Pengemplang BLBI Dinilai Masuk Kategori Pengusaha Penganut “Serakahnomics”

Selasa, 22 Jul 2025, 01:10 WIB

KLATEN - Presiden Prabowo Subianto kembali melontarkan kritik tajam ke kelompok pengusaha yang disebutnya menganut mazhab “Serakahnomics”, sebutan untuk para pelaku usaha yang mengeruk keuntungan di atas penderitaan rakyat.

 Dalam acara peluncuran kelembagaan 80 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes) di Desa Bentangan, Wonosari, Klaten, Senin (21/7), Presiden menegaskan bahwa negara tidak perlu memperlakukan kelompok ini dengan baik.

Ket. Foto: Sambutan Presiden Prabowo - Presiden Prabowo Subianto memberi sambutan saat peluncuran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Desa Bentangan, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah, Senin (21/7). — Sumber: BPMI Setpres/Muchlis Jr

“Ini sudah bukan pengusaha yang benar. Ini bukan bisnis, ini bukan entrepreneurship. Ini adalah keserakahan, ini adalah serakah. Jadi, ini bukan mazhab ekonomi lagi, ini nggak diajarkan di fakultasfakultas,” kata Prabowo.

Ia menegaskan bahwa praktik para pengusaha tersebut tidak bisa dibenarkan oleh teori ekonomi mana pun, baik itu mazhab liberal, neoliberal, pasar bebas, maupun ekonomi komando. Presiden bahkan mengibaratkan mereka sebagai “parasit dan vampir” yang menghisap darah rakyat, sembari menyayangkan bahwa peringatan telah berkali-kali diberikan namun tidak diindahkan.

Menanggapi pernyataan tersebut, Pengamat Hukum dan Pembangunan, Hardjuno Wiwoho, menilai bahwa istilah Serakahnomics sangat tepat digunakan untuk menyebut kelompok pengusaha pemburu rente yang telah lama merugikan bangsa, terutama dalam kasus skandal Obligasi Rekap Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) di masa lalu. “Para pengemplang BLBI itu adalah wajah nyata Serakahnomics.

Sampai hari ini negara masih membayar bunga atas obligasi rekapitalisasi yang diterbitkan untuk menalangi kerugian bank-bank yang digelapkan dana publiknya. Jumlahnya mencapai ratusan triliun rupiah. Ini beban nyata di dalam APBN yang diwariskan dari generasi ke generasi,” tegas Hardjuno. Ia menjelaskan bahwa Obligasi Rekap BLBI yang diterbitkan pemerintah pasca-krisis 1998 memang menjadi solusi darurat saat itu, tetapi efek jangka panjangnya menjadi bom fiskal yang terus menggerogoti ruang belanja sosial.

Alih-alih dibayar oleh pelaku kejahatan keuangan, utang itu justru ditanggung oleh rakyat melalui pajak. “Bayangkan, rakyat kecil bayar pajak untuk menanggung bunga obligasi yang seharusnya dibayar oleh para taipan yang melarikan dana BLBI. Ini bukan sekadar keserakahan, ini adalah perampokan sistemik yang dilanggengkan oleh negara,” kata Hardjuno. Selain itu, ia menyoroti praktik rent seeking melalui impor pangan dan energi yang makin mengakar dalam sistem ekonomi Indonesia.

Menurutnya, model bisnis yang bertumpu pada kedekatan kekuasaan tanpa memberi nilai tambah nyata hanya akan menghancurkan daya saing nasional dan memperlebar ketimpangan. “Rent seeking membunuh persaingan sehat. UMKM mati pelan-pelan, ekonomi desa tidak bergerak, tapi elite rente terus menumpuk aset,” tambah Hardjuno.

Belum Merdeka

Presiden Prabowo dalam pidatonya juga menegaskan bahwa kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan ekonomi. Meski Indonesia sudah memiliki semua bentuk kelembagaan formal seperti DPR, MPR, DPD, gubernur, dan menteri, namun selama rakyat masih kelaparan dan miskin, kemerdekaan itu belumlah lengkap.

“Kita belum merdeka. Rakyat kita masih sangat miskin, kita belum merdeka,” kata Presiden. Untuk itulah program Koperasi Desa Merah Putih dibentuk untuk membangun ekonomi dari desa, menciptakan pemerataan, dan membebaskan masyarakat dari kemiskinan struktural.

  • Ketimpangan Sosial

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S

Berita Terbaru

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.