Barang Ilegal Bisa Makin Gampang Masuk! Relaksasi Impor Tuai Kritik

Senin, 30 Jun 2025, 20:42 WIB

JAKARTA – Pelonggaran aturan impor dapat membuat industri dalam negeri kesulitan bersaing dengan produk impor yang lebih murah atau berkualitas, yang berpotensi menyebabkan PHK atau bahkan kebangkrutan.

Jika tidak dikelola dengan baik, relaksasi impor dapat membuat ketergantungan pada produk impor, yang berbahaya bagi ketahanan ekonomi. Pemerintah perlu memastikan tidak ada praktik curang dalam impor, seperti dumping atau subsidi yang tidak adil, yang dapat merugikan industri dalam negeri.

Ket. Foto: Kapal peti kemas milik negara asing melakukan akitvitas bongkar muat komoditas ekspor impor di dermaga JICT Tanjung Priok, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja

Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) Piter Abdullah menilai, kebijakan pemerintah untuk merelaksasi impor terhadap 10 komoditas merupakan langkah positif, namun perlu diiringi dengan penguatan hukum guna menangkal masuknya barang-barang impor ilegal.

“Jadi, bagaimana kita membuka lagi, memunculkan kembali industri kita, tidak cukup hanya sekadar kita melakukan deregulasi (impor), tetapi itu harus menjadi sebuah paket yang terintegrasi, paket lengkap, termasuk juga bagaimana kita mengatasi persoalan hukum,” ujar Piter, usai menghadiri konferensi pers Peluncuran Prasasti Center for Policy Studies, di Jakarta, Senin (30/6).

Ia menekankan bahwa relaksasi impor tidak boleh dipandang sebagai solusi tunggal untuk memperkuat industri dalam negeri. Diperlukan sebuah paket kebijakan guna mengatasi tantangan struktural industri nasional.

Pemerintah telah merevisi aturan impor melalui Permendag Nomor 16 Tahun 2025 sebagai pengganti Permendag Nomor 8 Tahun 2024.

Perubahan tersebut mencakup relaksasi terhadap 10 komoditas, seperti bahan baku plastik, bahan kimia, pupuk bersubsidi, alas kaki, dan sepeda roda dua dan tiga.

Deregulasi ini merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menghadapi ketidakpastian global dan menjaga daya saing industri nasional.

Meski demikian, Piter menilai bahwa persoalan yang dihadapi industri dalam negeri tidak semata pada izin atau regulasi, melainkan juga pada ketergantungan terhadap bahan baku impor dan membanjirnya barang jadi dari luar negeri, terutama yang masuk secara ilegal.

“Barang-barang impor itu dibutuhkan, tetapi persoalannya adalah sejauh mana dan barang impor yang mana. Karena industri kita sekarang ini dalam posisi ketergantungan barang bahan baku, barang penolong dari impor itu besar sekali," katanya lagi.

Piter mengingatkan bahwa kehadiran barang impor akan menjadi ancaman jika yang masuk adalah barang jadi untuk konsumsi langsung, terlebih lagi jika itu merupakan barang selundupan.

Ia mencontohkan industri tekstil dan alas kaki yang belakangan mengalami gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), karena kalah bersaing dengan produk impor murah. Ini mengakibatkan struktur biaya produksi dalam negeri menjadi tidak kompetitif karena adanya barang selundupan.

Lebih lanjut, Piter menekankan pentingnya penguatan sistem pengawasan di lapangan agar relaksasi tidak disalahgunakan. Menurutnya, menciptakan iklim usaha yang sehat dan kompetitif juga harus dibarengi dengan pemberantasan penyelundupan dan perbaikan sistem perizinan yang transparan.

"Karena karena barang itu akhirnya secara struktur cost, dia menghabisi barang-barang produksi dalam negeri kita," ujarnya pula.

  • relaksasi impor

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

Berita Terbaru

BNPB Evakuasi Lansia Korban Gempa Pulau Palue ke RSUD Maumere, Begini Kondisinya

Mau Bayar Pajak Kendaraan Bermotor? Ini 14 Lokasi Samsat Keliling Jadetabek Senin

Jumlah rumah rusak akibat gempa di NTT

Cabai Rawit Makin Pedas! Harga Capai Rp69.950/Kg dan Telur Ayam Rp29.250

Mengkhawatirkan! Burung Ekek Keling Sunda Terancam Punah, Populasinya Kian Menurun

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.