Gagal Bangkit di Japan Open 2025
Senin, 21 Jul 2025, 07:36 WIBJAKARTA - Krisis prestasi bulu tangkis Indonesia kembali menjadi sorotan. Tak satu pun wakil Merah Putih berhasil menembus babak semifinal Japan Open 2025. Tiga wakil tersisa di perempat final, Putri Kusuma Wardani, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, serta Lanny Tria Mayasari/Siti Fadia Silva Ramadhanti, kompak tumbang.
Hasil ini menandai kegagalan beruntun wakil Indonesia menjuarai turnamen level atas. Katanya mau bangkit di Japan Open, ternyata gagal dan gagal melulu. Sepanjang tujuh bulan pertama, belum ada satu pun gelar yang diraih dari turnamen berlevel Super 500 ke atas.
Gelar juara hanya datang dari dua turnamen Super 300, lewat pasangan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta serta Lanny/Fadia. Di nomor tunggal putri, Putri KW menjadi wakil terakhir yang bertahan.
Dia kalah dari unggulan kedua asal Tiongkok, Wang Zhi Yi, 22-20, 17-21, 16-21. Meski sempat merebut gim pertama, Putri gagal menjaga ritme permainan dan kehilangan fokus pada poin-poin krusial.
âPermainan belum konsisten. Saat poin-poin akhir, Wang lebih berani spekulasi dan saya terburu-buru,â ungkap Putri. Dia mengakui masih perlu membenahi fokus dan ketahanan mental dalam pertandingan penentu.
Dari sektor ganda putra, Fajar/Rian (kini dengan Fikri) kembali gagal membalas kekalahan atas pasangan Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin. Mereka takluk dalam laga dramatis 13-21, 21-17, 20-22. Ini kekalahan keempat Fajar dari pasangan tersebut, tiga di antaranya lewat rubber game.
Sementara itu, dari ganda putri, Lanny/Fadia gagal menembus dominasi unggulan pertama asal Tiongkok, Liu Sheng Shu/Tan Ning. Setelah menang telak di gim pertama, Lanny/Fadia kalah 21-10, 17-21, 16-21.
Kegagalan di Japan Open 2025 semakin menegaskan penurunan performa Indonesia di panggung elite bulu tangkis dunia. Dalam turnamen berlevel Super 750 ini, lawan-lawan dari Tiongkok, Jepang, dan Malaysia tampil lebih siap secara fisik dan strategi. Wakil Indonesia kerap kesulitan menjaga konsistensi saat momentum berpindah.
Ini terjadi sangat sering dan tidak ada perbaikan. Pelatih tunggal putri, Imam Thohari, menyoroti inkonsistensi anak asuhnya, terutama Putri KW dan Gregoria Mariska Tunjung. âPutri sudah mulai menunjukkan progres. Tapi di gim penentuan, hal-hal kecil seperti ketidaksabaran masih muncul,â ujar Imam.
Gregoria, yang absen dari turnamen selama tiga bulan, juga belum kembali ke bentuk terbaik. âDia kehilangan ritme dan insting permainan. Pukulan dan kelincahannya juga masih terbatas,â tambah Imam.
Dengan Kejuaraan Dunia semakin dekat, evaluasi besar dibutuhkan di semua sektor. Minimnya gelar dan kegagalan bersaing di level atas menjadi tanda peringatan bagi PBSI untuk segera membenahi program pembinaan dan pola kompetisi. ben/G-1
- Japan Open 2025
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.