Trump Ancam Rusia, 50 Hari atau Tarif 100% untuk Hentikan Perang di Ukraina

Rabu, 16 Jul 2025, 11:26 WIB

Washington — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras, dalam waktu 50 hari Rusia harus mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang di Ukraina, atau AS akan memberlakukan tarif sekunder maksimum 100 persen terhadap hampir semua ekspornya. Pernyataan tegas tersebut disampaikan Trump saat bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Oval Office, pada Senin (14/7) waktu setempat.

Trump tidak menyembunyikan kekesalannya terhadap Presiden Vladimir Putin. “Saya sangat, sangat tidak puas… Saya kira kita akan mencapai kesepakatan dua bulan lalu, tapi sekarang tampaknya tidak akan tercapai,” ujarnya kepada wartawan . “Jadi, kita akan menerapkan tarif sekunder – jika tidak ada kesepakatan dalam 50 hari, sangat mudah: tarifnya akan mencapai 100%,” tambah Trump.

Selain ancaman tarif, Trump juga menyatakan kesediaan AS untuk memasok senjata kepada Ukraina melalui NATO. Ia menegaskan, anggaran akan sepenuhnya ditanggung oleh negara-negara Eropa: “AS tidak membayar apa pun. Kita yang memproduksi, mereka yang membayar,” katanya, diikuti konfirmasi dari Rutte: “Eropa akan 100% menanggung biayanya”.

Salah satu pengiriman awal adalah sistem rudal Patriot yang menurut Trump akan tiba “dalam hitungan hari”. Untuk itu, beberapa negara akan menukar perangkat Patriot miliknya ke Ukraina, dan NATO akan menyalurkan stok pengganti tersebut.

Langkah ini merupakan perubahan signifikan dari kebijakan Trump sebelumnya yang lebih terbuka terhadap dialog dengan Rusia. Kini, ia tampak mengedepankan tekanan ekonomi dan bantuan militer sebagai strategi untuk memaksa Vladimir Putin masuk ke meja perundingan.

Reaksi internasional beragam. Sekretaris Jenderal NATO dan sejumlah negara Nordik serta Baltik menyambut positif ancaman tarif dan bantuan militer sebagai tekanan terkoordinasi untuk menciptakan kesempatan perdamaian . Namun, beberapa pihak memperingatkan bahwa rentang waktu 50 hari terlalu panjang dan memberi kesempatan bagi Rusia untuk meraih keuntungan strategi militer sebelum sanksi diterapkan.

Kremlin menanggapi ancaman ini sebagai “ultimatum teatrikal” dan menuduh AS serta NATO berusaha merangsek ke wilayahnya. Namun, mereka tidak menunjukkan niat untuk meredam agresi secara instan.

Ukraina pun menyambut positif ultimatum Trump dan komitmen pasokan Patriot, meski memperingatkan agar dukungan tersebut cepat direalisasikan mengingat intensitas serangan Rusia, termasuk bom dan drone yang sempat menargetkan kota-kota besar seperti Kyiv dan Lviv.

Redaktur: Andriani Nuraini

Penulis: Andriani Nuraini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.