Pertikaian Trump-Musk Mengancam Program Luar Angkasa AS

Minggu, 08 Jun 2025, 15:00 WIB

WASHINGTON - Roket SpaceX mengangkut astronot AS ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Konstelasi satelit Starlink-nya menyelimuti dunia dengan jaringan pita lebar, dan perusahaan tersebut terlibat dalam beberapa proyek Pentagon yang paling sensitif, termasuk pelacakan rudal hipersonik.??

Jadi, ketika Presiden Donald Trump pada hari Kamis mengancam akan membatalkan kontrak federal Elon Musk, para pengamat luar angkasa langsung waspada. 

Ket. Foto: Trump dan Musk yang terlihat saling memuji di Ruang Oval kurang dari seminggu lalu, kini berselisih paham. — Sumber: Sunday Times

Musk, orang terkaya di dunia, membalas ia akan menghentikan sementara Dragon -- kapsul yang diandalkan NASA untuk penerbangan krunya -- sebelum kemudian menarik kembali ancamannya.

Saat ini, para ahli mengatakan ketergantungan bersama seharusnya dapat mencegah keretakan total, tetapi episode ini memperlihatkan betapa mengganggunya setiap keretakan yang mungkin terjadi.

Didirikan pada tahun 2002, SpaceX melampaui kontraktor lama untuk menjadi penyedia peluncuran yang dominan di dunia.

Didorong oleh ambisi Musk untuk menjadikan umat manusia multiplanet, kini SpaceX menjadi satu-satunya sarana NASA untuk mengirim astronot ke ISS -- simbol kerja sama pasca-Perang Dingin dan tempat uji coba untuk misi luar angkasa yang lebih dalam.

Monopoli Ruang Angkasa?

Perusahaan tersebut telah menyelesaikan 10 rotasi kru reguler ke laboratorium yang mengorbit dan dikontrak untuk empat rotasi lagi, berdasarkan kesepakatan senilai hampir $5 miliar.

Itu hanyalah sebagian dari portofolio yang lebih luas yang mencakup $4 miliar dari NASA untuk mengembangkan Starship, roket raksasa generasi berikutnya; hampir $6 miliar dari Angkatan Luar Angkasa untuk layanan peluncuran; dan dilaporkan $1,8 miliar untuk Starshield, jaringan satelit mata-mata rahasia.

Jika Dragon dihentikan, Amerika Serikat akan kembali terpaksa mengandalkan roket Soyuz Russia untuk akses ISS -- seperti yang terjadi antara tahun 2011 dan 2020, setelah pesawat ulang-alik pensiun dan sebelum Crew Dragon mulai beroperasi.

"Dalam iklim geopolitik saat ini, itu tidak akan optimal," kata analis luar angkasa Laura Forczyk kepada AFP.

NASA berharap Starliner milik Boeing akan menyediakan redundansi, tetapi penundaan yang terus-menerus -- dan kegagalan uji awak tahun lalu -- telah membuat pesawat itu tidak dapat dioperasikan lagi. 

Bahkan misi kargo Northrop Grumman kini bergantung pada Falcon 9 milik SpaceX, andalan armada roketnya.

Situasi ini juga membayangi program Artemis NASA.

Varian pendaratan di Bulan dari Starship dijadwalkan untuk Artemis III dan IV, misi berawak AS berikutnya ke Bulan. Jika Starship dikesampingkan, pesaingnya Blue Origin dapat diuntungkan -- tetapi jadwalnya hampir pasti akan mundur, memberi kesempatan kepada Tiongkok, yang bermaksid akan mendaratkan manusia pada tahun 2030, untuk sampai di sana terlebih dahulu, Forczyk memperingatkan.

"Sangat sedikit wahana peluncur yang memiliki kemampuan seperti Falcon 9 -- tidak mungkin untuk meninggalkannya semudah yang diperkirakan Presiden Trump," katanya.

Sementara itu NASA tampak bersemangat untuk menunjukkan bahwa mereka mempunyai pilihan.

"NASA sedang menilai potensi paling awal untuk penerbangan Starliner ke Stasiun Luar Angkasa Internasional pada awal 2026, sambil menunggu sertifikasi sistem dan penyelesaian masalah teknis Starliner," kata badan antariksa itu dalam sebuah pernyataan kepada AFP pada hari Jumat.

