India Kecam AS dan Uni Eropa atas Kritik Tak Adil Soal Minyak Rusia

Selasa, 05 Agu 2025, 19:30 WIB

JAKARTA – India secara terbuka mengecam Amerika Serikat dan Uni Eropa karena dianggap bersikap tidak adil terkait pembelian minyak dari Rusia. Pemerintah India menyatakan bahwa kedua kekuatan Barat tersebut juga masih aktif berdagang dengan Moskow, meskipun perang di Ukraina masih berlangsung.

Pernyataan keras India muncul setelah Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan menaikkan tarif atas barang-barang asal India akibat pembelian minyak dari Rusia. Ancaman ini memperparah keretakan dalam hubungan dagang antara kedua negara.

Ket. Foto: — Sumber: Reuters

Dalam pernyataan langka yang menunjukkan persatuan politik, Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi dan partai oposisi utama, Kongres, bersama-sama mengecam komentar Trump terhadap India. Kritik itu dianggap berulang dan tidak berdasar.

Kementerian Luar Negeri India menegaskan bahwa negara-negara Barat justru masih menjalin hubungan dagang dengan Rusia dalam skala besar. “Tidak tepat untuk hanya menyoroti India,” demikian pernyataan resmi kementerian yang dirilis Senin malam.

Data yang disampaikan menunjukkan bahwa Uni Eropa melakukan perdagangan dengan Rusia senilai 67,5 miliar euro sepanjang tahun 2024. Dari jumlah tersebut, impor gas alam cair (LNG) mencapai rekor 16,5 juta metrik ton.

Amerika Serikat sendiri masih mengimpor berbagai komoditas penting dari Rusia, termasuk uranium heksafluorida untuk industri tenaga nuklir, paladium, pupuk, serta bahan kimia lainnya. Namun, pemerintah AS tidak merinci sumber data ekspor tersebut.

Hingga kini, Kedutaan Besar AS dan delegasi Uni Eropa di New Delhi belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari media. Meski begitu, AS dan UE diketahui telah mengurangi secara drastis hubungan perdagangan mereka dengan Rusia sejak invasi ke Ukraina dimulai pada Februari 2022.

Sebelum invasi, Rusia merupakan mitra dagang terbesar kelima Uni Eropa pada tahun 2021, dengan total nilai pertukaran barang mencapai 258 miliar euro. Data ini dikutip dari Komisi Eropa selaku badan eksekutif UE.

Ketegangan India-AS meningkat tajam sejak 31 Juli lalu ketika Trump mengumumkan tarif 25 persen atas produk India. Ia juga untuk pertama kalinya mengancam akan menjatuhkan sanksi yang tidak dijelaskan secara rinci atas pembelian minyak Rusia.

India tercatat sebagai salah satu pembeli minyak mentah terbesar dari Rusia, dengan rata-rata impor sekitar 1,75 juta barel per hari antara Januari hingga Juni tahun ini. Angka ini naik satu persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Perusahaan penyulingan India, Nayara Energy, menjadi sorotan karena merupakan pembeli utama minyak Rusia dan mayoritas sahamnya dimiliki oleh entitas asal Rusia, termasuk perusahaan minyak raksasa Rosneft. Perusahaan ini menjadi sasaran sanksi Uni Eropa pada Juli yang menargetkan sektor minyak dan energi Rusia.

India menyatakan bahwa pihaknya tidak mengakui sanksi sepihak yang diberlakukan oleh Uni Eropa. Pemerintah India menilai kebijakan tersebut tidak sah secara hukum internasional.

Para ahli memperingatkan bahwa kebijakan tarif Trump dapat memberi dampak negatif yang besar terhadap perekonomian India. Ajay Srivastava dari Global Trade Research Initiative memperkirakan ekspor barang India ke AS bisa turun 30 persen tahun ini.

Ekspor diprediksi hanya akan mencapai 60,6 miliar dolar AS pada tahun fiskal yang berakhir 31 Maret mendatang, turun dari 86,5 miliar dolar pada tahun fiskal 2025. Penurunan ini akan menjadi pukulan berat bagi industri ekspor India.

Sementara itu, indeks saham India langsung melemah setelah ancaman tarif kembali disuarakan oleh Presiden Trump. Pasar khawatir bahwa ketegangan perdagangan akan meningkat dan menekan kinerja ekonomi nasional.

Manish Tewari, anggota parlemen dari Partai Kongres, menyebut komentar Trump sebagai bentuk penghinaan terhadap martabat dan harga diri bangsa India. Ia menilai sudah waktunya India bersikap tegas terhadap tekanan internasional.

Wakil Presiden BJP, Baijayant Jay Panda, juga ikut menanggapi dengan mengutip pernyataan Henry Kissinger. Dalam unggahannya di platform X, ia menulis, “Menjadi musuh Amerika bisa berbahaya, tetapi menjadi teman itu fatal.”

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.