Muhammad Rayhan Sudrajat, Universitas Katolik Parahyangan
Suatu hari sebelum fajar di tahun 2015, saya menempuh perjalanan sejauh 109 kilometer dari Palangka Raya ke sebuah desa di daerah aliran Sungai Katingan, Kalimantan Tengah. Setibanya di sana, suara Gandang Ahung, gong ensambel sakral dalam upacara kematian Tiwah, menggetarkan dada saya. Frekuensinya memenuhi seluruh ruang, menyatukan manusia, roh, dan alam dalam satu tarikan napas. Beberapa orang menutup mata, hutan di luar seolah ikut bersenandung.
Di tengah lantunan itu, ritual dimulai: para peserta bergerak, menari mengelilingi lapangan tempat upacara Tiwah digelar. Gerak tangan dan kaki yang khas mengikuti irama, disambut dengan baram, minuman tradisional khas Katingan.
Bunyi Gandang Ahung terus bergema, mengundang roh-roh dari hulu dan hilir untuk hadir dan menerima persembahan darah dari hewan kurban, sebuah bagian penting untuk memastikan arwah bisa menempuh jalan ke alam atas yang oleh penduduk lokal disebut sebagai âLewu Rami je dia Kasene Beti Lewu Tatau Habaras Bulau Rundung Janah dia Bakalesu Uhat,â desa abadi yang penuh kemuliaan dalam kosmologi agama Hindu-Kaharingan.
Gandang Ahung bukan hanya warisan budaya, melainkan bagian tak terpisahkan dari cara komunitas suku Dayak Katingan Awa memahami hidup, kematian, dan hubungan mereka dengan alam.
Namun ritual sakral ini kini terancam hilang karena maraknya penebangan hutan di Kalimantan. Selain itu, pergeseran budaya akibat modernisasi juga perlahan-lahan menggerus bukan hanya lingkungan fisik, tetapi juga lanskap bunyi, kosmologi, dan ritus seperti Tiwah. Jika bebunyian ini hilang, maka hilang pula cara berpikir yang telah diwariskan dari lintas generasi.
Upacara Tiwah: Ketika bunyi menjadi tradisi
Tiwah adalah upacara kematian tingkat kedua dalam tradisi Suku Dayak Katingan Awa, sebuah proses kolektif yang tidak hanya mengurus jenazah, tetapi juga mengatur ulang hubungan antara manusia, roh, dan alam.
Selama berbulan-bulan, keluarga, tetangga, dan pemuka agama bekerja sama menyiapkan prosesi ini. Dalam upacara ini, tidak ada âpenontonâ, semua adalah partisipan. Anak-anak membantu, para pisur (pemuka agama), memimpin, dan seluruh komunitas mendengarkan bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan kehadiran penuh.
Dalam Tiwah, bunyi bukanlah sebuah hiburan. Ia menjadi bahasa untuk berbicara dengan roh, untuk mengenang yang telah pergi, dan mengikat kembali jejaring kehidupan yang rapuh.
Gandang Ahung, dengan gema dan vibrasinya, memainkan peran sentral dalam upacara Tiwah: ia membuka jalan bagi liau (roh) untuk mencapai Lewu Tatau.
Menariknya, Gandang Ahung tak pernah terdengar sama karena bisa dibawa ke mana saja tergantung dengan kebutuhan dari sebuah ritual. Ini menegaskan bahwa suara tidak terpisah dari tanah, sungai, dan pepohonan di sekitarnya.
Di Barat, musik diajarkan lewat notasi, tempo, dan teknik. Tapi di Katingan Awa, bunyi mengalir dari relasi, antara pemain, komunitas, dan roh. Saat memainkan Gandang Ahung dalam upacara Tiwah, pemain tidak sekadar mengikuti ketukan; ia menyesuaikan pukulannya dengan gerak tubuh penari. Nada tidak ditentukan dari partitur, melainkan dari rasa, apa yang âtepatâ di saat itu, menurut hubungan yang terjalin di ruang ritual. Di sinilah bunyi menjadi cara berkomunikasi, bukan sekadar pertunjukan.
Saya berdiskusi dengan pisur seperti Pak Napin dan Pak Senty, yang menjelaskan bahwa permainan Gandang Ahung tidak diukur dalam hitungan ketukan, melainkan dengan napas dan intuisi dalam tempo. Tabuhan yang lambat adalah irama yang tepat untuk upacara Tiwah, tidak boleh terlalu cepat karena salah satu fungsi permainan Gandang Ahung adalah untuk mengiringi tari Manganjan, sebuah tarian yang dikhususkan untuk upacara Tiwah.
Menjaga bunyi, merawat kehidupan
Penebangan hutan, pencemaran sungai, dan penggusuran komunitas adat tidak hanya mengancam lingkungan fisik. Ia juga menghapus lanskap akustik yang menjadi bagian dari ritual dan kosmologi lokal.
Saat hutan hilang, bukan hanya spesies yang punah, suara-suara seperti Gandang Ahung dan makna mendalam yang dikandungnya juga perlahan memudar. Sebab, alat musik ini tak sekadar dimainkan, melainkan dihidupkan dalam konteks ritual yang bergantung pada alam: kayu untuk membuat gendang, tempat untuk upacara tiwah di tengah kampung, dan kehadiran roh-roh yang diyakini bersemayam di pepohonan, danau dan sungai.
Ketika hutan ditebang atau disulap menjadi perkebunan sawit, ruang untuk bunyi-bunyi sakral itu ikut hilang. Bersamanya, hilang pula cara komunitas memahami hidup, kematian, dan hubungan dengan alam.
Hindu-Kaharingan sendiri, meski diakui negara, sering kali hanya dilihat sebagai âfolkloreâ atau âtradisi usangâ. Praktik-praktik seperti Tiwah jarang mendapat ruang di media arus utama, apalagi di dunia akademis nasional.
Jika Indonesia sungguh berkomitmen pada pendidikan dan pelestarian budaya, kita harus mulai memandang tradisi bunyi seperti Gandang Ahung bukan sekadar artefak, tetapi sebagai filsafat hidup dan tradisi.
Tradisi ini memiliki sistem, etika, dan metodologi sendiri, setara dengan teori musik klasik manapun. Sehingga, ia perlu diajarkan, dihormati, dan dihidupi, bukan sekadar didokumentasikan lalu dilupakan.
Upaya konkret yang dapat dilakukan meliputi perlindungan hutan adat sebagai lanskap bunyi, integrasi pendidikan musik berbasis lokal di sekolah-sekolah, serta pendokumentasian ritus berbasis partisipasi aktif komunitas.
Hal ini sudah dilakukan oleh program Schools of Living Traditions (SLT) di Filipina yang dikelola oleh Komisi Nasional untuk Kebudayaan dan Seni (NCCA). Mereka berhasil melestarikan seni dan musik tradisional melalui pendidikan non-formal yang melibatkan para ahli budaya lokal sebagai pengajar. Program ini diakui UNESCO sebagai praktik terbaik dalam menjaga warisan budaya takbenda.
Langkah-langkah ini penting agar bunyi-bunyi seperti Gandang Ahung tidak hanya menjadi objek nostalgia, melainkan tetap menjadi praktik hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Katingan Awa dan Indonesia.
Muhammad Rayhan Sudrajat, Ethnomusicologist & Lecturer, Universitas Katolik Parahyangan
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.