Kesyukuran di Tengah Dinamika Haji 2025
Minggu, 13 Jul 2025, 16:55 WIBSURABAYA - Pada 11 Juli 2025, jamaah haji kelompok terbang (kloter) terakhir tiba di tanah air. Tidak jauh berbeda dari tahun ke tahun, penyelenggaraan haji selalu mengalami "dinamika" yang patut disambut dengan kesyukuran, mengingat ujian dalam ibadah haji itu meningkatkan kualitas ibadah.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengakui memang ada berbagai kendala yang menyertai rangkaian ibadah haji. Menag mencontohkan sejumlah "dinamika" selama fase kedatangan hingga puncak haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina).
Misalnya, ada pasangan suami istri, atau anak-orang tua, atau lansia dan pendampingnya, yang terpisah hotel saat di Makkah. Saat fase Armuzna juga ada pengibadah haji yang mengalami kendala dalam penempatan tenda di Arafah. Ada juga keterlambatan penjemputan di Muzdalifah karena kemacetan.
Namun, kemacetan dan keterlambatan proses evakuasi di Muzdalifah itu tidak hanya dialami oleh jamaah haji Indonesia, tapi juga negara lainnya yang melintas pada jalur taraddudi yang sama.
Karena itu, Menag sependapat dengan Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Taufiq Al Rabiah dan Wakil Gubernur Makkah, sekaligus Wakil Ketua Komite Tetap Haji dan Umrah, Pangeran Saud bin Mishâal, yang lebih penting diperhatikan adalah perbaikan fasilitas infrastruktur, ketersediaan air, fasilitas kesehatan, sehingga angka kematian saat ini juga lebih rendah.
Ya, dinamika haji yang dimaksud Menag itu pun diungkapkan oleh peserta ibadah haji dari embarkasi/debarkasi Surabaya (Jatim).
Sebenarnya, kata peziarah haji dari Gresik, petugas haji sudah memotivasi jamaah agar mensyukuri keterpisahan hotel yang dialami di Tanah Suci. Keterpisahan seperti itu pernah dialami Nabi Adam dan Siti Hawa, atau Nabi Ibrahim dan Siti Hajar.
Peserta haji dalam satu kloter, pada tahun ini, banyak yang saling terpisah hotelnya. Bahkan mereka yang masuk kloter terakhir terpencar di 30 hotel berbeda.Â
Pengibadah haji asal Gresik itu membenarkan motivasi dari seorang petugas agar jamaah memahami keterpisahan sebagai esensi haji dan menerima pengalaman itu sebagai takdir untuk kebaikan.
Ia bersyukur pengalaman keterpisahan di Tanah Suci yang terjadi tahun ini juga relatif tertangani, karena petugas kloter dan pembimbing haji juga "turun gunung" ke hotel-hotel yang ada untuk menemui jamaah haji, sembari memotivasi agar tetap terus bersyukur.
Syukur itu tetap digemakan dalam hati, karena keterpisahan justru juga pernah dialami Nabi Adam yang akhirnya bertemu di Padang Arafah, dan menjadi pengalaman Nabi Ibrahim yang harus meninggalkan isteri Siti Hajar di gurun yang tandus.
Arah kebijakan haji
Selain di darat, dinamika musim haji 2025 juga terjadi di udara, karena Kelompok Terbang (Kloter) 43 Debarkasi Surabaya asal Kabupaten Banyuwangi, kepulangannya tertunda dua hari dari jadwal, yang mestinya tanggal 24 Juni menjadi 26 Juni.
Sedangkan Kloter 44 yang juga tertunda sehari kepulangannya menjadi 25 Juni jadi terbang lebih dahulu ketimbang Kloter 43 itu. Penundaan itu terjadi akibat dinamika ketegangan yang melanda kawasan Timur Tengah dengan terjadinya serangan rudal Iran ke Pangkalan Militer Amerika Serikat di Qatar, sehingga aktivitas penerbangan di langit Timteng terhenti.
Namun, penundaan demi keamanan itu justru membuat jamaah Kloter 43 yang berjumlah 380 orang itu dievakuasi di sebuah hotel kawasan kota Jeddah, Arab Saudi, yang mewah sambil menunggu aktivitas penerbangan di kawasan Timur Tengah dibuka kembali. Itulah dinamika Timur Tengah.
Purwati dan suaminya yang berprofesi sebagai penjual arang di Banyuwangi, atau pasangan suami-istri Muhammad Nur Fauzi dan Tasna, mengenang pelayanan dari Maskapai Saudia Airlines yang dirasa mewah selama proses evakuasi di Jeddah.
Meski tertunda, Tasna, sempat merasakan kepanikan sebentar dan selebihnya justru bersyukur, karena akhirnya justru bisa tidur di hotel bintang 5 dengan makan-minum terjamin semuanya. "Yang suami-istri bisa ber-enjoy di hotel," kata Sekretaris Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Surabaya Sugiyo melontarkan canda.
Perlu diingat juga kejadian ketika Kloter 33 SUB terpaksa transit di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, setelah menerima ancaman teror bom.
Dari "dinamika" musim haji yang tak lepas dari "ujian" bagi para jamaah haji itu,  evaluasi dan penyesuaian arah kebijakan antara kedua negara menjadi kata kunci pelayanan yang dinamis tapi tetap nyaman. Apalagi jamaah haji Indonesia itu mayoritas lanjut usia dan orang dengan risiko tinggi.
Untuk tahun ini, evaluasi dan sinkronisasi terkait sistem syarikah yang mungkin perlu adalah sistem syarikah terkendali/terpusat   agar ketika data jamaah haji Indonesia ada perbedaan teknis antara data pertama dan data susulan, maka syarikah pegang data yang relatif sama.
Hal itu pun diakui Direktur Layanan Haji Luar Negeri Kemenag Muchlis Hanafi bahwa sejak 2022 memang terjadi transformasi sistem haji dari sistem berbasis geografis menjadi berbasis syarikah, yang tujuannya mempermudah pengendalian layanan oleh syarikah yang langsung kepada jamaah dan Pemerintah Arab Saudi juga.
Layanan syarikah lebih terfokus pada sistem koordinasi pelaporan dari syarikah kepada Kementerian Haji selaku otoritas setempat. "Kalau ada terjadi apa-apa, respons di lapangan juga dilakukan oleh syarikah yang menggaransi jamaah," kata Muchlis.
Konsekuensi dari sistem tersebut adalah jamaah diinapkan pada hotel-hotel yang berbeda sesuai dengan syarikah bila input data bertahap. Namun kualitas maupun kuantitas layanan pada jamaah tidak berkurang, meski ada kurang nyaman, karena itu pelayanan berbasis kloter pun harus disesuaikan dengan pelayanan berbasis syarikah.
Selebihnya, dinamika haji tetap perlu disikapi sesuai petunjuk dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah Ayat 197 agar kemabruran dijaga dengan menghindari rafats (perbuatan tak senonoh), fusuq (mencaci/ provokasi), dan jidal (tidak santun/memicu emosi).
Ya, Al-Qur'an mengajarkan pentingnya akhlak pasca-haji, selain peningkatan ibadah dan kesabaran. Akhlak pasca-haji itu sudah disebut dalam QS Al-Baqarah 197 itu, karena itu "kesyukuran" atas pembelajaran pasca-haji adalah mengabarkan cerita haji yang baik dan menyimpan cerita haji yang kurang baik; tentu, tetap perlu disertai sinkronisasi kebijakan haji selanjutnya. Ant
- Evaluasi Haji 2025
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Opik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.