Tren Investasi Safe Haven Bergeser di Tengah Gejolak Global, Emas Bukan Satu-satunya Jadi Primadona 

Senin, 21 Apr 2025, 08:10 WIB

JAKARTA — Emas dinilai menjadi aset safe haven atau lindung nilai andalan yang dipilih investor di tengah ketidakpastian global. 

Sebab, akses ke emas lebih mudah dan familiar dibandingkan safe haven lain, seperti mata uang asing.

Ket. Foto: Arsip foto - Petugas menata emas batangan di Butik Emas Logam Mulia (BELM) Antam Setiabudi, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Direktur Pengembangan Big Data Indef Eko Listiyanto mengatakan investor ritel dalam kategori masyarakat kelas menengah pun lebih mudah untuk mengakses instrumen emas apabila mereka memiliki tabungan dingin. 

“Emas memang dari dulu sudah menjadi safe haven dan salah satu yang istilahnya memang mudah dicerna dalam konteks investasi dibandingkan antarmata uang yang lebih sophisticated,” kata Eko dalam diskusi virtual di Jakarta, pekan lalu.

Di tengah perang dagang yang dilancarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Eko mencatat adanya pergeseran investor global yang mulai beralih tidak hanya pada instrumen emas sebagai safe haven tetapi juga mata uang di luar dollar AS seperti euro, franc Swiss, dan yen Jepang.

Pasar saham AS ikut anjlok setelah Trump melancarkan serangan tarif ke berbagai negara terutama kepada Tiongkok. Anjloknya pasar saham rupanya tidak serta-merta menghijaukan pasar obligasi AS. 

Di sisi lain, indeks dollar AS juga berada dalam tekanan bahkan menurun di bawah level 100. “Investor menilai tingkat risiko dari ekonomi AS yang meningkat sehingga kemudian mereka meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk obligasi AS terutama yang tenornya jangka pendek,” kata Eko.

Menurut pandangan Eko, respon investor yang memilih untuk tidak memindahkan dananya ke obligasi AS dan dollar AS cukup rasional karena mereka juga mempertimbangkan risiko-risiko dari kebijakan tarif Trump. Respon investor ini juga menunjukkan bahwa aset-aset AS tidak selalu menjadi center atau pusat.

“Daripada mereka (investor) mungkin kehilangan atau mengalami kerugian investasi, ya sudah mereka kemudian memilih mata uang yang lebih stabil,” kata Eko.

Pasar Volatile

Namun ketika berbicara soal investasi valuta asing, Eko mengingatkan investor harus cermat melihat dalam jangka waktu pendek apalagi karena pasar uang sangat volatile. “Kalau misalkan emas itu kan untuk kebutuhan jangka menengah. Kalau orang mau uangnya tidak segera digunakan, emas menjadi pilihan. Tapi kalau yang sangat likuid seperti ini tentu hitung-hitungan risiko dan nature daripada bentuk aset yang dipilih itu penting,” kata dia.

Senada, Ekonom Senior Indef Iman Sugema tidak merekomendasikan untuk investasi mata uang asing sebab situasi global sangat mudah berubah karena dampak dari perang tarif Trump. Namun, dia juga melihat dinamika perebutan kekuatan mata uang untuk menjadi mata uang perdagangan dunia yang mungkin semakin cepat dengan adanya perang dagang yang dilancarkan AS.

“Kita memang harus lebih bijaksana terutama untuk investasi. Don't be lagging behind, jangan berada di belakang, kita harus selalu di depan. Dan kalau untuk selalu di depan kan kita agak-agak susah. Kira-kira apa? Ya ini ke fundamental saja. Kalau Anda misalkan tidak perlu amat bermain exchange rate, ya sudah aset-aset yang biasa saja tidak usah yang terlalu volatile,” kata Iman.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.