Investor Fokus ke Tarif Dagang AS dan Kebijakan The Fed, Intip Proyeksi Rupiah Awal Pekan ini
Senin, 21 Jul 2025, 13:40 WIBJAKARTA â Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperÂkirakan bergerak fluktuatif dalam perdagangan awal pekan ini. Sentimen pergerakan rupiah bakal didominasi faktor dari global, terutama Amerika Serikat (AS).Â
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengataÂkan sepekan ini absen data penting ekonomi, baik dari daÂlam maupun luar. Karenanya, investor akan terus memanÂtau perkembangan seputar tarif dagang AS dan pernyataan para pejabat bank sentral AS atau the Fed terutama GuberÂnur Jerome Powell yang akan berpidato pada Selasa (22/7) waktu setempat.
Karenanya, Lukman memproyeksikan kurs rupiah terÂhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarÂbank, Senin (21/7), bergerak di kisaran 16.250 â 16.350 ruÂpiah per dollar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Jumat (20/7), di Jakarta menguat sebesar 44 poin atau 0,27 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.297 rupiah per dollar AS. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi peningkatan minat pelaku pasar asing terhadap pasar saham dan obligasi negara.
âPeningkatan minat pelaku pasar asing terhadap pasar saham dan obligasi negara didorong oleh semakin meÂlebarnya âspreadâ suku bunga obligasi negara Indonesia dan AS (Amerika Serikat), serta ekspektasi masih berlanjutÂnya penurunan suku bunga acuan oleh BI (Bank Indonesia) sampai dengan akhir tahun ini,â katanya di Jakarta, Jumat (18/7).
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, diputuskan pemotongan suku bunga 25 basis points (bps) ke level 5,25 persen. Suku bunga deposit facility diputuskan juga turun sebesar 25 bps menjadi pada level 4,5 persen.
Begitu pula suku bunga lending facility yang diputuskan untuk turun sebesar 25 bps menjadi pada level 6 persen. Sejauh ini, BI telah memangkas BI-Rate sebanyak tiga kali sejak awal tahun masing-masing sebesar 25 bps yang terÂjadi pada Januari, Mei dan Juli. Ruang penurunan BI-Rate masih terbuka hingga akhir 2025.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan ruang penurunÂan BI-Rate akan mempertimbangkan faktor-faktor seperti prakiraan inflasi yang semakin rendah pada 2025 dan 2026, rupiah yang stabil, dan terus perlunya untuk mendorong pertumbuhan ekonom. Artinya, terkait timing dan sebeÂrapa bps penurunan BI-Rate, akan ditentukan sesuai dinaÂmika perekonomian global maupun domestik.
Penguatan kurs rupiah turut dipengaruhi penguatan mayoritas mata uang regional Asia seiring pernyataan dovÂish dari anggota Federal Reserve (The Fed). Pejabat The Fed Christopher Waller menyampaikan bahwa kebijakan tarif AS takkan sepenuhnya ditanggung konsumen dan data-data teÂnaga kerja dinilai dapat melemah ke depan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Pullman Jakarta Central Park Sabet Penghargaan Best Convention Hotel Asia Pasifik 2025–2026
-
Ungkapan Kasus Penyelundupan, 23 Personel Avsec Bandara Soetta Terima Apresiasi
-
KKN di Pakal Surabaya, Universitas Wijaya Kusuma Optimalkan Potensi Lokal Berbasis Pertanian, Peternakan, dan UMKM
-
Gempa M 6,7 Guncang Sulawesi Tengah, Wagub Pastikan Penanganan Warga Terdampak Berjalan
-
Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadir pada Puncak PENAS KTNA XVII di Gorontalo
-
Kolombia vs Kongo DR: Los Cafeteros Bidik Tiket 32 Besar, Leopards Incar Sejarah Baru
-
TVRI Pastikan Kesiapan Siara Piala Dunia 2026 Hampir 100 Persen
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.