Peta Kependudukan: Fondasi Utama Menuju Indonesia Emas

Jumat, 01 Agu 2025, 00:00 WIB

Cita-cita besar bangsa Indonesia menjadi negara maju, adil, dan sejahtera tepat saat satu abad kemerdekaannya bukan perkara mudah, melainkan membutuhkan berbagai langkah sistematis dan terkoordinasi dari seluruh elemen bangsa, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Dengan begitu, dibutuhkan perumusan desain pembangunan kependudukan yang holistik dan menyeluruh dan mampu menjawab tantangan yang ada sekaligus selaras dengan rencana pembangunan di setiap daerah, agar tidak ada wilayah dan kelompok masyarakat yang tertinggal dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.

Ket. Foto: Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/ BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka — Sumber: KORAN JAKARTA/M. FACHRI

Untuk mengetahui kesiapan pemerintah memanfaatkan bonus demografi dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, berikut wawancara wartawan Koran Jakarta Fredrikus W Sabini dengan Wakil Menteri Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/ BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka dalam beberapa kesempatan.

Seperti apa pandangan Kemendukbangga menyongsong Indonesia Emas. Apa yang perlu dipersiapkan?

Visi Indonesia Emas 2045 adalah cita-cita bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju dan sejahtera pada 2045. Untuk itu, diperlukan upaya sistematis dan terstruktur dari seluruh pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah.

Namun, tantangan utama yang perlu dijawab, antara lain ketimpangan pembangunan antarwilayah. Selanjutnya, urbanisasi tanpa perencanaan yang jelas, kesenjangan pelayanan kesehatan ibu dan anak, masalah stunting, kekerasan dalam rumah tangga, serta pengangguran usia muda.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan desain pembangunan kependudukan yang komprehensif dan menyelaraskan dengan rencana pembangunan daerah.

Langkah apa yang akan dilakukan Kemendukbangga dalam menghadapi transisi demografi?

Dalam mendukung pencapaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, Kemendukbangga/BKKBN menjalankan beberapa program quick wins.

Pertama adalah gerakan orang tua asuh cegah stunting atau Genting. Genting adalah program yang mengolaborasikan bagaimana masyarakat bisa berpartisipasi, dunia usaha, BUMN berusaha untuk membantu pemerintah dengan pendekatan pentahelix agar mengurangi prevalensi stunting.

Untuk bisa mencapai pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM), tentu saja stunting harus kita atasi bersama-sama.

Program berikutnya, taman asuh sayang anak (Tamasya), program tersebut memberikan perspektif bagaimana pola pengasuhan dapat dibenahi bersama agar kualitas dari anak-anak nantinya makin maju.

Program ketiga adalah gerakan ayah teladan Indonesia (Gati), sama-sama tahu biasanya yang terlibat lebih dalam pengasuhan anak adalah kaum ibu.

Kita ingin agar ayah juga ikut terlibat dalam pola pengasuhan karena dengan adanya ayah dan ibu bersama-sama maka kualitas anak-anak generasi masa muda masa depan akan dapat lebih optimal.

Keempat adalah lansia berdaya yang diharapkan warga lansia tetap sehat, tetap produktif dan tetap bisa menikmati hari tuanya dengan sehat dan bahagia.

Terakhir adalah super apps keluarga Indonesia yang tengah dikembangkan oleh kementerian kependudukan dan pembangunan keluarga.

Inisiatif ini kami dorong untuk diadopsi di daerah sebagai bentuk percepatan dan inovasi layanan pembangunan keluarga.

Anda menegaskan pentingnya penerapan demographic insight di Indonesia. Seberapa penting?

Dengan data demografi, perencanaan pembangunan dapat menjadi lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Perencanaan pembangunan yang berbasis data dapat mendukung terwujudnya kebijakan yang tepat guna dan tepat sasaran. Penerapan data demografi dalam perencanaan pembangunan penting untuk mengetahui situasi dan kondisi masyarakat, mengidentifikasi kebutuhan, dan mengarahkan perencanaan pembangunan.

Data berperan krusial dalam mengarahkan perencanaan pembangunan, baik di tingkat desa maupun nasional. Data berkualitas dapat menjadi alat ampuh untuk memandu perencanaan, pengembangan kebijakan, atau pengambilan keputusan.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menggagas Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) di Indonesia karena data yang lengkap dan akurat sangat penting sebagai dasar penyusunan dan pengambilan kebijakan yang tepat.

