- Home
-
- Luar Negeri
-
- Korut Singkirkan Pengeras ...
Korut Singkirkan Pengeras Suara Propaganda dari Perbatasan
Senin, 11 Agu 2025, 02:30 WIBSEOUL Â â Pasukan Korea Utara (Korut) telah mulai menyingkirkan pengeras suara propaganda yang digunakan untuk mengeluarkan suara-suara yang meresahkan di sepanjang perbatasan, kata militer Korea Selatan (Korsel) pada Sabtu (9/8), beberapa hari setelah pemerintahan baru Korsel membongkar pengeras suara di sisi perbatasannya.
Kedua negara telah menghentikan siaran propaganda di sepanjang zona demiliterisasi, kata militer Seoul pada bulan Juni setelah terpilihnya Presiden Lee Jae-myung, yang berusaha meredakan ketegangan dengan Pyongyang.
Kementerian Pertahanan Korsel pada hari Senin (4/8) lalu mengatakan bahwa pihaknya telah mulai menyingkirkan pengeras suara dari sisi perbatasannya sebagai tindakan praktis yang bertujuan membantu meredakan ketegangan dengan Korut.
Korsel sebelumnya telah menyiarkan lagu K-pop dan laporan berita dengan keras ke Korut sebagai tanggapan terhadap Pyongyang yang menyiarkan suara-suara aneh dan meresahkan di sepanjang perbatasan yang telah menjadi gangguan besar bagi penduduk lokal Korsel.
Namun di bawah pemerintahan Lee, pada bulan Juni, Seoul menghentikan siaran pengeras suara dan pada gilirannya, sehari kemudian, Korut juga menghentikan siaran mereka.
"Militer Korsel telah mendeteksi bahwa pasukan Korut mulai membongkar pengeras suara propaganda di beberapa bagian sepanjang garis depan sejak pagi ini," kata Kepala Staf Gabungan Seoul dalam sebuah pernyataan pada Sabtu.
"Masih harus dikonfirmasi apakah perangkat tersebut telah disingkirkan di semua wilayah, dan militer akan terus memantau aktivitas terkait," imbuh mereka.
Seoul telah memulai siaran pengeras suara tahun lalu sebagai tanggapan terhadap serangkaian pengiriman balon berisi sampah yang diterbangkan ke selatan oleh Pyongyang. Korut telah mengirim ribuan balon ke selatan pada waktu itu, dengan mengatakan bahwa balon tersebut merupakan balasan atas balon propaganda yang diluncurkan oleh aktivis Korsel.
Upayakan Perundingan
Hubungan antara kedua Korea telah mencapai titik terendah dalam beberapa tahun terakhir, di bawah Presiden Korsel saat itu, Yoon Suk-yeol, dengan Seoul mengambil sikap tegas terhadap Pyongyang, yang semakin mendekati Moskwa setelah invasi Russia ke Ukraina.
Presiden Lee telah mengambil pendekatan berbeda dalam berurusan dengan Korut sejak pemilihannya pada bulan Juni, termasuk meminta kelompok-kelompok sipil untuk berhenti mengirim selebaran propaganda anti-Korut.
Presiden Lee juga mengatakan ia akan mengupayakan perundingan dengan Korut tanpa prasyarat, menyusul pembekuan hubungan yang mendalam di bawah pendahulunya.
Saat ini kedua negara secara teknis masih berperang karena Perang Korea 1950-53 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Menperin Sebut Pendidikan Vokasi dan Program Magang Nasional Perkuat Industrialisasi di Indonesia
-
Hampir 100 Longsor, Magetan Hadapi Ancaman Bencana Sepanjang 2025
-
Warga Maninjau Hidup dalam Ketakutan, Ancaman Banjir Bandang Susulan Menghantui
-
Pelatih sebut kemenangan Dewa United buah dari rencana matang
-
Kerahkan Penerbangan Pelita Air, Pertamina Salurkan Bantuan Logistik dan Evakuasi Pekerja di Wilayah Terdampak Bencana
-
Sinergi UMKM dan Industri Besar: Pilar Baru Perekonomian Berdaya Saing
-
Mengenal Sesar Baribis, Jalur Patahan Aktif yang Berpotensi Bencana Besar, Jadi Penyebab Gempa M 4,7 di Bekasi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.