Penghapusan Jurusan SMA Tidak Berjalan Baik
Minggu, 13 Apr 2025, 20:04 WIBJAKARTA - Praktisi pendidikan, Heriyanto, mengatakan penghapusan jurusan di SMA tidak sepenuhnya berjalan baik. Adapun penghapusan jurusan di SMA merupakan kebijakam Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbursitek), Nadiem Makarim, pada pemerintahan periode kedua Presiden RI, Joko Widodo.
"Terlalu dini di kelas XI awal, siswa harus menetapkan profesinya apa kelak," ujar Heriyanto, dalam keterangan resminya, Minggu (13/4).
Dia menjelaskan, dalam ketika jurusan SMA dihapus, ada beberapa mata pelajaran yang perlu diambil dan dilepaskan. Padahal mata pelajadan tersebut adalah mata pelajaran dasar yang sangat diperlukan.
âDengan contoh, jika siswa yang memilih kedokteran dapat melepaskan fisika, dan konsentrasi pada biologi dan kimia. Namun persoalan yang sering muncul adalah ketika pilihan profesi siswa bisa saja berubah di kelas XII menjadi teknik, sedangkan dalam 2 atau 3 semester sebelumnya, mereka tidak mempelajari fisika,â jelasnya.
Jenjang Pendidikan
Heriyanto mengungkapkan, ketika jurusan SMA dihapis, belum adanya sinkronisasi antara pendidikan SMA dengan perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN), pada tahun pertama mahasiswa baru harus lulus dalam perkuliahan bersama untuk mata pelajaran fisika, kimia, dan biologi walaupun jurusannya bukan teknik.
Dia melanjutkan, mata pelajaran tersebut, tetap diajarkan sebagai bekal di PTN nantinya, termasuk untuk pilihan IPS. Karena apabila siswa yang memiliki cita-cita menjadi akuntan dapat melepaskan geografi atau sosiologinya.
"Namun apabila berubah menjadi ahli hukum diberikan syarat kedua pelajaran tersebut akan dipelajari saat di perguruan tinggi,â katanya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengatakan, kebijakan mengadakan lagi jurusan SMA selaras dengan program Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai pengganti Ujian Nasional yang akan mewajibkan tes Bahasa Indonesia dan Matematika. Selain itu, kata dia, murid yang memilih jurusan IPA dan IPS akan dipersilahkan untuk memilih satu mata pelajaran dalam rumpun ilmu jurusan mereka untuk diujikan dalam TKA.
"Sehingga dengan cara seperti itu, maka kemampuan akademik seseorang akan menjadi landasan ketika akan melanjutkan ke perguruan tinggi ke jurusan tertentu itu bisa dilihat dari nilai kemampuan akademiknya," ucapnya.
Dalam beberapa tahun terakhir dirinya mendapatkan masukan dari Forum Rektor Indonesia (FRI) dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI). Perguruan Tinggi merasa banyak mahasiswa baru yang diterima di program studi yang tidak sesuai dengan kemampuan akademiknya selama di SMA.
"Ada mahasiswa yang dia itu IPS tetapi diterima di fakultas kedokteran. Wah itu bisa jadi jebluk dia selama kuliah," tururnya.
- Abdul Mu'ti
- Mendikdasmen
- Kemendikdasmen
- Jurusan SMA
Redaktur: Sriyono
Penulis: Muhamad Ma'rup
Berita Terkait:
-
BMKG Prakirakan Hujan Petir di Sejumlah Kota Indonesia pada Rabu
-
Setelah Blokade, AS Kembali Membuka Selat Hormuz Secara Permanen
-
Chuck “All American” Norris Meninggal di Usia 86
-
Kemendikdasmen Luruskan Misinformasi Terkait Guru Non-ASN Diberhentikan 2027
-
Harga Gas Eropa Melonjak Naik 70 Persen Pasca Konflik Timur Tengah
-
Dukung Program Pemerintah Hemat Energi, Pertamina Berangkatkan Ribuan Pemudik
-
Mapolda DIY Disiapkan Jadi Pusat Keamanan Terpadu Berbasis Teknologi dan Kolaborasi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.