Rupiah Kembali Terperosok! Konflik Jauh di Sana, Dampaknya Terasa di Sini!

Senin, 23 Jun 2025, 17:05 WIB

JAKARTA - Rupiah kembali tertekan dalam perdagangan di pasar uang antarbank pada awal pekan ini. Hal itu melanjutkan catatan negatif pada akhir pekan lalu. 

Pelemahan rupiah masih dipengaruhi sentimen eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Perang Iran dan Israel yang turut menyeret sekutu kedua belah pihak, mendorong gejolak di pasar komoditas global, terutama minyak mentah dunia. 

Ket. Foto: Uang kertas rupiah dan dolar AS. — Sumber: Antara

Kondisi itu tentunya bakal berdampak pada negara importir minyak, termasuk Indonesia. Salah satunya adalah memicu pelemahan mata uang rupiah. 

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Senin (23/6), di Jakarta melemah sebesar 96 poin atau 0,58 persen menjadi Rp16.492 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.397 per dolar AS.

Pengamat mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menganggap pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah pada Senin, dipengaruhi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Kondisi ini dinilai mengancam stabilitas pasokan minyak global dan inflasi yang akan meningkat.

“Pasar terus merespons negatif kondisi global yang terus meningkat akibat eskalasi di Timur Tengah terus memanas setelah AS (Amerika Serikat) ikut bersama Israel melakukan penyerangan terhadap fasilitas nuklir Iran, yang membuat harga minyak mentah melambung tinggi,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Saat ini, Indonesia diperkirakan mengimpor minyak mentah sebanyak 1 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).

Ancaman terbesar dari konflik ini terhadap ekonomi Tanah Air berasal dari potensi lonjakan harga minyak dunia, mengingat Indonesia bukan lagi eksportir minyak bersih, sehingga setiap kenaikan harga minyak mentah secara langsung berdampak pada biaya impor dan tekanan terhadap neraca perdagangan.

Sebagaimana diungkapkan peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, ancaman terbesar dari konflik ini terhadap ekonomi Indonesia berasal dari potensi lonjakan harga minyak dunia.

Indonesia disebut bukan lagi eksportir minyak bersih, sehingga setiap kenaikan harga minyak mentah secara langsung berdampak pada biaya impor dan tekanan terhadap neraca perdagangan.

Dampak lanjutan yang paling cepat terasa adalah pada nilai tukar (kurs) rupiah.

Ketika harga minyak naik dan ketidakpastian global meningkat, lanjutnya, investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk dialihkan ke berbagai aset safe haven seperti dolar Amerika Serikat (AS) atau emas. Hal ini berakibat pada pelemahan kurs rupiah.

Pelemahan rupiah kemudian dianggap akan membawa implikasi fiskal yang cukup serius, terutama terhadap beban subsidi pemerintah.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.