Saat Roh Kudus Turun dan Keberanian Iman Dinyalakan di Hari Pentakosta GKJ Gondokusuman Yogya

Senin, 09 Jun 2025, 18:25 WIB

YOGYAKARTA– Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gondokusuman merayakan Hari Pentakosta pada Minggu (8/6/2025) dengan penuh kesungguhan iman. Dalam suasana liturgi yang kental nuansa merah—simbol lidah api yang turun dari langit—umat diajak menghayati kembali peristiwa ketika Roh Kudus hadir sebagai Sang Penolong dan menyalakan keberanian untuk bersaksi.

Pendeta Yudo Aster Daniel menjelaskan, Pentakosta adalah momentum penting dalam kehidupan gereja karena menandai penggenapan janji Tuhan Yesus akan datangnya Roh Kudus. “Sepuluh hari setelah kenaikan Tuhan Yesus, Roh Kudus turun dalam rupa lidah-lidah api atas murid-murid yang sedang berkumpul. Peristiwa itu memampukan mereka untuk bersaksi, dari yang semula takut menjadi berani,” tuturnya.

Ket. Foto: — Sumber: Eko S

Peristiwa itu terjadi bertepatan dengan Hari Raya Tujuh Minggu dalam tradisi Yahudi, ketika orang-orang dari berbagai bangsa berkumpul di Yerusalem. Roh Kudus turun, memungkinkan para murid berbicara dalam berbagai bahasa, dan membuat banyak orang dari latar belakang berbeda memahami kesaksian mereka. “Itulah tanda pemersatu dalam iman. Meskipun bahasanya berbeda, semuanya dipersatukan oleh kuasa Roh Kudus,” lanjut Pendeta Yudo.

Dalam tradisi gereja, Pentakosta juga dikaitkan dengan syukur atas hasil kerja. Jemaat GKJ Gondokusuman mengungkapkan rasa syukur melalui persembahan unduh-unduh, yang dapat berupa hasil bumi, ternak, atau bentuk lain sesuai pekerjaan masing-masing umat. “Prinsipnya adalah mengembalikan berkat yang diterima kepada Tuhan sebagai wujud syukur,” jelasnya.

Ibadah Pentakosta di GKJ Gondokusuman dilaksanakan sebanyak lima kali, dengan satu di antaranya menggunakan bahasa Jawa. Lagu-lagu tematik Pentakosta mengiringi ibadah, memperkuat makna kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. “Lagu-lagu itu lahir dari penghayatan iman, dari pengalaman akan kuasa Roh Kudus yang menyertai kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Meski tidak secara resmi disebut sebagai hari lahir gereja, Pentakosta sering dianggap sebagai cikal bakal gereja. Dalam istilah Yunani, gereja berasal dari kata eklesia, yang berarti “dipanggil keluar”. Artinya, orang-orang percaya dipanggil keluar dari kehidupan lama menuju kehidupan yang benar dalam Kristus.

“Pentakosta meneguhkan panggilan itu. Roh Kudus hadir bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai kekuatan nyata yang menyertai, menolong, dan menyalakan kembali semangat untuk hidup dalam iman dan kesaksian,” pungkas Pendeta Yudo.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.