Unik, Dosen UGM Jadi Guru Besar Berkat Riset Budaya Masuk Angin

Kamis, 12 Jun 2025, 06:00 WIB

Masuk angin mungkin tak dikenal dalam kamus penyakit medis internasional, tetapi justru karena posisinya sebagai gejala yang diyakini luas oleh masyarakat, ia menjadi pintu masuk penting dalam studi antropologi kesehatan. Hal inilah yang diangkat oleh Prof. Dr. Atik Triratnawati, M.A., dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Antropologi Kesehatan, Selasa (10/6) di Balai Senat UGM.

Menurut Atik, masuk angin adalah contoh nyata gangguan kesehatan yang berada di persimpangan antara budaya dan medis. Ia menyebut fenomena ini sebagai bagian dari pengalaman sakit yang dimaklumi dan diwariskan dalam cara pandang masyarakat Jawa, lalu meluas menjadi keyakinan kolektif masyarakat Indonesia.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. UGM

“Secara budaya, masuk angin termasuk ke dalam ranah magis atau sihir, karena gejalanya tidak selalu jelas dan kadang mendadak membuat seseorang tidak bisa beraktivitas,” ujarnya.

Dalam masyarakat Jawa, Atik mencatat ada tiga jenis masuk angin yang dibedakan berdasarkan tingkat keparahan dan respon tubuh: masuk angin biasa, masuk angin berat, dan masuk angin kasep atau yang lebih dikenal sebagai angin duduk. Masuk angin biasa ditandai dengan gejala ringan seperti kembung, demam ringan, dan pegal, serta masih memungkinkan penderitanya beraktivitas seperti biasa.

Masuk angin berat terjadi ketika seseorang terus memaksa diri bekerja meski tubuh sudah menunjukkan gejala awal. “Biasanya disebabkan karena menunda makan, minum, dan istirahat. Akibatnya muncul gejala tambahan seperti muntah dan mencret,” jelas Atik. Sementara itu, masuk angin kasep dianggap sebagai kondisi yang terlambat ditangani dan bisa berakibat fatal, ditandai dengan nyeri dada dan risiko pingsan mendadak. “Kalau tidak segera ditangani, bisa menyebabkan kematian,” tambahnya.

Beragamnya jenis masuk angin juga diikuti dengan beragamnya metode penyembuhan. Dari pengobatan rumahan seperti menggosokkan kotoran sapi di perut anak balita, hingga petani yang minum minuman bersoda untuk mengusir masuk angin. Namun menurut Atik, kerokan tetap menjadi metode pengobatan yang paling dikenal luas di masyarakat Jawa, bahkan menjadi semacam terapi komunal.

“Kerokan bukan hanya menghangatkan tubuh, tapi juga menjadi pengalaman sosial yang dipercaya dapat memulihkan tubuh dan jiwa,” terangnya. Meski demikian, dalam dunia medis, kerokan masih diperdebatkan. Di satu sisi dianggap dapat merusak kulit dan pembuluh darah, tapi di sisi lain juga diyakini dapat memperlancar aliran darah dan menaikkan suhu tubuh, selama dilakukan dengan benar.

Atik menekankan bahwa cara masyarakat memaknai sehat dan sakit dalam kebudayaan Jawa sangat berbeda dari pandangan biomedis. Ia menyebut bahwa kerokan yang menyakitkan justru bertentangan dengan prinsip penyembuhan tradisional. “Kerokan yang baik tidak harus menyakitkan. Intinya ada pada rasa hangat dan relaksasi,” pungkasnya.

Pengukuhan Atik sebagai Guru Besar menjadikannya bagian dari 17 guru besar aktif di FIB UGM, dan memperkuat jajaran 532 guru besar aktif di tingkat universitas. Studi lintas budaya yang ia tekuni menunjukkan bahwa dalam memahami kesehatan masyarakat Indonesia, pendekatan medis perlu dibuka dengan dialog kebudayaan yang lebih luas.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

Berita Terbaru

Harga Emas Antam Senin 24 Agustus 2026 Naik, Segini Harga Terbarunya

Kabar Baik! Rupiah Menguat ke Rp17.690 per Dolar AS

BNPB Evakuasi Lansia Korban Gempa Pulau Palue ke RSUD Maumere, Begini Kondisinya

Mau Bayar Pajak Kendaraan Bermotor? Ini 14 Lokasi Samsat Keliling Jadetabek Senin

Jumlah rumah rusak akibat gempa di NTT

Cabai Rawit Makin Pedas! Harga Capai Rp69.950/Kg dan Telur Ayam Rp29.250

Mengkhawatirkan! Burung Ekek Keling Sunda Terancam Punah, Populasinya Kian Menurun

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.