Ketegangan di Timur Tengah Berpotensi Guncang Pasar Keuangan RI

Selasa, 24 Jun 2025, 01:05 WIB

JAKARTA - Tensi ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah khususnya saling erang antara Israel dan Iran berpotensi memicu guncangan besar pada pasar energi global. Potensi lonjakan harga minyak itu bisa berdampak signifikan ke Indonesia sebagai negara net importir minyak. 

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan Indonesia saat ini bukan lagi eksportir minyak, sehingga setiap kenaikan harga minyak mentah secara langsung berdampak pada biaya impor dan tekanan terhadap neraca perdagangan.

Ket. Foto: Yusuf Rendy Manilet Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia - Justru karena sifat konflik ini berpotensi meluas di kawasan yang menjadi poros energi dunia, antisipasi harus tetap dilakukan secara serius. — Sumber: antara

Dampak lanjutan yang paling cepat terasa adalah pada nilai tukar (kurs) rupiah.

Ketika harga minyak naik dan ketidakpastian global meningkat, lanjutnya, investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk dialihkan ke berbagai aset safe haven seperti dollar Amerika Serikat (AS) dan emas. Hal itu akan berakibat pada pelemahan kurs rupiah.

“Kita sudah melihat pola ini berulang kali dalam krisis global sebelumnya, ketegangan geopolitik langsung memicu volatilitas pasar uang,” ungkapnya.

Pelemahan rupiah kemudian dianggap akan membawa implikasi fiskal yang cukup serius, terutama terhadap beban subsidi pemerintah.

Saat harga minyak dunia naik dan rupiah melemah, kata dia, maka harga keekonomian bahan bakar minyak (BBM) otomatis melonjak. Padahal, apabila pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi tetap seperti pertalite dan solar, selisih antara harga pasar dan harga jual harus ditanggung Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dalam bentuk tambahan subsidi energi.

“Artinya, ruang fiskal menjadi semakin sempit, dan ini bisa mengganggu prioritas anggaran lain seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, atau kesehatan,” jelasnya.

Situasi itu juga dinilai membawa nuansa deja vu terhadap dampak ekonomi yang terjadi di awal perang Russia-Ukraina. Kala itu, eskalasi konflik menyebabkan lonjakan tajam harga komoditas, ketidakpastian pasar keuangan, hingga tekanan berat terhadap subsidi energi nasional.

“Meskipun magnitudo konflik Iran-Israel saat ini belum sebesar invasi Russia ke Ukraina, bukan berarti dampaknya bisa diremehkan. Justru karena sifat konflik ini berpotensi meluas di kawasan yang menjadi poros energi dunia, antisipasi harus tetap dilakukan secara serius,” katanya kepada Antara, di Jakarta, Senin (23/6).

Gangguan Pasokan

Mengutip Anadolu Agency, harga minyak mentah melonjak 11 persen selama seminggu terakhir yang berakhir pada 19 Juni, karena ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran mencapai titik tertinggi baru.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan dan perdagangan di Timur Tengah.

Harga minyak mentah jenis Brent di pasar spot global tercatat naik dari level penutupan 69,65 dollar AS per barel pada 12 Juni, sehari sebelum Israel melancarkan serangan terhadap target-target Iran, menjadi 77,32 dollar AS per barel pada 19 Juni. Sedangkan, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga naik 11 persen selama periode yang sama.

Meskipun mengalami kenaikan baru-baru ini, harga minyak Brent tetap di bawah rata-rata tahun 2024 sebesar 80 dollar AS per barel.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.