Penjurusan SMA Tidak Relevan
Minggu, 20 Apr 2025, 23:26 WIBJAKARTA - Ketua Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri, menilai, penjurusan SMA sudah tidak relevan dengan perkembangan dunia keilmuan, dunia kerja, dan perubahan masyarakat global. Menurutnya, ilmu pengetahuan sudah bersifat multi dan interdisipliner.
"Penjurusan tiga kelompok itu rasanya agak jadul (obsolete), akan memilah kecerdasan anak secara absolut. Padahal tiap diri anak itu dapat punya potensi multi intelegensi, punya minat bakat yang bersifat lintas disiplin," ujar Iman, kepada Koran Jakarta, Minggu (20/4).
Dia menjelaskan, penjurusan SMA akan merugikan anak/siswa khususnya untuk kelas 11 SMA sekarang. Mereka akan ikut Tes Kemampuan Akademik (TKA) November 2025, yang mengambil rumpun campur IPA & IPS tidak sesuai dengan pilihannya.
"Sebenarnya, dengan adanya TKA penjurusan sudah tak relevan lagi secara otomatis. Sebab anak Kls XI misal ambil pilihan mapel dengan formula Kurikulum Merdeka hingga saat ini," jelasnya.
Sebagai informasi, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti mengatakan bahwa pengembalian Jurusan IPA/IPS/Bahasa untuk mendukung TKA. Meski TKA tidak menjadi penentu kelulusan, tapi tes tersebut akan diintegrasikan dalam penerimaan mahasiswa baru.
Iman mengungkapkan, TKA memiliki banyak dampak negatif. Menurutnya, siswa akan mengalami demotivasi dalam belajar, bahkan terjadi deligitimasi profesi guru dan proses pembelajaran.
"Karena anak hanya akan mementingkan mapel yang diujikan dalam TKA dan rapor tidak lagi berguna lagi. TKA akan menegasikan portofolio hasil prestasi non akademik dan akademik anak selama belajar," katanya.
Dia menyebut, TKA mengakibatkan siswa hanya mengejar kemampuan kognitif. Pembelajaran di sekolah akan kembali difokuskan pada target capaian nilai TKA untuk 5 mata pelajaran utama, sama persis dengan kondisi UN dulu.
"Dengan adanya TKA sebagai pengganti SNBP jalur prestasi, pembelajaran di sekolah akan diisi drilling target capaian nilai TKA untuk 5 mata pelajaran utama. Mata pelajaran seni budaya, olahraga, agama, Pancasila rasanya menjadi tak penting bagi anak," ucapnya.
Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah menilai penjurusan di tingkat SMA adalah hal yang logis dan wajar. Menurutnya, saat ini Indonesia berada dalam fase kebutuhan yang sangat besar dalam pembangunan, terutama dalam bidang teknologi.
Dia menyarankan, penjurusan di level pendidikan menengah harus diimbangi dengan penguatan pendidikan konseling di level pendidikan dasar (SD). Hal itu untuk membantu bagaimana membangun kepercayaan diri dan memetakan kemampuan belajar dasar para siswa.
âSelain itu, guru konseling itu juga membantu siswa untuk mampu memikirkan bagaimana karirnya ke depan itu, yang sudah diberikan informasi bimbingan sejak awal. Sehingga, di SMP mereka harus sudah melihat ke depan apa saja yang dilakukan dan apa saja yang mereka inginkan,â tuturnya.
- P2G
- Jurusan SMA
Redaktur: Sriyono
Penulis: Muhamad Ma'rup
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.