Kesepakatan Tarif AS-Tiongkok: Mundur Selangkah, Maju ke Ketidakpastian

Kamis, 15 Mei 2025, 16:05 WIB

JAKARTA - Kesepakatan terbaru antara Amerika Serikat dan Tiongkok untuk meredakan ketegangan perang dagang memang patut disambut sebagai angin segar, namun tak dapat disangkal bahwa ini hanyalah penangguhan, bukan penyelesaian. Penurunan tarif dari 145 persen menjadi 30 persen bisa membantu memperlancar arus barang dan menghindari skenario terburuk, tetapi tetap meninggalkan beban besar bagi ekonomi domestik Amerika.

Alih-alih mencabut tarif yang telah menyengsarakan pelaku usaha dan konsumen, Presiden Donald Trump merayakan penurunan tarif yang ia ciptakan sendiri sebagai kemenangan politik. Dalam praktiknya, tarif tetap jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum Trump menjabat, dan beban pajak ini tetap ditanggung warga Amerika.

Ket. Foto: — Sumber: Newscom

Langkah Trump menggambarkan bagaimana tarif digunakan sebagai alat tawar-menawar politik, bukan instrumen ekonomi yang bijak. Pemerintah memaksakan beban besar melalui tarif, lalu mengklaim kemenangan saat beban itu dikurangi sedikit. Bagi banyak pelaku usaha, khususnya usaha kecil dan menengah, ketidakpastian ini menimbulkan kekacauan dalam perencanaan logistik, produksi, dan harga.

Seperti yang disampaikan oleh Dan Anthony dari Trade Partnership Worldwide, jeda 90 hari ini hanyalah penundaan, bukan solusi. Steve Lamar dari American Apparel and Footwear Association menyebutnya selamat datang, tetapi tetap memperingatkan bahwa tarif 30 persen akan terus membuat harga barang kebutuhan dari pakaian hingga perlengkapan sekolah tetap tinggi.

Menurut simulasi dari Penn Wharton Budget Model, tarif 30 persen yang tersisa akan berfungsi sebagai kenaikan pajak senilai $639 miliar selama 10 tahun. Di sisi lain, ekspor AS ke China masih menghadapi tarif 10 persen, menjadikannya salah satu hambatan ekspor tertinggi di dunia untuk barang-barang Amerika berbanding terbalik dengan narasi pemerintah yang menyatakan ingin membuka pasar luar negeri bagi produsen AS.

Secara geopolitik, kesepakatan ini memang mencegah eskalasi lebih lanjut dalam konflik dagang antara dua ekonomi terbesar dunia. Namun, dari sudut pandang ekonomi domestik, kerusakan sudah terjadi, dan ketidakpastian tetap menjadi ancaman besar. Trump telah memperluas kekuasaan eksekutif dalam menetapkan tarif, sering kali melewati mekanisme pengawasan Kongres, yang seharusnya menyeimbangkan kekuasaan tersebut.

Alih-alih mengapresiasi Trump karena “mundur” dari kebijakan tarif ekstrem, langkah yang lebih bijak adalah mendorong Kongres untuk merebut kembali wewenangnya terkait tarif perdagangan. Keseimbangan kekuasaan harus dipulihkan agar keputusan tarif masa depan tidak lagi bergantung pada manuver sepihak yang merugikan ekonomi dan mempermainkan nasib pelaku usaha dan konsumen.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Paundra Zakirulloh

Berita Terbaru

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

Wadoh, Investor Korea Selatan Diduga Jadi Korban “Mafia Legal Formal”

Shin Tae-yong Puas Pola Permainan Persija Nyaris Sempurna Jelang Liga

Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

Event Budaya Lokal Dipadukan Sport dan Lifestyle Bakal Perkuat Pengembangan Mandalika

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.