan prevalensi stunting di provinsi tersebut turun dari 23,8 persen pada 2024 menjadi 13,8 persen pada tahun 2030. Untuk itu, dalam pertemuan antara Pemprov Gorontalo dan Komisi IX DPR-RI, persoalan stunting menjadi fokus bahasan.
Pertemuan yang dihadiri instansi vertikal, termasuk Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Gorontalo, Diano Tino Tandaju, dan mitra strategis, berlangsung di Aula Rumah Jabatan Gubenur Gorontalo, Senin (11/8).
Dalam laporannya, Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail memaparkan kondisi layanan kesehatan daerah yang menyoroti prevalensi stunting yang masih relatif tinggi di Gorontalo. Intervensi gizi disarankan tidak hanya menyasar anak-anak, tetapi juga ibu dalam satu rumah tangga agar dampaknya lebih menyeluruh.
Risiko Kematian
Deputi Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN, Sukaryo Teguh Santoso mengingatkan kenaikan kelahiran pada remaja usia 15â19 tahun perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan risiko kematian ibu dan stunting.Â
Sukaryo menambahkan, melalui kerja sama Kemendukbangga/BKKBN dan Badan Gizi Nasional (BGN), MBG akan diarahkan kepada kelompok 3B dengan melibatkan PKK di posyandu yang sekaligus memberikan edukasi kepada sasaran atau penerima manfaat.Â
- Kemiskinan
- Gorontalo
- Cegah Stunting
- Kemendukbangga
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta
-
Mendorong Potensi Kemaritiman Kaltara dengan Lomba Balap Speedboat Kodaeral XIII
-
Berikut Daftar Destinasi Piknik yang Masih Ditutup Usai Gempa NTT
-
Jerman Mulai Resah, Pengaruh AS Dinilai Makin Kuat Terasa
-
Pemkot Bandung Dukung BPJS Ketenagakerjaan Dorong Ahli Waris Mandiri Secara Ekonomi
-
Sumsel Genjot Breeding Sapi, Dukung Target Swasembada Daging Nasional
-
Pemulung Terperangkap dalam Skema Jaring Kemiskinan Struktural
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.