• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Danau Rana, Permata Suci d...

Danau Rana, Permata Suci di Bumi Minyak Kayu Putih

Jumat, 25 Apr 2025, 06:10 WIB

Alam pulau buru yang masih lestari memiliki danau cantik yang kelestariannya dijaga oleh masyarakat adat. Keindahannya begitu memukau meski tidak mudah mencapai lokasinya.

Mendengar nama Pulau Buru yang ada adalah kesan yang menyeramkan. Sejak lama pulau ini dikenal sebagai tempat penahanan bagi tahanan politik (tapol) PKI. Namun sebenarnya pulau ini bukan pulau terasing yang tidak ramah bagi wisatawan.

Ket. Foto: Danau Rana, yang ada di pedalaman Pulau Buru, Maluku, punya sejuta pesona yang indah. Mulai dari keindahan alam dalam ragam flora dan fauna. — Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan

Pulau Buru merupakan salah satu pulau besar di Kepulauan Maluku. Luasnya 8.473,2 kilometer persegi, dan panjang garis pantainya 427,2 kilometer. Dengan luas ini makan menempati urutan ketiga setelah Pulau Halmahera di Maluku Utara, dan Pulau Seram di Maluku Tengah.

Kondisi topografinya secara umum berupa perbukitan dan pegunungan, dengan puncak tertingginya 2.736 Mdpl. Dengan bentang alam demikian pulau ini menawarkan keindahan alam yang layak untuk dikunjungi.

Selain wisata bahari yang memikat di pulau ini memiliki dana alami yang disebut Danau Rana, sebuah danau yang cantik yang masih suci karena banyak dikunjungi orang-orang dari luar pulau. Luasnyamencapai 11,5 kilometer persegi, menjadi danau terluas di Maluku.

Lokasinya Danau Rana berada di Desa Wamlana, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku.Desa ini berada berada sekitar 124,9 kilometer dari pusat kota Namlea, Ibukota Kabupaten Buru.

Udara di sekitar danau ini cukup sejuk karena berada pada ketinggian 700 meter di atas permukaan air laut (mdpl). Apalagi yang danau ini dikelilingi oleh hutan yang masih terjaga sifat alamiahnya, menghasilkan oksigen melimpah yang menyegarkan paru-paru.

Danau Rana terbentuk melalui proses geologis alami yang melibatkan aktivitas vulkanik dan tektonik di wilayah Pulau Buru. Meskipun detail spesifik mengenai proses pembentukan danau ini tidak dijelaskan secara rinci dalam sumber yang tersedia, umumnya danau seperti Danau Rana terbentuk akibat aktivitas vulkanik yang menciptakan cekungan di permukaan tanah, yang kemudian terisi air hujan atau aliran sungai.

Sejak tahun 2016 danau ini dicanangkan oleh pemerintah kabupaten sebagai ikon pariwisata kabupaten berjuluk “bumi minyak kayu putih.” Namun pada tahun 2019, Aliansi Masyarakat Adat Pulau Buru menggelar aksi unjuk rasa untuk menolak kebijakan Pemerintah Kabupaten Buru yang berencana menjadikan Danau Rana sebagai destinasi wisata dunia.

Mereka khawatir bahwa komersialisasi danau ini akan merusak tatanan adat dan budaya setempat serta mengancam kelestarian alam dan nilai-nilai spiritual yang ada. Hal inilah yang membuat danau ini masih sangat terjaga. Bagi wisatawan yang ingin melihat keindahan alam Danau Rana adalah pilihan yang tepat.

Di sekitar danau yang ada hanya hutan. Tidak ada pemukiman yang berdiri di sepanjang danau. Pemukiman terdekat berupa desa adat berada sekitar 1 kilometer dari bibir danau, sehingga hal ini menjauhkan dari dari berbagai sampah dan limbah. Apalagi masyarakat adat turut menjaga kelestarian danau ini.

Bagi masyarakat Pulau Buru, khususnya Suku Rana, Danau Rana memiliki nilai spiritual yang tinggi. Mereka meyakini bahwa nenek moyang mereka, yang dianggap sebagai dewa, tinggal di ‘tanggal’ gunung dan di danau ‘Rana’. Kepercayaan ini telah diteruskan dari generasi ke generasi, menjadikan danau ini sebagai tempat ibadah dan penghormatan bagi Suku Rana.

Kondisi alamnya masih asri, tenang, sejuk, dan airnya jernih serta beberapa bagian permukaan airnya dipenuhi tanaman bunga teratai. Kelebihan lainnya, danau ini dikelilingi desa-desa adat.Tercatat ada 10 desa adat antara lain Wamamboli, Kaktuan, Erdafa, Waimite, Wagrahi, dan Waireman yang masing-masing warganya masih memegang kuat aturan adat setempat.

Dengan demikian saat berkunjung ke Danau Rana selain menikmati pemandangan alam danau yang masih asri juga dapat menyaksikan kehidupan masyarakat adat setempat.Mereka adalah garda terdepan penjaga Danau Rana dan hutan di sekitarnya.

Ada berbagai budaya yang bisa disaksikan seperti rumah tradisional buru yang terbuat dari kayu. Desa ini juga memiliki tarian tradisional antara lain Tari Sawat Buru sebagai ucapan selamat datang bagi tamu yang berkunjung.

