Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bali Darurat Sampah? TPA Menggunung, Warga Tolak Relokasi, Solusi Berbasis Teknologi Menanti

📅 Senin, 02 Jun 2025, 10:15 WIB | Oleh:
Bali Darurat Sampah? TPA Menggunung, Warga Tolak Relokasi, Solusi Berbasis Teknologi Menanti Doc: ANTARA
Ket. I Made Rentin selaku Kepala DKLH Bali yang membahas relokasi pembuangan sampah dari TPA Suwung ke TPA Temesi, Denpasar, Senin (2/6) hari ini.

BALI - Persoalan sampah di Bali, khususnya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung yang kini telah menggunung, mendorong Pemerintah Provinsi Bali mencari solusi serius. Rencana relokasi sampah dari TPA Suwung ke TPA Temesi di Gianyar menjadi perhatian utama. Namun, hal ini mendapat penolakan keras dari warga Desa Temesi. Pasalnya, kondisi pengelolaan sampah di Pulau Dewata selama ini masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal kapasitas dan dampak lingkungan.

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Bali, I Made Rentin, menjelaskan bahwa Gubernur Wayan Koster telah berdialog langsung dengan tokoh masyarakat Desa Temesi untuk mendengarkan aspirasi terkait rencana relokasi. "Beliau berdialog dengan perangkat desa mulai Pak Perbekel, Jro Bendesa adat, termasuk tokoh-tokoh masyarakat, ingin mendengarkan secara langsung aspirasi masyarakat,” kata Rentin di Denpasar, Senin (2/6) hari ini.

Penolakan warga Temesi bukan tanpa alasan. Mereka merasa beban sampah dari Kabupaten Gianyar saja sudah sangat berat, menimbulkan bau, limbah, bahkan kebakaran saat musim kemarau. Menambah sampah dari Denpasar dan Badung yang selama ini dibuang ke TPA Suwung tentu akan memperparah kondisi. Ini mencerminkan bahwa sistem pengelolaan sampah yang ada, meskipun di TPA Temesi dikatakan cukup baik dalam pemilahan, belum mampu menangani volume sampah yang masif dari seluruh wilayah Bali.

Meski demikian, Pemprov Bali melihat TPA Temesi sebagai salah satu model yang bagus dalam pengelolaan sampah berbasis pemilahan, yang sulit diterapkan di daerah lain seperti Denpasar. Rentin menegaskan bahwa rencana pemindahan bukan semata-mata memindahkan sampah, melainkan upaya membangun teknologi pengolahan sampah yang lebih canggih untuk diubah menjadi energi.

"Ini kewenangan pemerintah pusat, karena dalam membangun dan menerapkan teknologi pengelolaan sampah sudah diambil alih," jelas Rentin. Ia menambahkan bahwa sistemnya diawasi Kementerian Lingkungan Hidup, infrastruktur dibangun Kementerian PU, dan pendanaan dari Kementerian Keuangan. Rencananya, proses perizinan dimulai Juli 2025 dan pembangunan teknologi pengolahan pada Januari 2026.

Pengamat lingkungan dari Universitas Udayana, Dr. Nyoman Swasta (55), juga menyoroti bahwa masalah sampah di Bali adalah cerminan dari pertumbuhan pariwisata dan populasi yang pesat. "Kondisi sampah menggunung di TPA Suwung adalah alarm bahwa pendekatan lama sudah tidak relevan. Adopsi teknologi pengolahan sampah menjadi energi adalah langkah maju, tapi ini harus dibarengi dengan edukasi masif dan penegakan aturan tentang pemilahan sampah dari hulu," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Forum Komunitas Peduli Lingkungan Bali, Wayan Dharma (40), menekankan pentingnya partisipasi masyarakat. "Protes warga Temesi itu wajar. Mereka merasakan langsung dampaknya. Pemerintah harus transparan dan melibatkan masyarakat dalam setiap tahapan, tidak hanya saat relokasi, tapi juga dalam perencanaan teknologi dan bagaimana sampah dari sumbernya bisa dikurangi. Tanpa dukungan semua pihak, masalah sampah Bali akan terus menjadi PR besar," pungkas Dharma.

Sepertinya, tantangan sampah di Bali memerlukan solusi yang terintegrasi, bukan sekadar pemindahan lokasi, tetapi juga peningkatan teknologi dan kesadaran masyarakat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Serius Ada Cadangan Beras 4,8 Juta Ton? Kok Beras Tetap Mahal

53 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Nasional
Serius Ada Cadangan Beras 4...

Tak Dijamin JKN, Bisa Masuk Program Berani

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Tak Dijamin JKN, Bisa Masuk...

Kasus Kapal Virgo, Empat Tersangka Ditetapkan

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Kasus Kapal Virgo, Empat Te...
Advertisement
Jakarta World Cinema 2026 Siap Digelar, Hadirkan 207 Film dari 69 Negara

Jakarta World Cinema 2026 Siap Digelar, Hadirkan 207 Film dari 69 Negara

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.