Revolusi Pertanian Dimulai: Tengkulak Out, Kopdes In!

Rabu, 04 Jun 2025, 22:58 WIB

JAKARTA – Kopdes Merah Putih diharapkan dapat memangkas rantai distribusi yang panjang, yang selama ini dikuasai oleh tengkulak. Dengan demikian, keuntungan yang diperoleh dari penyerapan gabah dapat lebih merata dan lebih banyak dinikmati oleh petani.

Dengan menjadi wadah penyerapan gabah, Kopdes Merah Putih dapat meningkatkan posisi tawar petani dalam bernegosiasi harga. Petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tengkulak yang seringkali mematok harga rendah.

Ket. Foto: Ilustrasi - Petani panen padi. — Sumber: Antara

Mentari Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memproyeksikan Koperasi Desa/ Kelurahan Merah Putih bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp50 triliun dalam setahun dengan menggantikan peran tengkulak dalam penyerapan gabah petani.

Mentan ditemui di Jakarta, Rabu (4/6), mengatakan jika Kopdes Merah Putih mengambil alih peran perantara atau tengkulak dan mendapatkan keuntungan Rp50 triliun, maka ada Rp263 triliun yang bisa dinikmati langsung oleh petani dan konsumen.

Dia menyampaikan bahwa pihaknya sempat melakukan penghitungan mengenai hal tersebut.

"Kalau ini terjadi artinya apa? Middleman-nya katakanlah ada untung Rp313 triliun di tengah. Kalau koperasinya katakanlah sebagai nanti middleman, itu untung Rp50 triliun, artinya ada Rp263 triliun yang dinikmati konsumen dan produsen," kata Mentan.

Menurutnya, ketimpangan antara penghasilan petani dan tengkulak sangat besar, karena petani hanya memperoleh Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per bulan, sementara tengkulak bisa meraup hingga melebihi angka tersebut.

Ia mencontohkan, dari selisih harga gabah Rp2.000 per kilogram, potensi keuntungan perantara dari total produksi padi nasional bisa mencapai Rp42 triliun hanya sampai bulan Mei 2025.

Ia juga menyoroti selama ini petani hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp1,5 juta per bulan per orang dari usaha tani, padahal jumlah petani padi Indonesia diperkirakan mencapai 100 juta orang.

"Kami pernah hitung, harga di tingkat petani dengan konsumen, antara petani dengan konsumen itu mendapatkan Rp313 triliun satu tahun. Nah, inilah nanti kita bangun koperasi. Koperasi adalah memotong rantai pasok. Nantinya dari produsen ke koperasi, koperasi ke konsumen," jelas Mentan.

Ia menambahkan Presiden Prabowo Subianto telah memberi arahan jelas melalui berbagai kebijakan seperti penambahan pupuk subsidi, kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah petani menjadi Rp6.500 per kg, perbaikan irigasi, dan pendampingan intensif agar petani tidak berjalan sendiri.

Mentan menekankan solusi untuk memangkas rantai distribusi adalah memperkuat Kopdes Merah Putih yang akan memangkas tahapan distribusi dari delapan menjadi hanya tiga tahap.

"Itu nanti posisinya (tengkulak) digantikan dan kalau itu Insya Allah terealisasi semua, sudah sempurna, ini kan baru kita berjalan. Tentu produsen kesejahteraannya meningkat, yaitu petani, kemudian konsumennya juga daya belinya naik," kata Mentan.

  • Koperasi Merah Putih

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.