Mahkota Swiatek di Roland Garros Terancam

Kamis, 22 Mei 2025, 06:54 WIB

PARIS - Gelar juara tunggal putri Roland Garros (Grand Slam Prancis Open) kembali diperebutkan akhir pekan ini tanpa satu pun petenis putri favorit juara, sebuah situasi yang belum terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Performa Iga Swiatek yang menurun tajam membuka peluang bagi sejumlah penantang baru yang tampil impresif sepanjang musim.

Salah satu kejutan terbaru datang dari Jasmine Paolini. Petenis Italia itu merebut gelar terbesar dalam karirnya usai menundukkan Coco Gauff di final Italian Open pekan lalu. Paolini menjadi petenis kedelapan berbeda yang mencapai final turnamen WTA 1000 musim ini, sebuah gambaran betapa terbukanya persaingan.

Ket. Foto: Petenis Polandia Iga Swiatek melakukan pukulan backhand saat melawan petenis AS Danielle Collins dalam pertandingan tunggal putri turnamen tenis WTA Rome Open di Foro Italico, Roma, belum lama ini. — Sumber: MARCO BERTORELLO / AFP

Sementara itu, Aryna Sabalenka sukses mempertahankan statusnya sebagai petenis nomor satu dunia. Namun, konsistensi petenis Belarusia itu masih menjadi tanda tanya. Sejak kekalahan mengejutkan di final Australia Open dari Madison Keys, Sabalenka sempat terpuruk, sebelum bangkit dengan menjuarai Miami dan Madrid Open.

“Saya jadi sangat lapar dan marah-marah dalam arti positif. Kekalahan di Australia Open membuat sadar untuk menang, harus benar-benar bekerja keras. Itu menjadi dorongan besar bagi saya,” ujar Sabalenka kepada WTA.

Meski demikian, Sabalenka kembali menunjukkan kelemahan saat dikalahkan Zheng Qinwen di perempat final Italia Open. Rekor buruk di Roland Garros juga masih membayangi. Tiga gelar Grand Slam yang dimilikinya belum satu pun datang dari Paris. Tahun lalu, dia terhenti di babak delapan besar usai kalah dari Mirra Andreeva, meski sempat unggul satu set.

Di sisi lain, Iga Swiatek yang telah meraih empat gelar Roland Garros dalam lima tahun terakhir belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Sejak menjuarai edisi 2023, petenis asal Polandia itu tak lagi menembus final turnamen besar mana pun. Jika julukan “Ratu Tanah Liat” ingin tetap melekat, Swiatek harus segera menemukan kembali performa puncaknya.

Rival Berat

Salah satu rival terberat adalah Coco Gauff. Petenis 21 tahun itu mencapai final di Madrid dan Roma, serta kembali ke peringkat dua dunia, tertingginya sejauh ini. Finalis Roland Garros 2022 tersebut berambisi mengakhiri paceklik gelar yang telah berlangsung sejak WTA Finals tahun lalu.

“Mudah-mudahan bisa sampai ke final Roland Garros, dan mungkin pepatah ‘ketiga kalinya pasti berhasil’ berlaku untuk saya,” ucap Gauff usai kalah di final Roma. Jessica Pegula, unggulan ketiga, juga masuk dalam persaingan. Namun catatan di Roland Garros belum berpihak. Dia baru sekali lolos dari babak ketiga.

Sedangkan, Paolini kini datang ke Paris sebagai unggulan keempat dengan rasa percaya diri tinggi setelah mengangkat trofi di kampung halamannya. Nama Mirra Andreeva layak diperhitungkan.

Di usia 18 tahun, petenis Russia ini mencetak sejarah sebagai juara termuda WTA 1000 di Dubai Open. Dia lalu menambah gelar di Indian Wells. Tahun lalu, dia sudah mencapai semifinal Roland Garros. Musim ini Mirra konsisten di tanah liat dengan hasil perempat final di Madrid dan Roma.

Jika mampu menjaga performa, Andreeva berpeluang menjadi juara tunggal Grand Slam termuda sejak Maria Sharapova mengangkat trofi Wimbledon pada tahun 2004. Pemain muda Russia lainnya, Diana Shnaider (21 tahun), juga mengintip peluang. Dia berada di ambang masuk 10 besar dunia dan bisa menjadi batu sandungan bagi para unggulan.

Dari Asia, Zheng Qinwen berharap mengulang performa impresif saat meraih emas Olimpiade di Roland Garros musim panas lalu. Unggulan kedelapan asal Tiongkok ini punya modal kemenangan atas Sabalenka di Roma.

Penantang mengejutkan lainnya adalah Alexandra Eala. Petenis Filipina berusia 19 tahun itu menembus 100 besar dunia untuk pertama kalinya, dan tampil luar biasa di Miami Open. Dia mengalahkan Madison Keys dan Swiatek sebelum tersingkir di semifinal. Di Madrid, dia kembali menyulitkan Swiatek dalam pertandingan tiga set.

Dengan performa Swiatek yang belum meyakinkan, terbuka kemungkinan besar Roland Garros tahun ini akan menghadirkan juara baru, sebuah skenario yang terakhir kali terjadi pada tahun 2021, ketika Barbora Krejcikova keluar sebagai pemenang. ben/AFP/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.