Integrasi DTSEN ke dalam perencanaan kesehatan penduduk akan meningkatkan kemampuan pemerintah dalam menargetkan intervensi secara lebih efektif, khususnya bagi kelompok rentan seperti ibu hamil dan lansia. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga merupakan salah satu kementerian yang mendukung DTSEN dari Pendataan Keluarga.

Seperti data sasaran Makan Begizi Gratis (MBG) khusus bagi Ibu hamil dan ibu menyusui yang tepat didapatkan berdasarkan hasil Pendataan Keluarga.

20250731234045_antarafoto-prabowo-panggil-sejumlah-tokoh-ke-kertanegara-141024-fzn-15.jpg

ANTARA/FAUZAN 

Indonesia surplus penduduk usia produktif, bagaimana memanfaatkan bonus demografi?

Bonus demografi perlu dioptimalkan dengan meningkatkan kapasitas serta partisipasi optimal penduduk usia produktif, baik laki-laki maupun perempuan dalam dunia kerja.

Selain fokus kepada anak-anak muda melalui Program Pusat Informasi dan Koseling dan Genre Indonesia, Kemendukbangga juga mendorong kebijakan yang mendukung perempuan agar dapat kembali bekerja pasca melahirkan.

Salah satu bentuk nyata adalah melalui Program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), yaitu perluasan akses terhadap Tempat Penitipan Anak Ramah Anak agar perempuan dapat kembali bekerja setelah melahirkan.

Kami memandang pentingnya sinergi dan indikator yang terukur dalam peta jalan pembangunan SDM.

Kita tidak bisa bekerja sendiri karena semua kementerian punya peran masing-masing. Maka penting untuk menyamakan langkah bersama

Para pemangku kebijakan berharap strategi ini mampu menjawab tantangan menuju Indonesia Emas 2025. Bonus demografi harus jadi berkah nyata, bukan sekadar potensi di atas kertas.

Bagaimana dengan penduduk Lansia (Lansia), apa perhatian Kemendukbangga?

Pemerintah RI juga memperhatikan potensi yang dimiliki oleh generasi lanjut usia (silver generation) agar sehat dan produktif. Sebagai tambahan, Program Makanan Bergizi untuk Ibu Hamil (MBG). Program inisiatif ini bukan hanya bertujuan untuk mengurangi stunting, melainkan juga dapat membuka lapangan kerja bagi perempuan, khususnya yang terlibat dalam proses memasak, mencuci peralatan makan, dan mengantarkan makanan ke ibu hamil dan menyusui.

Program ini bersifat padat karya dan dirancang untuk memberikan manfaat ganda—yaitu penyerapan tenaga kerja perempuan dan perbaikan gizi dengan sasaran yang tepat berbasis data hasil Pendataan Keluarga yang dilakukan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/ BKKBN.

Untuk perawatan jangka panjang program Bina Keluarga Lansia dan Lansia Berdaya. Keduanya memberdayakan lanjut usia dengan meningkatkan kualitas hidup mereka serta memastikan bahwa para lansia mendapatkan perawatan di lingkungan keluarga dan komunitasnya.

Selanjutnya juga tentang Kampung KB, strategi Keluarga Berencana Berbasis Hak dengan menjamin layanan keluarga berencana yang responsif gender, sesuai dengan budaya setempat, dan berkualitas tinggi dan layanan keluarga berencana dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Apa peran penyuluh bagi suksesnya program Pemerintah Prabowo-Gibran?

Kami memastikan seluruh Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) siap menjadi garda terdepan dalam mengawal program prioritas pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

PKB dan PLKB siap bekerja senyap menjadi ujung tombak pemerintah di tengah masyarakat.

Selalu ada orang-orang yang bekerja dalam senyap untuk menyukseskan sebuah program. Dan, di situlah penyuluh KB berada untuk menyukseskan program pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana (Bangga Kencana) maupun program prioritas lain yangh dimandatkan Presiden kepada Kemendukbangga/ BKKBN.

IPeKB kini genap 18 tahun. Ini berarti di IPeKB sudah tidak lagi anak-anak. Sudah beranjak ke usia dewasa. Berarti pelayanannya juga sudah semakin dewasa lagi untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga Indonesia. Ini tentu saja IPeKB menjadi sangat luar biasa untuk Kemendukbangga/BKKBN karena IPeKB adalah rumah bagi 18 ribu penyuluh KB dan petugas lapangan KB yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dalam setiap langkah besar pembangunan bangsa selalu ada garda terdepan yang bekerja dalam senyap. Ini adalah apa yang dilakukan oleh Ibu/Bapak sekalian. Dampaknya luar biasa besar bagi bangsa ini.

