Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Gabah “Any Quality” dan Tantangan Menjaga Cadangan Pangan Berkualitas

📅 Senin, 05 Mei 2025, 07:05 WIB | Oleh:
Gabah “Any Quality” dan Tantangan Menjaga Cadangan Pangan Berkualitas Doc: Antara Foto
Ket. Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat.

Istilah "gabah any quality" mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan kompleksitas yang perlu menjadi perhatian bersama.

Ini bukan sekadar soal kadar air atau kadar hampa. Lebih jauh, istilah ini mencerminkan kondisi bahwa gabah yang diperdagangkan memiliki kualitas yang sangat bervariasi baik dari sisi fisik, kimiawi, hingga kebersihannya.

Dalam praktiknya, ini berarti tidak ada jaminan bahwa gabah yang dibeli akan memenuhi standar kualitas tertentu.

Secara fisik, gabah bisa berbeda dalam ukuran, bentuk, bahkan warna. Secara kimia, kadar air dan kandungan nutrisinya pun bisa jauh dari harapan.

Dari sisi kebersihan, tak jarang ditemukan gabah dengan campuran kotoran, debu, atau benda asing.

Dalam istilah yang lebih membumi di kalangan pelaku perdagangan gabah, ini disebut gabah “apa adanya”. Yaitu gabah kering panen yang dilepas petani ke pasar tanpa banyak pertimbangan soal kualitas.

Fenomena ini makin menonjol sejak diterbitkannya Keputusan Badan Pangan Nasional Nomor 14/2025 yang membebaskan petani menjual hasil panennya, ditambah dengan kebijakan satu harga, Rp6.500 per kilogram, yang mengikat Perum Bulog untuk menyerap gabah petani, tanpa memperhatikan variasi kualitas.

Alhasil, Perum Bulog terjebak dalam posisi dilematis yakni tetap menyerap gabah demi menjaga cadangan beras pemerintah, tapi berisiko besar menghadapi berbagai persoalan di kemudian hari.

Risikonya tidak main-main. Setidaknya ada enam dampak utama jika Perum Bulog terus membeli gabah “any quality”.

Pertama, kualitas gabah tidak terjamin, yang otomatis menurunkan kualitas beras yang dihasilkan.

Kedua, proses pengolahan beras rentan terganggu, mesin penggilingan bisa rusak, pengemasan jadi tidak maksimal. Ketiga, nilai ekonomi gabah turun drastis, yang berarti kerugian finansial.

Keempat, beras yang diproduksi bisa merugikan konsumen dari segi rasa, tampilan, bahkan keamanan pangan.

Kelima, citra Bulog sebagai penyedia beras berkualitas akan terancam, terutama jika terjadi kejadian seperti “beras berkutu” yang dulu sempat menjadi skandal.

Dan keenam, distribusi beras bisa terganggu karena proses sortir dan pengolahan memakan waktu lebih lama.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Rona
7 Drama Korea Baru Wajib Di...
Ekonomi
Sompo Indonesia selenggarak...
Luar Negeri
Dua Kapal Tanker Minyak Dis...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.