Pengusaha Mal Optimistis Fenomena 'Rojali' dan 'Rohana' Segera Berakhir

Senin, 28 Jul 2025, 14:30 WIB

JAKARTA - Fenomena Rojali atau rombongan jarang membeli dan Rohana yakni rombongan yang hanya sekadar bertanya dan melihat-lihat tanpa membeli sedang menjadi pembicaraan publik. Fenomena ini diyakini berkontribusi terhadap menurunnya omzet pusat perbelanjaan.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonsus Widjaja, menjelaskan bahwa keberadaan pengunjung yang hanya bertanya atau sekadar jalan-jalan di mal sebenarnya fenomena lama yang marak terjadi pasca pandemi Covid-19.

Ket. Foto: — Sumber: RRI/Syah Manaf

"Waktu itu masyarakat perlu tempatbertemu dengan teman secara langsung setelah hanya bisa dilakukan secara daring pada saat pandemi," kata dia, Minggu (27/7).

Mal, kata dia, bisa menyediakan tempat yang mereka butuhkan, karena mal selain sebagai tempat belanja, juga sebagai tempat hiburan dan edukasi. Meskipun, mereka yang datang ke mall tak semuanya belanja, ada yang datang untuk bertemu saja, atau makan dengan menu yang mungkin lebih terjangkau.

"Hal ini, berlanjut terus memang hingga kini. Dimana ada dua kelas masyarakat berbeda yang disebut sebagai rojali dan rohana," ucap dia.

Kelompok pertama, sebutnya, adalah masyarakat menengah bawah yang tidak belanja karena uang yang nereka pegang terbatas. Sehingga mereka, katanya, mengerem pengeluaran hanya untuk kebutuhan yang penting saja.

"Kelompok kedua adalah kelas menengah atas. Dimana mereka bukan gak mampu beli, tapi hanya saja lebih berhati-hati membelanjakan uangnya sehubungan dengan kondisi ekonomi lokal dan global," tutur dia.

Ia menegaskan, jika tren ini terus berlanjut memang dapat mempengaruhi performa penjualan tenant di pusat perbelanjaan. Hal ini tentu saja, kata dia, berdampak langsung terhadap omzet ritel yang mengalami penurunan.

Akibatnya, sebut Alphon, para penyewa gerai di mal pun menghadapi kesulitan dalam membayar sewa dan memaksa mereka berhenti beroperasi di pusat perbelanjaan. Mengenai adanya dugaan masyarakat mengalihkan belanjanya ke online shop, dia mengatakan tak menjadi masalah, karena mal memang buka pada posisi bersaing dengan online shop.

"Karena itu, kita juga sudah menyampaikan kepada para tenant untuk lebih kreatif memberikan pengalaman berbeda. Misalnya ada kuiz berhadiah, game berhadiah, interaksi yang lebih menarik,dan lainnya,"

Namun, Alphon meyakini, fenomena rojali dan rohana akan berakhir seiring dengan upaya pemerintah dan berbagai pihak lainnya meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat, terutama bagi masyarakat kelas menengah.

"Kami yakin upaya pemerintah mengenjot pertumbuhan ekonomi membuat masyarakat menengah atas lebih yakin membelanjakan uang mereka untuk kebutuhan lain. Selama ini mereka berhati-hati mengeluarkan uang dan lebih untuk investasi," ucap dia. ils/I-1

  • rombongan jarang beli (rojali)

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.