Para penyuluh KB yang setiap hari hadir menyapa keluarga-keluarga di Indonesia. Kehadirannya bukan saja membawa informasi, melainkan turut membawa harapan dan semangat bagi keluarga Indonesia.

Kenapa disebut sebagai pilar, karena tidak akan ada sumber daya manusia yang tangguh tanpa keluarga yang tangguh. Dan, tidak akan ada keluarga yang tangguh tanpa kehadiran penyuluh dan petugas lapangan KB yang luar biasa. Penyuluh KB bukan sekadar penyampaian informasi, tapi juga mentor, penggerak sosial, sekaligus penjaga nilai-nilai kebangsaan yang dimulai ditanamkan sejak dalam keluarga.

Kami minta para penyuluh KB untuk terus menjadi ujung tombak dalam menyukseskan program prioritas pemerintah. Dia secara khusus menggarisbawahi enam program prioritas pemerintah yang sudah diluncurkan secara bertahap oleh Presiden Prabowo Subianto. Keenam prioritas tersebut meliputi program Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, Cek Kesehatan Gratis, Koperasi Merah Putih, Swasembada Pangan, dan Perumahan Terjangkau.

Apakah Kemendukbangga sudah menjalankan semua program Prabowo?

Kemendukbangga sudah melaksanakan seluruh mandat yang diberikan Istana. Seperti penurunan prevalensi stunting yang menjadi tugas BKKBN sejak terbitnya Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Merujuk hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, saat ini prevalensi stunting Indonesia berada pada angka 19,8 persen.

Angka 19,8 persen ini berarti untuk kali pertama prevalensi stunting Indonesia di bawah 20 persen. Ini salah satu bukti hasil kerja keras Kemendukbangga/BKKBN, termasuk di dalamnya para penyuluh KB, dalam menjalankan tugas prioritas dari Presiden. Kami optimistis prevalensi stunting akan terus menurun sejalan dengan kebijakan baru Bapak Presiden tentang MBG.

Apa peran Kemendukbangga dalam menyukseskan program MBG ini?

MBG, tidak hanya menyasar anak sekolah. Presiden sudah memerintahkan Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kemendukbangga untuk turut menyediakan kuota MBG yang diperuntukkan bagi ibu hamil ibu menyusui, dan anak-anak di bawah lima tahun (Balita) nonpendidikan anak usia dini (Non-PAUD).

Sejalan dengan itu, BGN dan Kemendukbangga sudah menandatangani kesepahaman untuk menyalurkan MBG kuota khusus tadi dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) langsung kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD oleh para petugas lini lapangan Kemendukbangga/BKKBN.

Salah satu yang menjadi tugas utama dari para penyuluh KB, kader-kader KB, tim pendamping keluarga (TPK) adalah bagaimana memastikan program MBG ini dapat berjalan dengan sukses. Karena, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, khususnya di bawah usia dua tahun (Baduta), menjadi sangat penting dan krusial untuk program pencegahan stunting.

Pencegahan stunting memiliki periode paling krusial pada 1000 hari pertama kehidupan. Hitungan 1000 hari pertama kehidupan terjadi pada sejak bayi berada dalam kandungan.

Dan, ini menjadi sangat penting untuk pencegahan stunting karena jika sudah lewat dari periode 1000 hari pertama masa kehidupan akan lebih sulit untuk melakukan pencegahan. MGB adalah bukti bagaimana negara hadir agar untuk bisa nantinya mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Jika kita melakukannya sejak sekarang, maka nantinya generasi emas 2045 tidak akan tercapai.

Pengecekkan kesehatan gratis yang diberikan kepada setiap warga negara yang berulang tahun merupakan bukti keseriusan pemerintah untuk membangun kualitas sumber daya manusia (SDM). Pengecekkan gratis merupakan upaya mitigasi bagi munculnya penyakit-penyakit berat yang memerlukan penanganan lebih serius. Isyana menegaskan bahwa mencegah akan jauh lebih baik dibanding mengobati.

Kemudian juga ada program Sekolah Rakyat yang sudah dimulai. Bagaimana anak-anak yang rentan putus sekolah bisa masuk ke Sekolah Rakyat. Kemudian juga bisa tinggal di sana juga dan kemudian makannya juga kemudian disediakan agar nantinya anak-anak yang tadinya rentan untuk sekolah ini dapat mendapatkan pendidikan. Ini adalah bagaimana kita mencoba untuk memberikan pendidikan bagi semua dan tidak ada satu orang pun yang tertinggal.

20250731234150_Capture.JPG

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.