Efek Ramadan dan Lebaran, Penjualan Eceran Diprediksi Melonjak 8,3 Persen pada Maret
Rabu, 16 Apr 2025, 20:07 WIBJAKARTA â Indeks Penjualan Riil (IPR) berperan penting sebagai indikator dini kondisi ekonomi nasional, terutama dari sisi konsumsi rumah tangga. Selama ini, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) Indonesia, yakni lebih dari 50 persen.
IPR merupakan indikator yang sensitif, cepat berubah, dan sangat mencerminkan mood ekonomi masyarakat. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sering menjadikannya acuan untuk menyesuaikan kebijakan moneter (suku bunga, likuiditas); membuat program stimulus konsumsi; dan menilai efektivitas kebijakan subsidi atau bantuan sosial.
Bank Indonesia (BI) memperkirakan penjualan eceran pada Maret 2025 tumbuh 8,3 persen secara bulanan atau month to month (mtm), sebagaimana tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2025 yang diprakirakan mencapai 236,7.
Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang sebesar 3,3 persen mtm. Hal ini sejalan dengan kenaikan permintaan masyarakat saat Ramadhan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri serta strategi retailer yang memberikan potongan harga.
âMayoritas kelompok mengalami peningkatan penjualan, terutama kelompok peralatan informasi dan komunikasi; makanan, minuman dan tembakau; serta subkelompok sandang,â kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso di Jakarta, Rabu (16/4).
Secara rinci, kelompok peralatan informasi dan komunikasi diprakirakan tumbuh 7,9 persen mtm. Sedangkan kelompok makanan, minuman dan tembakau diprakirakan tumbuh 9,3 persen mtm serta subkelompok sandang diprakirakan tumbuh 17,6 persen mtm.
Namun secara tahunan atau year on year (yoy), IPR Maret 2025 diprakirakan hanya tumbuh sebesar 0,5 persen yoy, lebih rendah dari 2,0 persen yoy pada Februari 2025.
Secara tahunan, kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan kelompok suku cadang dan aksesori (6,4 persen yoy), barang budaya dan rekreasi (1,6 persen yoy), serta makanan, minuman dan tembakau (1,4 persen yoy).
Sebelumnya pada Februari 2025, realisasi IPR tercatat sebesar 218,5 atau secara tahunan tumbuh 2,0 persen yoy atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2025 sebesar 0,5 persen yoy.
Peningkatan IPR tersebut terutama didorong oleh kinerja positif pada kelompok barang budaya dan rekreasi (7,5 persen yoy), bahan bakar kendaraan bermotor (3,3 persen yoy), dan subkelompok sandang (4,9 persen yoy).
Secara bulanan, penjualan eceran pada Februari 2025 tumbuh sebesar 3,3 persen mtm atau lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatat kontraksi sebesar 4,7 persen mtm.
Peningkatan penjualan secara bulanan tersebut terutama ditopang oleh subkelompok sandang (4,6 persen mtm), kelompok makanan, minuman dan tembakau (4,2 persen), dan bahan bakar kendaraan bermotor (0,4 persen mtm), sejalan dengan kenaikan permintaan masyarakat menjelang Ramadan dan HBKN Idulfitri.
Di sisi harga, tekanan inflasi 3 bulan yang akan datang, yaitu pada Mei 2025, diprakirakan menurun. Sementara tekanan inflasi 6 bulan yang akan datang, yaitu pada Agustus 2025, diprakirakan relatif stabil.
Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Mei 2025 yang tercatat sebesar 148,3, lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 159,6. Sementara itu, IEH Agustus 2025 tercatat sebesar 155,5 atau relatif stabil dengan periode sebelumnya sebesar 155,4.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Indonesia-Prancis Perkuat Kerja Sama Maritim Lewat Dialog Bilateral di Bali
-
Ribuan Pendaki Padati Gunung Rinjani setelah Dibuka Kembali
-
Dukungan Terus Bertambah Kini Giliran Inggris Akui Negara Palestina
-
Google akan Buka Pusat Pengembangan AI di Jerman
-
190 Calon Kepala Sekolah Rakyat Bakal Jalani Wawancara Serentak pada Rabu Besok
-
Pemprov Papua Selatan Dorong Pengembangan Talenta Generasi Muda
-
Pemadam Kebakaran Memeriksa Para ASN Cianjur, Kok Pemadam?
Satlap Tri Cakti dan Satgas Gabungan Gagalkan Penyelundupan Bijih Timah Ilegal Senilai Rp1,8 Miliar.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.