RI Tempuh Langkah Taktis Hadapi Ancaman Tarif Resiprokal, Impor Energi dari AS Dinaikkan

Kamis, 17 Apr 2025, 20:53 WIB

JAKARTA - Menyeimbangkan neraca perdagangan bilateral penting karena berpengaruh langsung terhadap stabilitas ekonomi, hubungan diplomatik, dan posisi tawar suatu negara. 

Jika suatu negara mengalami surplus perdagangan besar dengan negara lain, negara mitra bisa menganggapnya tidak adil. Ini dapat memicu tindakan proteksionis seperti tarif tinggi atau kuota impor. Menyeimbangkan neraca bisa mencegah konflik dagang.

Ket. Foto: Ilustrasi - Kilang gas. Selama ini sekitar 54 persen impor LPG RI berasal dari Amerika Serikat. — Sumber: Istimewa.

Perdagangan yang lebih seimbang mencerminkan kemitraan yang saling menguntungkan. Ini memperkuat hubungan bilateral secara keseluruhan, termasuk di bidang politik, pertahanan, dan kebudayaan.

Karenanya, pemerintah Indonesia berencana meningkatkan impor komoditas energi dari Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari strategi menyeimbangkan neraca perdagangan antara kedua negara.

Hal ini disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia seusai menghadiri rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (17/4).

“Kita rapat tadi dengan Bapak Presiden untuk memastikan komoditas apa saja yang akan kita tambah impornya dari Amerika Serikat, demi menciptakan keseimbangan dalam neraca perdagangan,” ujar Bahlil.

Menurut Bahlil, meskipun neraca dagang Indonesia secara resmi tercatat surplus sekitar 14,5 miliar dolar AS versi Badan Pusat Statistik (BPS) RI, namun pencatatan di AS justru menunjukkan angka yang melebihi itu.

Untuk itu, strategi pemerintah adalah melakukan impor LPG, minyak mentah (crude oil), dan BBM langsung dari AS dengan nilai di atas 10 miliar dolar AS.

Rencana tersebut mencakup peningkatan impor LPG dari AS dari 54 persen menjadi 65-80 persen, sementara impor crude oil yang saat ini di bawah 4 persen akan ditingkatkan menjadi lebih dari 40 persen.

Untuk BBM, pemerintah masih menunggu hasil pembahasan teknis dengan tim Kementerian ESDM dan Pertamina.

“Ini bukan penambahan kuota impor, tapi hanya mengalihkan sumber pembelian dari negara lain ke Amerika,” katanya.

Sebelumnya, impor energi Indonesia banyak berasal dari Timur Tengah, Afrika dan Asia Tenggara.

Bahlil menambahkan bahwa saat ini proses negosiasi terkait peningkatan impor sedang berlangsung di AS, dipimpin oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

Ia juga menyebut bahwa peningkatan impor energi dari Amerika ini diharapkan dapat memberi ruang negosiasi terhadap tarif perdagangan yang diberlakukan oleh Pemerintah AS.

“Kalau dengan harapan neraca perdagangan kita sudah seimbang, bahkan mungkin bisa surplus, katakanlah kalau itu terjadi, harapannya tarifnya diturunkan dong,” katanya.

  • Negosiasi Kebijakan Tarif Trump

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.