RI-Tiongkok Perkuat Kerja Sama Investasi-Perdagangan Sektor Perikanan

Minggu, 20 Apr 2025, 15:15 WIB

JAKARTA – Perkembangan kerja sama perdagangan perikanan antara Indonesia dan Tiongkok menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kedua negara telah memperkuat kolaborasi di berbagai bidang, mulai dari penangkapan ikan, budidaya, hingga pengolahan dan ekspor produk perikanan.?

Pada November 2024, Indonesia dan Tiongkok menandatangani Technical Cooperation Guidelines (TCG) yang mencakup 12 bidang kerja sama, termasuk penangkapan ikan dan pengolahan hasil laut; pembangunan pelabuhan perikanan dan fasilitas darat; pertukaran data, pelatihan, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia; dan pemberantasan praktik penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (iuu fishing).

Ket. Foto: Suasana ajang China (Zhejiang) – Indonesia Trade and Investment Conference yang digelar di Jakarta. — Sumber: ANTARA/HO-Humas KKP

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong penguatan investasi dan perdagangan sektor perikanan dengan Tiongkok melalui partisipasi aktif dalam China (Zhejiang) – Indonesia Trade and Investment Conference yang digelar di Jakarta.

“Kami membuka ruang bagi investor untuk berkolaborasi dalam perikanan tangkap, budi daya, pengolahan hasil perikanan, dan penguatan logistik berkelanjutan," kata Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Tornanda Syaifullah dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (20/4).

Forum yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Zhejiang dan China Council for the Promotion of International Trade (CCPIT Zhejiang), bertujuan memperkuat hubungan ekonomi kedua negara dan membuka peluang investasi di sektor strategis, termasuk kelautan dan perikanan, manufaktur, logistik, dan energi terbarukan.

Tornanda mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menghadiri forum tersebut.

Komitmen pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif dan kompetitif diwujudkan melalui kemudahan perizinan, insentif, infrastruktur pendukung, dan sumber daya manusia (SDM) yang andal.

Kerja sama itu bagian dari upaya mewujudkan industri perikanan nasional yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing global, selaras dengan arah pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan.

Tren Positif

Dia mengatakan data KKP menunjukkan tren positif hubungan dagang perikanan Indonesia–Tiongkok. Pada 2024, ekspor produk perikanan Indonesia ke Tiongkok mencapai 1,24 miliar dolar AS.

Sementara impor hanya 96,7 juta dolar AS sehingga Indonesia mendapat surplus perdagangan produk perikanan sebesar 1,15 miliar dolar AS.

Komoditas ekspor utama Indonesia ke Tiongkok meliputi cumi-sotong-gurita (32,9 persen), rumput laut (18,6 persen), layur (7,9 persen), udang (7,5 persen), rajungan-kepiting (6,2 persen), dan lobster (3,6 persen).

Sementara impor dari Tiongkok didominasi pacific mackerel (Scomber japonicus) beku sebesar 52,2 persen, cumi-cumi (terutama jenis Todarodes pasificus dan Dosidigcus gigas) beku sebesar 9,6 persen, dan karaginan (6,0 persen).

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menggagas program ekonomi biru untuk meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia, dengan mengutamakan sistem produksi berkelanjutan.

Dalam mengimplementasikannya, KKP memperkuat sinergi dengan multi stakeholder di berbagai bidang dari mulai hulu hingga hilir sektor perikanan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.