Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dorong Produktivitas, NTB Terapkan Sistem Klaster Pertanian Berdasarkan Potensi Desa

📅 Senin, 21 Apr 2025, 17:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Dorong Produktivitas, NTB Terapkan Sistem Klaster Pertanian Berdasarkan Potensi Desa Doc: ANTARA/Sugiharto Purnama
Ket. Sejumlah petani menanam padi pada sebuah lahan persawahan yang berada di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu (9/4/2025). 

MATARAM - Manfaat klasterisasi lahan pertanian cukup besar, terutama untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan usaha tani. Petani dalam satu klaster bisa menanam komoditas yang sama atau saling mendukung, sehingga lebih mudah mengatur jadwal tanam, panen, dan penggunaan alat pertanian bersama.

Dengan luas lahan yang terkoordinasi, petani bisa memperoleh keuntungan skala ekonomi, misalnya pembelian pupuk dalam jumlah besar jadi lebih murah, atau lebih mudah mengakses mesin pertanian modern. Lembaga keuangan lebih percaya untuk memberikan kredit atau asuransi ke kelompok petani yang tergabung dalam klaster karena risikonya lebih terukur dan terorganisasi.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiapkan lahan pertanian berbasis klaster sesuai dengan potensi yang dimiliki desa agar pengelolaan bisa lebih optimal dan meningkatkan produktivitas pertanian.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB Taufieq Hidayat mengatakan, lahan baku sawah di Nusa Tenggara Barat saat ini mengalami diversifikasi komoditas pertanian dari mulai tembakau, cabai, bawang, hingga jagung manis.

"Pengelompokan lahan pertanian untuk meningkatkan indeks pertanaman padi karena target yang diberikan pemerintah pusat besar, sedangkan lahan baku sawah tidak sepenuhnya ditanami padi," ujarnya di Mataram, Senin (21/4).

Taufieq mencontohkan budidaya tembakau di Nusa Tenggara Barat menghabiskan lahan baku sawah sekitar 39 ribu hektare. Tumbuhan dari genus Nicotiana itu dapat berumur enam bulan, sehingga menghabiskan dua kali musim tanam padi setiap tahun.

Menurutnya, bila dua kali musim tanam padi dilalui oleh budidaya tembakau membuat Nusa Tenggara Barat kehilangan potensi produksi padi dari luas lahan 78 ribu hektare atau setara 405 ribu ton gabah kering giling dengan asumsi produksi padi rata-rata sebanyak 5,2 ton per hektare.

"Luas baku sawah berkurang karena diversifikasi komoditas lain, sementara Pemerintah pusat menargetkan Nusa Tenggara Barat memproduksi banyak beras karena melihat lahan baku sawah, tapi tidak melihat performa di lapangan," katanya.

Lebih lanjut, dia menyampaikan, diversifikasi penanaman pada lahan baku sawah itulah yang membuat indeks penanaman (IP) padi di Nusa Tenggara Barat hanya mencapai 1,2 akibat lahan baku sawah tidak bisa ditanami padi sepanjang tahun.

Masyarakat selama ini melakukan diversifikasi komoditas berdasarkan pendekatan ekonomi dan lingkungan. Ketika musim kemarau, mereka menanam komoditas tembakau hingga bawang dan saat musim hujan baru ditanami padi.

"Kalau nanti luas bahan baku sawah memang lebih banyak dipakai untuk bawang, maka kami jadikan itu kawasan bawang," pungkas Taufieq.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Nusa Tenggara Barat menghasilkan gabah kering giling sebanyak 1,45 juta ton pada tahun 2024. Jumlah produksi padi tersebut mengalami penurunan sebesar 85,13 ribu ton atau setara 5,53 persen dibandingkan produksi padi di 2023 yang mencapai 1,54 juta ton gabah kering giling.

Penurunan angka produksi padi tersebut selaras dengan penurunan luas panen padi sebanyak 2,02 persen dari 287,51 ribu hektare pada 2023 menjadi 281,72 ribu hektare pada 2024.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

Hari Santri Nasional

34 menit yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

37 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...

KPK Berharap Nusron Wahid Kooperatif

59 menit yang lalu | Ones

Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

1 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.