Papua Tengah Frontal Perang Habis-habisan Melawan Malaria

Kamis, 07 Agu 2025, 00:34 WIB

JAYAPURA -  Tanah Papua memang dikenal banyak nyamuk malaria sejak dulu kala. Meski begitu, zaman sekarang juga belum berkurang. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Papua mengajak semua pihak gotong royong menuntaskan kasus malaria guna mewujudkan generasi muda yang sehat.

"Dengan semangat kolaborasi dan gotong royong kami percaya Papua Tengah bisa bebas malaria dan anak-anak tumbuh cerdas, ibu-ibu tetap sehat dan masyarakat dapat hidup lebih produktif," kata Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, di Jayapura, Rabu.

Ket. Foto: Nyamuk malaria — Sumber: ist

Menurut Nawipa, malaria adalah ancaman nyata terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) Papua Tengah karena kasus ini dapat terjadi pada ibu hamil dan balita. "Malaria yang menyerang mereka dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan, anemia berat bahkan kematian janin," ujarnya.

Dia menjelaskan pihaknya berharap supaya ke depan semua kepala daerah di delapan kabupaten di Papua Tengah bisa memasukkan penanggulangan malaria sebagai program prioritas dalam perencanaan pembangunan daerah.

"Kami harus bergerak dari sekarang dan semua harus bersatu untuk eliminasi malaria," katanya lagi. Dia menambahkan berdasarkan Data Sistem Informasi dan Surveilans Malaria menunjukkan bahwa lebih dari 93 persen kasus malaria di Indonesia terjadi di Tanah Papua, dan Papua Tengah mencatat hampir 170 ribu kasus pada tahun 2024.

"Ini adalah angka yang sangat serius dan yang lebih memprihatinkan, kasus ini juga terjadi pada ibu hamil dan anak-anak balita, yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa," ujarnya.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Manokwari, Papua Barat mencatat penemuan kasus baru Tuberkulosis (TBC) di daerah itu hingga Juli 2025 mencapai 550 kasus. Plt Kepala Dinkes Manokwari Marthen Rantetampang di Manokwari, Rabu, mengatakan penemuan kasus baru tersebut menjadi peringatan serius terhadap upaya eliminasi TBC di daerah itu.

“Menurut saya, TBC di Manokwari masih tergolong tinggi. Ini penyakit yang kerap dianggap biasa, padahal dampaknya luar biasa. Kami menemukan pasien TBC yang sudah menunjukkan resisten obat,” ujarnya.

Ia mengatakan sistem pencatatan dan pelaporan yang dilakukan oleh petugas di fasilitas kesehatan memungkinkan pemantauan lebih baik terhadap pasien, dimana setiap pasien terdeteksi TBC akan dicatat dalam aplikasi, sehingga saat pasien tersebut berobat di mana saja bisa terdeteksi dan mendapatkan pelayanan lanjutan.

Namun, ia mengingatkan pasien yang menghentikan pengobatan di tengah jalan justru berisiko mengalami resistensi terhadap obat, yang membuat masa pengobatan menjadi lebih lama dan kompleks. “Upaya eliminasi TBC, membutuhkan kolaborasi lintas sektor serta kesadaran masyarakat untuk menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan,” ujarnya.

Penanggung Jawab Program TBC Dinas Kesehatan Manokwari Sri Hartarti mengatakan deteksi kasus baru tersebut merupakan bagian dari strategi eliminasi TBC tahun 2030. Strategi eliminasi TBC menekankan pentingnya mendeteksi sebanyak mungkin kasus sejak dini, untuk menghentikan rantai penularan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.