Pemerintah Usul Tambah Impor Migas AS Rp167 Triliun

Rabu, 16 Apr 2025, 01:00 WIB

Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengusulkan penambahan kuota impor minyak dan LPG (migas) dari Amerika Serikat (AS) senilai lebih dari 10 miliar dollar AS atau sekitar 67,73 triliun rupiah (kurs 16.773 rupiah per dollar AS).

“Kami dari ESDM mengusulkan agar kita mengimpor sebagian minyak dari Amerika dengan menambah kuota impor LPG yang angkanya kurang lebih di atas 10 miliar dollar AS,” ucap Bahlil ketika ditemui setelah pembukaan Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition 2025 di Jakarta, Selasa (15/4).

Ket. Foto: Bahlil Lahadalia Menteri ESDM - Tidak ada kaitannya mineral kritis dengan perang tarif ini. Bahwa kemudian ada komunikasi bilateral mereka butuh mineral kritis kita, kami terbuka. Kami sangat terbuka dan senang. — Sumber: istimewa

Seperti dikutip dari Antara, Bahlil meyakini bahwa dengan meningkatkan impor minyak dan LPG dari AS, neraca perdagangan antara AS dengan Indonesia dapat diseimbangkan.

Adapun yang menjadi alasan AS mengenakan Indonesia tarif resiprokal sebesar 32 persen, tutur Bahlil, adalah ketidakseimbangan neraca perdagangan antara kedua negara tersebut.

“Data BPS mengatakan surplus Indonesia 14,6 miliar dollar AS. Maunya Amerika seperti apa? Agar neraca perdagangan kita seimbang,” ucap Bahlil.

Oleh karena itu, Bahlil sekaligus menyampaikan tidak ada rencana pemerintah untuk melobi AS dengan mineral kritis. 

Yang menjadi permasalahan adalah keseimbangan neraca perdagangan, bukan masalah lain-lainnya. Akan tetapi, lanjut dia, apabila AS ingin membicarakan kerja sama mineral kritis dengan Indonesia, maka pemerintah terbuka untuk membahas hal tersebut.

“Tidak ada kaitannya mineral kritis dengan perang tarif ini. Bahwa kemudian ada komunikasi bilateral mereka butuh mineral kritis kita, kami terbuka. Kami sangat terbuka dan senang,” kata Bahlil.

Presiden AS Donald Trump pada 2 April 2025 mengumumkan kebijakan tarif resiprokal kepada sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Indonesia terkena tarif resiprokal 32 persen, sementara negara-negara Asean lainnya, Filipina 17 persen, Singapura 10 persen, Malaysia 24 persen, Kamboja 49 persen, Thailand 36 persen dan Vietnam 46 persen.

Akan tetapi, pada Rabu (9/4) sore waktu AS, Trump telah mengumumkan penundaan selama 90 hari atas tarif resiprokal ke berbagai negara mitra dagang, namun tetap menaikkan bea masuk kepada Tiongkok.

Negara yang rencananya dikenakan tarif resiprokal lebih tinggi hanya dikenakan tarif dasar sebesar 10 persen, yang mana untuk baja, aluminium, dan mobil akan sama.

Strategi Dagang

Lebih lanjut, Bahlil menyampaikan bahwa sektor energi Indonesia, khususnya energi hijau memiliki keunggulan kompetitif yang dapat dimanfaatkan untuk menembus pasar Eropa di tengah perang tarif.

“Indonesia punya keunggulan komparatif terhadap energi hijau, yang kemudian kita bisa penetrasi pasar di mana pun, Eropa, Amerika, di mana saja,” ucap Bahlil.

Bahlil menyebut Indonesia punya potensi energi baru dan terbarukan yang melimpah, mulai dari tenaga angin, matahari (surya), hingga air.

Khusus untuk tenaga air, Bahlil menilai ada potensi pengembangan PLTA sebesar 3.600 gigawatt (GW) atau sekitar 3,6 terawatt (TW). Jika berhasil, akan ada ratusan ribu lapangan kerja yang terserap dan Indonesia bisa mengantongi devisa hingga miliaran dollar AS.

"Kalau ini mampu kita lakukan, ini akan mampu menciptakan lapangan pekerjaan kurang lebih sekitar 300 ribu dan bisa mendatangkan devisa kurang lebih sekitar 70 miliar dollar AS," kata dia.

  • negosiasi tarif

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.