Astronom untuk Pertama Kalinya Saksikan Kelahiran Tata Surya
Kamis, 17 Jul 2025, 07:58 WIBPARIS - Untuk pertama kalinya, para astronom dilaporkan berhasil mengamati tahap paling awal pembentukan planet di sekitar bintang yang jauh, menawarkan wawasan baru tentang bagaimana tata surya kita mungkin bermula.
Sistem planet ini sedang terbentuk di sekitar HOPS 315, sebuah bintang muda yang terletak sekitar 1.300 tahun cahaya dari Bumi di Nebula Orion. HOPS 315 diyakini menyerupai Matahari di masa pertumbuhannya.
Bintang-bintang muda biasanya dikelilingi oleh cincin gas dan debu raksasa yang dikenal sebagai cakram protoplanet, tempat berkembang biaknya planet-planet baru. Di dalam cakram ini, mineral-mineral kristal yang mengandung silikon monoksida dapat menggumpal, dan akhirnya membesar menjadi planetesimal berukuran kilometer. Planet-planet ini kemudian dapat berkembang menjadi planet yang utuh.
Dalam tata surya kita, mineral-mineral itu disebut "adonan awal" untuk planet-planet seperti Bumi dan Jupiter, diyakini telah terperangkap di dalam meteorit purba.
Kini, para peneliti telah menemukan tanda-tanda serupa pembentukan planet awal di cakram yang mengelilingi HOPS 315. Temuan tersebut dipublikasikan di jurnal Nature .
"Untuk pertama kalinya, kami telah mengidentifikasi momen paling awal ketika pembentukan planet dimulai di sekitar bintang selain Matahari kita," kata penulis utama studi Melissa McClure dari Universitas Leiden di Belanda, Rabu, (16/7)
Teleskop Luar Angkasa James Webb pertama kali mendeteksi keberadaan mineral-mineral tersebut. Para astronom kemudian menggunakan teleskop ALMA milik European Southern Observatory di Cile untuk menentukan lokasinya.
Mereka menemukan mineral-mineral kristal yang berkelompok di wilayah sempit cakram, yang memiliki kemiripan dengan sabuk asteroid di tata surya kita.
Penemuan ini dapat memungkinkan para ilmuwan untuk memantau proses yang pernah membentuk Bumi dan planet-planet tetangganya.
"Kami melihat sebuah sistem yang tampak seperti tata surya kita saat baru mulai terbentuk," kata rekan penulis studi Merel van 't Hoff dari Universitas Purdue di Amerika Serikat. AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP, Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
PMB Jakarta Bisa Melalui Empat Jalur, Mulai 16 Juni
-
LPSK Sebut RUU KUHAP Perlu Atur soal Pernyataan Dampak Kejahatan yang Dialami Korban
-
Banjir Rob dan Penurunan Muka Tanah di Pesisir Jawa dan Jakarta Sudah Jadi Ancaman Serius, Menko IPK: Penanganan Tak Bisa Ditunda Lagi
-
KDM Pastikan Pemprov Jabar Tanggung Biaya Medis dan Santuni Korban Kecelakaan KA di Bekasi
-
Penutupan 22 Ruas Jalan di Jakarta Bisa Menimbulkan Kemacetan Parah
-
Duka Mudik 2026: Brigadir Fajar Permana Gugur Saat Amankan Arus Pemudik
-
Selama Ramadan, Permintaan Kolang-Kaling Alami Lonjakan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.