Panel Surya dari 4 Negara Asia Tenggara Bakal Kena Tarif Impor AS hingga 3.521%

Selasa, 22 Apr 2025, 14:55 WIB

Departemen Perdagangan Amerika Serikat mengumumkan rencana penerapan tarif impor yang sangat tinggi hingga 3.521% terhadap panel surya yang berasal dari empat negara Asia Tenggara, yakni Kamboja, Thailand, Malaysia, dan Vietnam.

Kebijakan ini muncul sebagai hasil dari penyelidikan panjang yang dipicu oleh keluhan produsen panel surya domestik yang merasa terancam oleh masuknya produk murah dari luar negeri.

Ket. Foto: — Sumber: BBC

Investigasi tersebut merupakan respons atas tuduhan bahwa perusahaan-perusahaan asal China menggunakan negara-negara Asia Tenggara untuk menghindari tarif sebelumnya dan membanjiri pasar AS dengan produk yang disubsidi serta dijual di bawah harga pasar. Langkah ini disebut sebagai bentuk dumping yang merugikan produsen dalam negeri.

Tarif ini termasuk bea masuk imbalan dan antidumping, yang besarannya bervariasi tergantung pada perusahaan dan lokasi produksinya. Misalnya, beberapa eksportir asal Kamboja menghadapi tarif maksimum 3.521% karena dianggap tidak kooperatif dalam penyelidikan. Sementara itu, Jinko Solar, produsen asal China yang beroperasi di Malaysia, dikenakan tarif terendah, yakni sedikit di atas 41%.

Perusahaan besar lain seperti Trina Solar menghadapi tarif yang sangat besar 375% atas produk yang mereka hasilkan di Thailand. Tidak ada satu pun dari perusahaan-perusahaan tersebut yang memberikan tanggapan langsung terhadap permintaan komentar dari BBC News.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan China memindahkan lini produksinya ke Asia Tenggara guna menghindari tarif tinggi yang diberlakukan selama masa jabatan Presiden Donald Trump. Saat itu, pemerintahan AS mulai gencar memproteksi sektor manufakturnya melalui serangkaian tarif terhadap barang-barang impor dari Tiongkok.

Temuan terbaru Departemen Perdagangan mendapat dukungan kuat dari Komite Perdagangan Aliansi Amerika untuk Manufaktur Tenaga Surya, kelompok yang sebelumnya meminta penyelidikan tersebut.

“Ini adalah kemenangan yang menentukan bagi manufaktur Amerika dan mengonfirmasi apa yang telah lama kita ketahui: bahwa perusahaan-perusahaan tenaga surya yang berkantor pusat di Cina telah menipu sistem,” ujar Tim Brightbill, penasihat hukum utama aliansi tersebut.

Data dari Biro Sensus AS menunjukkan bahwa pada tahun 2023 saja, AS mengimpor hampir $12 miliar peralatan surya dari keempat negara yang kini menjadi target tarif. Meskipun kebijakan ini berpotensi melindungi industri manufaktur domestik, konsekuensinya adalah naiknya biaya bagi bisnis dan konsumen yang sebelumnya menikmati produk surya murah dari luar negeri.

Tarif baru ini juga menambah beban di atas tarif lain yang masih berlaku sejak era Trump. Bahkan, pemerintahan saat ini mengungkapkan bahwa tarif kombinasi atas barang-barang tertentu asal China bisa mencapai 245%. Di sisi lain, China juga merespons dengan mengenakan tarif balasan hingga 125% terhadap barang-barang dari AS, dan berkomitmen untuk berjuang sampai akhir dalam konflik dagang yang sedang berlangsung.

Menariknya, pengumuman tarif ini dilakukan hanya beberapa hari setelah Presiden China Xi Jinping menyelesaikan kunjungannya ke Vietnam, Malaysia, dan Kamboja. Kunjungan tersebut bertujuan memperkuat hubungan bilateral dan mendorong kerja sama regional dalam menghadapi tekanan ekonomi dari Amerika Serikat.

Saat ini, keputusan final mengenai tarif baru ini berada di tangan Komisi Perdagangan Internasional AS, yang dijadwalkan akan menyampaikannya pada bulan Juni. Hasil keputusan tersebut akan sangat menentukan arah perdagangan energi terbarukan global, terutama dalam konteks persaingan strategis antara AS dan China.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Paundra Zakirulloh

Berita Terbaru

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

Polda Banten Ungkap Sindikat Curanmor Spesialis Pick-up di 14 Lokasi

Tetap Tunjukkan Dedikasi dan Keberanian, Perwira polisi Terluka Kena Pecahan Kaca saat Gerebek Gudang Uang Palsu di Tangsel

93.782 Ton Beras Siaga! BULOG Antisipasi Bencana NTT Hingga 10x Masa Darurat

Gubernur Bali Minta Peradi Siapkan Pendampingan Hukum Perkuat Desa Adat

Wagub Rano Buka Jakarta Beat Society 2026: Komitmen Perluas Ruang Kreatif Musisi Lokal

Pemkab Lebak Bantu Pasarkan Produk UMKM Lewat Bazar

Dukung Penanganan Karhutla, Kemenhub Fasilitasi Penggunaan Pesawat Registrasi Asing

Kemenag Targetkan Keterlibatan 1.781.945 Peserta dalam Gema Selawat Sambut Maulid Nabi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.