Meski tertutup bagi komersialisasi pengunjung masih dapat menikmati keindahan Danau Rana. Untuk menikmati jernihnya perairannya bisa berkeliling danau dengan cara berperahu yang dapat disewa dengan harga sekitar 100 ribu rupiah per perahu, nilai ini sudah termasuk dengan seorang pemandu, yang siap mengantar pengunjung mengelilingi danau.

Untuk menjaga keindahan dan keheningan dana perahu yang beroperasi di danau ini tidak boleh bermesin, sehingga pengguna harus mendayung. Aturan adat yang berlaku di danau ini pengunjung tidak diperbolehkan membunuh binatang atau mengambil ikan seperti memancing.

Di samping menikmati perairannya di Danau Rana bisa melihat-lihat keindahan flora dan fauna di sekelilingnya. Caranya dengan melakukan trekking dan jelajah melalui jalur-jalur hutan yang juga menyimpan flora dan fauna endemik.

Sebagai kawasan dengan keanekaragaman hayati yang kaya, baik dari segi flora maupun fauna hutannya didominasi oleh vegetasi hutan tropis basah dengan spesies pohon besar dari keluarga Dipterocarpaceae, seperti Hopea, Shorea, dan Vatica. Beberapa spesies yang ditemukan Anisoptera thurifera, Hopea gregaria, Hopea iriana, Shorea assamica, dan Vatica rassak.

Selain itu, terdapat juga anggrek hutan seperti Dendrobium hymenophyllum, Vanda limbata, Pholidota imbricata, Spathoglottis plicata, Liparia latifolia, dan anggrek kantong semar (Paphiopedilum schoseri) yang tumbuh di sekitar danau.

Sedang fauna yang bisa dijumpai di antaranya adalah burung. Beberapa di antaranya merupakan spesies burung endemik Pulau Buru. Beberapa spesies yang ditemukan di kawasan ini antara lainBuru Racket-tail (Prioniturus mada), Blue-fronted Lorikeet (Charmosyna toxopei), Red Lory (Eos bornea), Buru Honeyeater (Lichmera deningeri), Buru White-eye (Zosterops buruensis), Buru Warbling-flycatcher (Eumyias additus), Cinnamon-chested Flycatcher (Ficedula buruensis), Madanga (Madanga ruficollis) – spesies yang terancam punah.

Kawasan Danau Rana juga menjadi tempat tinggal bagi berbagai spesies mamalia, termasuk babirusa Buru (Babyrousa babyrussa), kelelawar buah Moluccan (Pteropus ocularis), dan kelelawar hidung tabung kecil (Nyctimene minutus).

Dengan kekayaan alam tersebut Danau Ran surga bagi pecinta fotografi budaya dan alam. Kombinasi antara keindahan danau, kabut pegunungan, dan suasana mistis membuat tempat ini sangat fotogenik. Tempat ini cocok buat travel vlogger atau pecinta dokumentasi budaya dan alam.

Hanya wisatawan yang berjiwa petualang atau adventure mungkin yang mau ke Danau Rana.Kondisi jalannya sampai saat ini menantang sehingga untuk melewatinya perlu persiapan matang, dan perlu biaya yang tidak sedikit terutama untuk menyewa mobil berpenggerak empat roda.

Terdapat dua jalur utama untuk mencapai Danau Rana. Pertama Jalur Darat dari Desa Wamlana. Perjalanan dimulai dari ini menuju Danau Rana dengan menumpang kendaraan perusahaan kayu PT. Gema Hutan Lestari. Jalur ini melintasi hutan tropis dan beberapa desa adat, menawarkan pemandangan alam yang indah.

Sedangkan Desa Tifu menawarkan perjalanan kombinasi antara jalur laut dan darat. Dimulai dengan perjalanan laut menggunakan speedboat dari Namlea ke Desa Tifu, dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Desa Waelo, dan terakhir berjalan kaki menuju Danau Rana. Jalur ini lebih panjang dan menantang.

Pada Januari 2025, terjadi longsor sepanjang sekitar 100 meter dengan ketinggian sekitar 250 meter yang menutupi jalan dari Dusun Waetabi menuju Dusun Waegrahi. Longsoran tersebut menghalangi akses kendaraan roda dua maupun empat, memaksa masyarakat setempat untuk melewati pinggiran longsoran yang sangat berbahaya. Cuaca hujan dan kabut semakin memperburuk kondisi jalan.

Selain itu, medan menuju Danau Rana dikenal terjal dan licin, terutama saat hujan. Perjalanan yang biasanya ditempuh dengan kendaraan double gardan atau 4x4 kini terhambat oleh kondisi jalan yang rusak dan longsor.

Keberadaan destinasi Danau Rana yang menjadi daya tarik Kabupaten Buru akan menambah kekayaan destinasi pulau ini tentu saja dengan tetap menjaga kelestariannya. Danau ini bisa menjadi tujuan lain setelah Pantai Jikumerasa.

Keberadaan destinasi Danau Rana ini, menambah objek wisata lain yang sudah ada di Kabupaten Buru yang memiliki kekayaan berupa, budaya, kuliner, dan objek wisata bahari berupa pantai dan pemandangan bawah laut. Saat ini Pantai Jikumerasa menjadi andalan bagi kabupaten ini. hay

  • Danau Rana

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.