Gelaran Adat Labuh Semboyo di Trenggalek Sangat Meriah
Minggu, 18 Mei 2025, 19:50 WIBTRENGGALEK -Â Setiap daerah memiliki tradisi yang dapat menarik wisatawan. Contohnya, ribuan warga dan wisatawan memadati kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, untuk menyaksikan gelaran adat Labuh Laut (Larung) Sembonyo, Minggu.
Tradisi tahunan nelayan di Teluk Prigi itu diawali dengan kirab tumpeng manten dan tumpeng agung dari Kantor Kecamatan Watulimo menuju PPN Prigi yang berjarak sekitar tiga kilometer.
Sepanjang rute arak-arakan, warga antusias menyambut iring-iringan yang turut dimeriahkan penampilan jaranan, marching band, serta kesenian rakyat lainnya.
Puncak upacara berlangsung di tengah laut, ketika tumpeng manten dan tumpeng agung dilarung sebagai simbol ungkapan rasa syukur dan doa keselamatan nelayan.
"Labuh laut ini adalah wujud syukur nelayan atas karunia tangkapan selama ini, sekaligus permohonan agar panen ikan tahun depan lebih melimpah," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek, Sunyoto.
Ia mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat nelayan Teluk Prigi yang tetap melestarikan tradisi meskipun minim dukungan anggaran pemerintah.
"Tahun ini lebih mandiri. Dukungan dari pemerintah memang tidak sebesar sebelumnya, tetapi berkat semangat warga, upacara tetap terlaksana dengan meriah," ujarnya.
Cuaca mendung sempat menaungi jalannya prosesi, namun tidak mengurangi kekhidmatan acara. Di sela-sela kegiatan, aparat kepolisian melakukan penertiban terhadap sejumlah perahu yang mengibarkan bendera perguruan silat.
Kapolsek Watulimo AKP Sunarto mengatakan, penertiban guna menghindari potensi gesekan antarpendukung perguruan silat.
Sejumlah kesenian tradisional seperti wayang kulit, tayub, dan pertunjukan tiban juga digelar sebagai rangkaian hiburan masyarakat dalam peringatan Sembonyo.
Budayawan Watulimo Suparlan menjelaskan Sembonyo memiliki akar sejarah panjang. Tradisi ini diyakini bermula dari kisah Raden Tumenggung Yudho Negoro yang membuka wilayah Prigi dan menikahi Putri Gambar Inten, seorang putri dari wilayah Tengahan.
"Pernikahan itu berlangsung pada hari Senin Kliwon dan sejak saat itu diperingati setiap tahun dengan labuh laut. Hiburan tayub dan jaranan pun menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah itu," tuturnya.
Suparlan menambahkan, Larung Sembonyo juga mencerminkan filosofi harmoni antara manusia dengan alam, serta bentuk penghormatan terhadap leluhur dan penjaga laut.
- Kabupaten Trenggalek
- larung sembonyo
- tradisi labuh
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Wamen PKP Ungkap Pentingnya Keberlanjutan dalam Pengembangan Perumahan
-
Rupiah Masih Tertekan, Jumat 22 Agustus 2025
-
Puncaki Box Office, Film "A Minecraft Movie" Raup Rp1,3 Triliun di Pekan Kedua
-
Liga Inggris: Liverpool Tersungkur di Molineux, Gol Telat Andre Hancurkan Asa The Reds
-
Pemkab Sumenep Menyediakan 10 Hektare Lahan untuk Sekolah Rakyat
-
Razia Uji Emisi, Pemkot Tangerang Pastikan Gas Buang kendaraan Dalam Ambang batas
-
Enam Pemuka Agama Pimpin Doa Bersama di Sarinah, Tahun Baru 2026 Jadi Momen Refleksi Nasional
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.