Meski begitu, Forczyk memperingatkan perseteruan itu dapat membuat Trump kecewa terhadap luar angkasa secara keseluruhan, yang dapat memperumit rencana jangka panjang NASA.

SpaceX tidak sepenuhnya bergantung pada pemerintah AS. Langganan Starlink dan peluncuran komersial menyumbang sebagian besar pendapatannya, dan perusahaan tersebut juga menjalankan misi swasta. 

Berikutnya, dengan mitra Axiom Space, akan membawa astronaut dari India, Polandia, dan Hungaria, yang didanai oleh pemerintah masing-masing.

Kekuasaan Swasta, Risiko Publik

Tetapi kehilangan kontrak pemerintah AS tetap akan menjadi pukulan besar.

"Ini merupakan skenario kiamat bagi kedua belah pihak sehingga sulit membayangkan bagaimana upaya luar angkasa AS akan mengisi kesenjangan tersebut," kata Clayton Swope, wakil direktur Proyek Keamanan Dirgantara di Pusat Studi Strategis dan Internasional, kepada AFP. 

"Kedua belah pihak punya banyak alasan untuk menjembatani perselisihan dan kembali berbisnis."

Tanda-tanda keretakan muncul akhir pekan lalu, ketika Gedung Putih tiba-tiba menarik nominasi miliarder Jared Isaacman -- sekutu dekat Musk yang dua kali terbang ke luar angkasa dengan SpaceX -- sebagai administrator NASA.

Dalam podcast baru-baru ini, Isaacman mengatakan ia yakin disingkirkan karena "beberapa orang punya masalah, dan saya adalah target yang jelas dan nyata."

Episode yang lebih luas juga dapat memicu kembali perdebatan mengenai ketergantungan Washington pada mitra komersial, terutama ketika satu perusahaan memegang posisi yang begitu dominan.

Swope mencatat bahwa sementara pemerintah AS telah lama lebih memilih membeli layanan dari industri, para pemimpin militer cenderung lebih memilih memiliki sistem yang mereka andalkan.

"Ini hanyalah satu lagi data yang mungkin memperkuat argumen mengapa hal itu bisa berisiko," katanya. "Saya pikir benih itu telah tertanam di benak banyak orang -- bahwa hal itu mungkin tidak layak dipercaya."

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP, Lili Lestari

Berita Terbaru

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

Polda Banten Ungkap Sindikat Curanmor Spesialis Pick-up di 14 Lokasi

Tetap Tunjukkan Dedikasi dan Keberanian, Perwira polisi Terluka Kena Pecahan Kaca saat Gerebek Gudang Uang Palsu di Tangsel

93.782 Ton Beras Siaga! BULOG Antisipasi Bencana NTT Hingga 10x Masa Darurat

Gubernur Bali Minta Peradi Siapkan Pendampingan Hukum Perkuat Desa Adat

Wagub Rano Buka Jakarta Beat Society 2026: Komitmen Perluas Ruang Kreatif Musisi Lokal

Pemkab Lebak Bantu Pasarkan Produk UMKM Lewat Bazar

Dukung Penanganan Karhutla, Kemenhub Fasilitasi Penggunaan Pesawat Registrasi Asing

Kemenag Targetkan Keterlibatan 1.781.945 Peserta dalam Gema Selawat Sambut Maulid Nabi

Coba Lerai Perkelahian, Dua Polisi Dikeroyok Masa saat Karnaval di Blora

Gubernur Pramono Sebut Keluarga Kuat dan Masyarakat Peduli Jadi Kunci Kerukunan Jakarta

Dua Anggota Polisi Jadi Korban Pengeroyokan saat Karnaval HUT RI di Blora

BNPB Perkuat OMC-Armada Pemadaman Karhutla di Kalimantan

Panen Durian dan Manggis di Lebak Serap Ribuan Tenaga Kerja

Labuan Bajo Normal Pascagempa NTT, Kemenpar Minta Aktivitas Wisata Utamakan Keselamatan

Nicolas Cage Akhirnya akan Kembali dalam National Treasure 3

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.